Oleh: Jevandy Purba*

Dunia kampus memang selalu unik untuk dibicarakan. Seunik si cantik Maudy Ayunda yang ternyata mengagumi pemikiran Karl Marx. Konon sih, di situlah tempat berkumpulnya tunas-tunas bangsa. Atau dalam istilah yang lebih mentereng, kaum muda. Bila kurang, masih ada satu lagi: kaum intelek. Sudah maha, tunas bangsa, muda, intelek lagi. Aih, ngeri sekali. Lengkap sudah dunia yang satu ini. Maka tak heran bila Bapak Republik pernah mengatakan, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki seorang pemuda”.

Sebagai mahasiswi, aku paham sekali bagaimana kata-kata sakti sang Bapak Republik tadi cuma kosmetik. Yaa, seperti lipstik yang acap kali kupoles ke bibirku ini, yang ampuh memikat mata lelaki. Walau berlumur kepalsuan, toh aku tetap memulasnya juga. Sebagaimana perempuan lain yang terpaksa tampil cantik, harus cantik, dan tak bisa tampil apa adanya.

Tapi kan para mahasiswa itu bukan bibir perempuan. Apa mereka mau disamakan dengan bibir kami, yang harus pasrah dilapisi bahan kimia? Huh.

***

Di suatu sudut di Universitas Internasional, bergerombol manusia sedang menikmati teduhnya kantin yang dilindungi sinar matahari siang. Tak ayal ada banyak cerita. Mulai dari yang asyik sampai yang sok serius beradu menimbulkan suara berisik. Kepulan asap rokok, yang saking tebalnya dapat membuat make-up Syahrini luntur berantakan, menambah pekat suasana itu.

“Sudah kubilang apa, Barca belum ada apa-apanya sama Madrid, lae. Belum sangguplah. Nggak kau lihat golnya si Ronaldo itu? Beuhhhhh, sadisss ces!” canda Patentengan kepada sahabatnya yang sedari tadi tampak tak bergairah.

“Ah, karena nasibnya itu, ces. Bukan karena jago,” timpal balik Pamalohon yang hendak menghibur diri sebab tim kesayangannya kalah.

“Sukamulah mau bilang apa. Intinya cuma satu, pesanlah kopi sama makananku ke Bunda sana. Sudah lama lambungku nggak merasakan kemenangan dari Madrid.”

“Iya, tenang saja. Kupesan pun!” jawab Pamalohon sambil berlalu memesan makanan dan kopi. Patentengan hanya duduk manis menunggu kemenangan taruhannya.

Di meja lain ada perdebatan yang tak kalah seru.

“Tidak bisa! Sukarno yang paling bersalah. Dia penyebab ini semua, bung!” ucap Oto.

“Kok Sukarno pula? Yang tak pernahnya kau baca bukunya Om Ben Anderson?” balas Longor.

“Mau Om Ben kek, mau Om Telolet kek, intinya dia yang salah. Titit! Eh, titik.”

“Inilah kan. Sok tegas tapi ngomong saja salah. Sok! Atas dasar apa kau bilang itu coba?” Longor tampak tak terima idolanya disalahkan.

“Berdasar, bos! Akibat diwujudkan dialah konsep Nasakom itu makanya saling mengkontradiksi orang itu. Tahu kau kontradiksi, hah? Tabrak-tabrakan!” cuap Oto sambil memain-mainkan mimik mukanya yang tak tampan, demi meyakinkan lawan debat.

“Makin sok tahu lagi, kan?!! Kontradiksi itu saling bertentangan! Bukan tabrak-tabrakan. Kau urus dulu adikmu ini, Ngir,” Longor mengalihkan pada Tungir yang sedari tadi hanya tertawa cekikikan.

“Tahu kau, Ngor, apa yang dimaksud Nasakomnya si Oto itu?”

“Nasionalisme, Agamisme, dan Komunisme, lah. Masa awak Anak Sukarno nggak tahu,” balas Oto sombong.

Secepat kilat, Tungir menjawab, “bukan. Nasakom itu maksudnya. . . Nilai. . . Satu. . . Koma. . . Ha ha ha!”

