Mungkin semua orang membutuhkan perselingkuhan untuk lebih menghargai sebuah hubungan. . .

Kalimat itu terus terngiang di kepala Rama. Kalimat yang sukses membuatnya terus terjaga selama beberapa minggu ke depan. Kalimat yang membuatnya tidak dapat merasakan nikmatnya tidur selepas bekerja. Kalimat yang selalu menghantuinya di kala hujan turun.

Rama bangkit dari ranjang. Dia mengambil sebatang rokok yang tergeletak pasrah di meja bundar kecil di sebelah ranjang, lalu menyulutnya. Tadinya Rama hanya merokok dalam keadaan-keadaan tertentu saja, seperti ketika menulis, merevisi tulisan, atau saat sedang berkumpul bersama teman-temannya. Namun kalimat itu membuatnya menjadi seseorang yang minimal menghabiskan dua bungkus rokok setiap hari di waktu seperti apapun. Kalimat itu juga membuatnya menjadi alkoholik, yang untungnya tidak berlanjut sampai malam ini. Sebuah kalimat, pada momen-momen tertentu, dapat berubah menjadi pisau tajam yang mematikan. Karena pisau mematikan itu bukanlah pisau yang dapat membunuh, tapi pisau yang dapat menimbulkan bekas luka tak terobati hingga akhir hayat.

Dari jendela kamar, Rama melihat rinai hujan turun membasahi jalanan. Sambil menghembuskan asap nikotin ke udara, Rama berharap kalau hujan malam ini bisa melenyapkan gema dari kalimat yang terus mengusiknya tersebut.

Namun, Rama tahu, kalau harapannya tak akan terkabul. Malah justru sebaliknya.

Dia tahu jika dia tidak akan pernah bisa melupakan kalimat itu sampai kapanpun di kala hujan turun.

***

Dua bulan yang lalu.

 “M“Minggu depan aku menikah,” ujar Sinta.

Perkataan Sinta akan terdengar sangat normal jika Sinta mengungkapkannya pada seorang  teman dengan nada suka cita di sebuah kafe atau tempat-tempat mengobrol pada umumnya. Tapi di telinga Rama, perkataan itu terdengar pilu dan juga konyol. Karena perkataan itu, Sinta embuskan padanya, seorang pria yang sudah dua bulan ini menikmati tubuhnya setiap malam di kala hujan. Apalagi nada suara Sinta itu terdengar datar. Tidak ada kebahagiaan terkandung di ekspresi wajah, gestur tubuh, maupun nada perkataanya.

Rama yang saat itu sedang mengenakan kemeja biru polosnya lantas terdiam. “Don’t Know Why” dari Norah Jones lamat-lamat terdengar dari radio.

Rama adalah seorang penulis di sebuah majalah film. Usianya baru menginjak 23 tahun. Sedangkan Sinta adalah seorang editor majalah kecantikan. Usianya 26 tahun. Keduanya pertama kali berjumpa di sebuah pemutaran film klasik karya sutradara Blake Edwards yang diadaptasi dari novel Truman Capote berjudul Breakfast At Tiffany’s. Saat itu Rama ditugaskan untuk meliput acara dan menulis artikel tentang pemutaran film tersebut, sedangkan Sinta ditugaskan untuk menulis artikel tentang mode pakaian dan aksesoris yang dikenakan Audrey Hepburn di dalam filmnya, serta pengaruh Audrey Hepburn sebagai artis ikonik di tahun ‘60an. Dari tegur sapa,  obrolan ringan di kedai kopi, hubungan mereka akhirnya berlanjut di atas ranjang. Pada saat itu Sinta sudah memiliki tunangan, yang mana adalah atasannya di kantor majalahnya. Begitu juga dengan Rama yang sudah memiliki kekasih seorang mahasiswi jurusan seni rupa. Tapi hubungan keduanya sudah tidak bisa dibendung. Perselingkuhan pun terjadi secara alamiah bak debur ombak di pinggir pantai.

“Kenapa kau melakukan semua ini, Sinta?” tanya Rama pada akhirnya. Dari jendela kamar, Rama melihat kilatan petir. Sudah tiga jam hujan tak bosan-bosan turun membasahi bumi bagian Jakarta Selatan.