“Bah, awak serius mendengar, tapi kawan ini malah mendukung pembodohan ini,” sanggah Longor kesal.

“Ha ha ha. . .bukan begitu, kawan. Ini lebih kepada aku mengasih tau kalau kita tiga inilah yang menjadi Nasakom itu sendiri. Iyalah. SKS yang kita ambil saja nggak pernah lebih dari delapan belas kecuali waktu semester satu,” seloroh Tungir sembari membakar rokok yang sejak tadi hanya ia mainkan di tangannya.

“Iya juga, sih. Tapi nilai satu koma yaa sudah jagolah itu! Yang penting kan bukaan hasil curian, kawan! Ha ha ha!” bela Longor.

Pembicaraan terhenti kala sesosok gadis yang sejak tadi mondar mandir di Universitas Internasional mampir untuk menawarkan produk. Ketiga perjaka karatan menyambut baik anugerah tak terduga dari perdebatan Nasakom itu.

Di selatan meja perjaka Nasakom, terdapat pembicaraan berbeda. Obrolan suci yang dilakukan ketua organisasi mahasiswa Katolik. Pasangan bicaranya adalah mahasiswi baru yang, hmmm, lumayan cantik.

“Keren. Tadi ceramah Abang bagus kali. Kayaknya kajian Alkitab Abang mendalam sekali ya?” tutur Kristin.

“Ah, kamu ini bisa saja. Itu semua karena campur tangan-Nya ke diri abang, Tin. Kalau tanpa-Nya mana bisa abang jadi kayak sekarang,” jawab Gabus dengan memampangkan muka sok berwibawa. Dadanya semakin dibusungkan pula.

“Iya ya Bang. Oh, iya Bang, aku boleh tanya?”

“Apa itu? Jangan pertanyaan matematika, ya,” jawab Gabus sambil bercanda.

“Enggaklah, Bang, he he. Abang menerima komuni pertama umur berapa?”

Seketika muka Gabus memerah. Tak tahu mau berkata jujur atau tidak.

“Ohhhhhhhh. . . Empat belas. Eh, lima belas, ding. Hmmm. Tiga belas yang betul,” jawab Gabus terbata-bata.

“Yang mana yang betul ini, Bang? Nanti bisa berubah jadi sembilan?” celetuk Kristin yang mulai ragu. Dari raut mukanya, kita bisa mengetahui bahwa Kristin terganggu dengan kegenitan sang ketua.

“Kayaknya ya, ha ha ha!” jawab Gabus sembari menyeruput kopi. “Jadi begini. Bukan masalah umurnya seseorang saat menerima komuni pertama. Entah tiga belas, empat belas, atau delapan puluh tahun sekali pun tidak menentukan iman Katolik seseorang, Tin. Bukan itu.” Gabus, yang terbiasa memikat adik-adik kelas, merasa tak mau kehilangan kharisma.

“Lalu apa dong, bang?” balas Kristin mencoba mencerna kata-kata seniornya.

Sambil mengeluarkan ponsel dari kantong celana, Gabus menggurui lagi. Ia mencontek dari layar ponselnya demi menjaga keutuhan wibawa dan sandiwaranya.

“Kamu perlu tahu apa yang kamu percaya. Kamu perlu mengetahui imanmu dengan ketepatan yang sama seperti spesialis IT mengetahui kerja bagian dalam sebuah komputer. Kamu perlu memahaminya seperti musisi yang baik yang mengetahui karya musik yang ia mainkan. Ya, kamu perlu diakarkan secara lebih mendalam mengenai iman daripada generasi orangtuamu, agar kamu bisa menghadapi tantangan dan godaan zaman sekarang. Kamu membutuhkan pertolongan Allah, agar imanmu tidak kering seperti tetesan embun di hadapan matahari; agar kamu tidak menyerah terhadap konsumerisme; agar cintamu tidak tenggelam dalam pornografi; agar kamu tidak mengkhianati orang lemah dan meninggalkan orang tak berdaya. Itu kata Sri Paus Benediktus XVI. Nggak sembarang omong aku, Dik. Pahami. Itu yang selalu kupegang teguh.”