Sinta tersenyum sinis mendengar pertanyaan Rama. Dia sadar kalau memang dia pemicu utama dalam perselingkuhan ini. Dialah yang pertama kali membimbing Rama untuk mengundangnya ke kamar apartemennya. Dia juga yang pertama kali memaksa Rama untuk membuka pakaiannya. Dan dialah yang pertama kali memberi syarat untuk bertemu dan bercinta di malam hari hanya pada saat hujan turun. Entah apa yang perempuan itu pikirkan. Yang pasti Rama tidak kuasa menolak titah Sinta. Yang Rama tahu, dia akan menyesal jika menolak ajakan bercinta dari seorang perempuan cantik. Rama tidak memikirkan resiko dan konsekuensi atas apa yang akan terjadi nantinya. Rama bukanlah seorang hipokrit.Dia memang ingin sekali menikmati tubuh Sinta sepuasnya selagi ada kesempatan. Walau di dalam hati kecilnya, Rama tahu kalau perbuatannya ini sudah menyakiti dua orang.

“Jangan munafik, Rama. Kau juga menginginkan ini, kan? Aku bisa melihatnya di awal pertemuan kita. Mata tidak akan bisa menipu, Rama. Aku bisa melihat dari bagaimana caramu melihatku saat itu,” jawab Sinta dingin. Dia menyibak selimut, lalu menyulut rokok. Setelah itu, dia bangkit dari ranjang. Masih dalam keadaan telanjang, Sinta melangkah menuju jendela kamar  apartemen Rama yang terletak di lantai 6 untuk menatap hujan, membelakangi Rama yang masih menatapnya penuh tanda tanya.

“Aku tidak munafik. Aku hanya bertanya, dan kau tidak menjawab pertanyaanku.”

Sinta membalikkan tubuhnya. Dia menatap Rama tajam dengan sikap menantang. Rama menelan ludah melihat keseksian tubuh Sinta. Sudah berkali-kali dia menikmati tubuh itu, dan dia tidak pernah merasa bosan. Bau tubuh, parfum dan keringat perempuan itu pun masih menempel di tubuhnya. Rama berusaha untuk tetap tenang dan menahan berahinya.

“Aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu. Kau ini penulis, Rama.Tanyakan sesuatu yang lebih spesifik. Aku tidak butuh ambiguitas. Dan jangan membuatku mendengarkan pertanyaan-pertanyaan retorik,” kata Sinta datar.

“Kau memang pandai membuat orang lain jengkel. Aku heran kenapa tunanganmu itu bisa tahan denganmu,” balas Rama. Dia mengancingkan kemejanya dengan terburu-buru. Gusar mendengar nada bicara Sinta yang menyebalkan.

Sinta terbahak mendengarkan perkataan Rama.

“Hahaha. Jangan konyol. Kita berdua sama-sama tahu kalau semua pria menikah semata-mata hanya untuk memuaskan keegoisan mereka saja. Mereka ingin kendali penuh! Mereka ingin mengekang dan membatasi kaum perempuan! Semuanya itu hanya demi citra diri saja, Rama! Persetan dengan norma dan tradisi! Persetan dengan keturunan! Mereka bisa memiliki keturunan sebanyak mungkin tanpa harus menikah. Bukan begitu? Mereka hanya ingin pujian! Dengan memiliki aku yang cantik dan pintar, pria bajingan itu akan semakin jemawa di atas singgasananya. Kau ingin bertanya kenapa aku berselingkuh? Sekarang aku yang bertanya padamu. Apa itu konsep perselingkuhan? Apa bercinta dengan orang lain saat kita mempunyai pasangan yang belum sah kita nikahi termasuk sebuah perselingkuhan? Kau mau bicara tentang kesetiaan? Jangan membuatku tertawa. Kesetiaan itu dibangun dari rasa terpaksa. Pada akhirnya, kesetiaan akan menyiksamu.”

“Kau masih mabuk,” ujar Rama pelan.

“Masa bodoh!”

“Tapi kau telah mengkhianati tunanganmu. Kau telah menyakiti seseorang. Kita telah menyakiti pasangan kita masing-masing.”

“Tidak ada pihak yang tersakiti di sini, Rama, selama mereka tidak mengetahuinya. Bukankah kita sudah cukup cerdas menyembunyikan semua ini? Ayolah, Rama. Ada apa denganmu malam ini? Kenapa tiba-tiba kau menjadi seperti pengecut? Memangnya kau tidak bosan berhubungan dengan satu orang saja di hidupmu yang singkat ini? Aku tahu kau bosan. Aku tahu kau selalu ingin bercinta dengan banyak perempuan. Dan jangan coba bicara tentang cinta. Kita berdua sama-sama tidak memercayainya, kan?” Sinta mengambil sebotol bir, lalu meminumnya beberapa tegukan. “Lagi pula, mungkin semua orang membutuhkan perselingkuhan untuk lebih menghargai sebuah hubungan.”

“Jikalau itu yang kau pikirkan, kenapa kau tetap menikah dengannya?”

Sinta menggeleng pelan, dia tersenyum. Matanya menerawang. “Aku tidak tahu. Lagi pula, semuanya sudah terlambat. Aku sudah tidak bisa mundur.”

“Belum terlambat. Kau masih bisa mengubahnya. Kau bisa memilih jalan hidup yang kau mau, Sinta.”

Sinta terdiam. Dia tampak merenungi sesuatu.

Rama menyulut rokok, lalu menenggak sedikit bir yang masih tersisa di atas meja kerjanya.“ Aku tidak bisa bilang apa yang kita lakukan ini benar atau salah sementara aku berada di dalamnya. Aku tidak tahu mana yang putih dan hitam sementara yang kulihat hanyalah abu-abu. Tapi kita tidak bisa melakukan ini selamanya, kan? Dan semua ucapanmu barusan seolah menegaskan kalau kita memang harus berhenti melakukan ini.”

“Aku tidak menegaskan apa-apa. Aku hanya bilang kalau minggu depan aku menikah. Itu saja.”

Rama tidak membalas perkataan Sinta. Dia terduduk di tepi ranjang sambil mengisap rokoknya dalam-dalam, balas membelakangi Sinta. Sinta menatap punggung Rama dengan tatapan sendu. Itu pun hanya beberapa detik sebelum akhirnya Sinta mengambil selembar kaos tipis yang tersampir di atas meja, lalu memakainya. Kemudian dia kembali menatap punggung Rama. Tapi pemuda itu tidak juga membalikkan tubuhnya. Sinta menghela napas, lalu kembali menatap hujan dalam diam. Kini keduanya sama-sama memunggungi satu sama lain. Tidak ada yang memulai pembicaraan lagi sampai akhirnya hujan berhenti dan Sinta pamit untuk pulang.

“Aku dengar lusa akan turun hujan lagi. Semoga ramalan cuaca itu benar ya, dan kita akan bertemu lagi,” bisik Sinta pelan sebelum dia pergi meninggalkan kamar apartemen Rama.

Namun Sinta tidak pernah datang kembali. Rama merasa lega karenanya. Dia berpikir bahwa Sinta akhirnya mengerti kalau mereka berdua memang harus berhenti.Waktu-waktu yang Rama lalui tanpa Sinta kini dia nikmati bersama kekasihnya.

Beberapa hari kemudian, sebuah pesan dari Sinta datang. Pesan itu berisi undangan ihwal pernikahan dengan tunangannya.

Aku harus datang. Dengan kedatanganku, nantinya dia akan mengerti kalau aku ingin hubungan ini berakhir. Aku akan mengajak kekasihku dan tersenyum di depannya agar dia tahu kalau aku sudah bahagia dengan kekasihku, batin Rama saat membaca undangan itu.

Pernikahan Sinta diselenggarakan secara besar-besaran. Semua keluarga dan kerabat dari kedua belah pihak tidak ada yang tidak hadir. Pernikahan termegah dan termewah yang pernah Rama datangi seuumur hidupnya.