“Oh, ternyata bukan umur dan jubah yang menentukan keimanan seseorang, ya Bang?”

“Nahhh, itu dia! Tambah cantikmu lima level, Dik!” Mereka pun tertawa berbarengan.

“Jadi sebenarnya, kalau boleh jujur, Abang itu komuni pertama usia berapa?”Kristin ingin penasarannya dituntaskan.

“Belum komuni pertama,Tin, sampai saat ini. Ha ha ha!”

Tak berapa lama pembicaraan beralih.

“Selamat siang, Mas. Merokok nggak? Kalau merokok aku mau nawarin rokok jualan aku, nih,” potong SPG yang sedari tadi digombali habis-habisan oleh para pemuda Nasakom yang tak membeli tawarannya.

Mata Gabus langsung jelalatan melihat segumpal daging segar yang menyambar pandangannya. Ia lantas membalas genit, “Sini duduk-duduk dulu, Mbak. Biar ngobrolnya asyik. Mana tahu saya tertarik membelinya.”

Kristin, yang merasa muak dan tak percaya dengan perilaku si Mulut Besar ini hendak pergi. Sebelum pergi Gabus menahan dengan mengucapkan, “Tin, mau ke mana? Kau nggak marah sama Abang, kan, Tin? Besok jadi ketemu, ya!”

Kristin tidak merespons, bahkan menoleh pun tidak. Kristin pergi sambil meninggalkan dongkol yang mendalam di meja yang penuh dengn kemunafikan. Bagaimana tidak dongkol? Yang dia tahu dari orangtuanya, komuni pertama dalam Katolik adalah sakramen yang menjadi penanda seseorang untuk siap menerima tubuh Kristus, yang disimbolkan melalui roti dan anggur. Sakramen ini adalah simbol bagi yang menerima untuk menanggung dosa sendiri. Selama dia belum menerima ‘tubuh’ dan ‘darah’ Kristus, dosa-dosanya masih ditanggung oleh orangtuanya. Dan Gabus, yang telah melewati usia akil baligh, tidak termasuk dalam hal ini. Kasihan sekali orangtuanya.

***

Itulah dunia kampus yang disesaki manusia-manusia unik. Ada yang merasa pintar, ada yang sok mengobrolkan politik, ada yang apatis, ada yang lucu, tak jarang banyak yang tolol. Ada pula yang munafik dalam menunjukkan dirinya. Seperti Gabus yang menutupi identitas kehewananannya di balik topeng sucinya.

Aku, sih, maklum. Bukankah dunia ini panggung sandiwara? Seketus apapun pendapatku mengenai kisah ini, terkadang aku masih bisa memaklumi. Yang menggelisahkanku, kebobrokan mereka akan terbawa di kisah-kisah yang lain, di arena kehidupan lain, yang sialnya menyangkut urusan orang banyak. Duh, seringkali aku mengelus dada, melihat jubah yang dipakai para politisi, pemuka agama, ahli hukum, yang pandai bermain peran dan melacurkan kewenangan.

Aku tidak terlalu heran jika para pemuda yang seyogianya memegang tonggak perubahan tak lagi bisa ngaceng dan marah menghadapi kenyataan sosial saat ini. Di utara, selatan, barat dan timur, kehidupan sudah disesaki keegoisan.

Kutinggalkan universitas tersebut. Meski cuma mampu menjual tiga bungkus rokok, kupetik segepok pelajaran dari kunjunganku di sana. Dengan matanya mereka merasa telah menelanjangiku, walau hanya bermodal rayuan dan lelucon hambar. Mereka tidak sadar, merekalah yang sesungguhnya kutelanjangi. Oleh karena tak memiliki biaya, aku harus menjalani profesi ini. Tak seperti mereka, pendidikan kutempuh dengan keringat dan darahku sendiri. ♦

* Mahasiswa rantau penyuka sosok Bung Karno, yang bercita-cita mewariskan ajaran beliau agar tak terputus digilas barbarnya zaman. Dapat diajak ngopi-ngopi di Line: jevandy973 atau Facebook: Jevandy Purba

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.