Ketika menyalami kedua mempelai itu, Rama tersenyum kecut. Betapa kasihannya pria malang yang menjadi suami si Sinta ini. Dia tidak tahu apa yang diperbuat istrinya di belakangnya. Aku memang menikmati bercinta dengan Sinta, dan aku pula yang membantunya mewujudkan perselingkuhan itu di saat sebenarnya aku bisa menolak. Jadi yang bisa kulakukan sekarang hanyalah melupakan semua kejadian itu, lalu mendoakan Sinta dan suaminya. Tapi aku yakin, kehidupan rumah tangga mereka tidak akan berjalan seharmonis seperti yang orang-orang pikir, pikir Rama

Dugaan Rama menjadi kenyataan. Dua minggu kemudian, Sinta menangkap basah suaminya yang sedang asyik bercumbu dengan penuh nafsunya bersama dua perempuan rekan sekantornya yang mana adalah teman-teman dekat Sinta. Kejadian itu terjadi di rumah mereka sendiri. Beberapa hari pasca kejadian itu, kala hujan turun dengan deras, Sinta menghilang dari rumah. Dia tidak ditemukan di mana pun, termasuk di rumah kerabat atau rumah orang tuanya. Polisi, detektif bahkan dukun sekalipun dikerahkan untuk mencari Sinta, tapi Sinta tidak juga ditemukan. Polisi sempat mencurigai suami Sinta sebagai tersangka pembunuhan. Karena menurut kesaksian dua orang asisten rumah tangga mereka, beberapa hari sebelum Sinta menghilang, mereka berdua sempat mendengar adanya pertengkaran hebat antara Sinta dan suaminya. Tapi mereka tidak melihat adanya kekerasan dari keduanya. Setelah dilakukan serangkaian interogasi dan penyelidikan yang cukup melelahkan, suami Sinta akhirnya lolos dari dugaan tersangka. Polisi menetapkannya sebagai saksi. Sayangnya, dia tidak bisa memberikan informasi penting terkait hilangnya Sinta.

Para penyelidik di kepolisian juga sudah memeriksa data penerbangan atau pelayaran, namun mereka tidak menemukan Sinta terdaftar sebagai penumpang. Tidak adanya saksi mata dan bukti-bukti yang kuat tentang hilangnya Sinta membuat para penyelidik angkat tangan. Mereka hanya bisa menduga bahwa Sinta pergi ke suatu tempat dan sudah merencanakan kepergiannya itu dengan rapi dan terperinci dari jauh-jauh hari agar semua orang tidak dapat melacak jejaknya.

Kasus ini menjadi heboh di masyarakat. Orang-orang mulai ramai menebak-nebak dan memprediksi tentang ’lenyapnya’ Sinta. Ada yang mengira Sinta dimutilasi oleh suaminya karena dia memergoki suaminya yang selingkuh. Ada juga yang mengira kalau Sinta adalah anggota dari suatu jaringan teroris, bahkan ada juga yang mengira kalau Sinta seorang mata-mata. Rama hanya bisa tertawa getir mendengar semua itu. Rama memang tidak tahu ke mana Sinta pergi. Dia juga terkejut dengan hilangnya Sinta, tapi dia sangat mengerti alasan kepergian Sinta.

Di mana pun kau berada sekarang, akhirnya kau berhasil melakukan apa yang kau mau. Kau memang tidak bisa mundur, tapi kau selalu bisa maju, Sinta. Aku harap kau dapat selalu bahagia di manapun kau berada, pikir Rama.

Terakhir Rama mendengar kabar bahwa suami Sinta mengalami depresi berat. Dia dipecat dari kantor dan menjadi pemabuk di bar-bar terdekat, sampai pada suatu hari mayatnya ditemukan mengambang di sungai dengan sebotol minuman keras tergenggam di tangan kanannya.

***

Rama menutup jendela kamar, lalu mengenakan pakaiannya kembali. Kemudian dia mengecup lembut lengan seorang gadis yang masih terbaring lemas dengan tubuh telanjang di atas ranjang. Gadis itu terbangun, lalu tersenyum lemah.

“Dewi, hujan sudah berhenti. Aku harus segera pulang.Aku ada janji untuk membantu kekasihku mengerjakan proyek seninya,” kata Rama pelan.

Gadis itu mengangguk.

“Kapan kita bisa bertemu lagi?” tanya Dewi ketika Rama akan membuka pintu kamarnya.

Rama terdiam. Dia berdiri mematung

“Rama, kau tidak apa-apa? Kau mendengar pertanyaanku, kan? Apa kita akan bertemu lagi kala hujan turun seperti yang kau janjikan?”

Rama tidak menjawab. Dia hanya berdiri di sana sampai langit bergemuruh, dan hujan kembali turun. ♦

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts