Oleh: Ricky P. Rikardi*

Julian pernah bercita-cita untuk mati di usia 27. Ia akan menembak kepalanya sendiri dengan sebuah senapan. Tetapi sebelum itu, ia akan membikin band, menulis lagu-lagu tentang betapa membosankannya hidup, menjadi terkenal, baru kemudian bunuh diri. Sebab sia-sia saja kau bunuh diri jika dirimu bukan siapa-siapa. Kematianmu mungkin hanya akan menghiasi sedikit halaman di pojok berita kriminal sebuah surat kabar. Esok hari berita kematianmu sudah tidak ada. Seminggu kemudian kau sudah dilupakan semua orang.

Jika ia tidak memiliki senapan mungkin ia akan menggantung dirinya sendiri di pohon rambutan belakang rumah atau meloncat dari gedung setinggi 69 lantai. Yang penting ia mati di usia 27. Tetapi sebisa mungkin ia harus mendapatkan pistol atau senapan jenis apa pun yang bisa membikin kepalanya meledak. Dan ia harus terkenal terlebih dahulu. Supaya kematiannya mirip Kurt Cobain, tentu saja.

Waktu itu Julian masih seorang bocah remaja yang sedang gandrung-gandrungnya bermain musik. Maklum, ia baru saja bisa bermain gitar, meskipun kord gitar yang dikuasainya hanya sebatas E minor lalu ke C lalu ke G dan terakhir ke D.

Aceng Fikri yang mengajarinya. Ia ingat betul bocah kurus itu. Aceng Fikri masih adik kelasnya di SMA tetapi kemampuan bermain gitarnya bisa membikin Julian iri setengah mampus. Konon, Aceng Fikri lahir di tanggal yang sama saat Jimi Hendrix tersedak muntahannya sendiri lalu mati kehabisan napas. Orang-orang percaya arwah Jimi Hendrix menitis kepada Aceng Fikri. Karena itu, tanpa belajar dari siapa pun Aceng Fikri bisa langsung memainkan gitar saat pertama kali memegangnya.

Yang paling melegenda tentu kisahnya saat memarahi seorang pengamen.

Alkisah, seorang pengamen mengamen di depan rumah Aceng Fikri. Kebetulan saat itu Aceng Fikri sedang duduk-duduk santai di teras rumahnya. 10 detik setelah si pengamen mulai bernyanyi, Aceng Fikri tiba-tiba saja bangkit dari duduknya lalu menghampiri si pengamen. Tanpa bicara sepatah kata pun Aceng Fikri langsung merebut gitar dari tangan si pengamen, menyetem ulang, lalu mengembalikannya.

“Bung, berani-beraninya kamu ngamen dengan gitar fals kayak gitu!” katanya setelah ia mengembalikan gitar milik si pengamen.

Si pengamen bengong seperti ikan mujair dan Aceng Fikri menjadi legenda sesudahnya.

“Jarimu ketuker tuh, jari tengah di senar dua, jari manis di senar tiga.” kata Aceng Fikri sewaktu mengajari Julian kord B minor di sebuah pos ronda di perempatan jalan. Aceng Fikri mengatakannya seenteng orang berak sambil mengembuskan asap rokok yang ia bikin-bikin seperti huruf O, sementara Julian mati-matian menahan nyeri di jari-jari tangan kirinya karena senar gitar yang dimainkannya sudah berkarat. Bangsat betul memang.

Selain mengajari Julian bermain gitar (ia biasa meminta rokok sebagai mahar untuk kursus singkatnya), Aceng Fikri adalah orang pertama yang mengenalkan Kurt Cobain kepada Julian. Ia kerap berdongeng tentang Kurt Cobain sembari mengajari Julian bermain gitar. Aceng Fikri akan mendongenginya kisah tentang Kurt Cobain yang kabur dari rumah terus tidur di kolong jembatan, menjual senapan untuk membeli gitar, membentuk Nirvana kemudian terkenal dan mati bunuh diri di usia 27. Julian tidak tahu dari mana Aceng Fikri mendapatkan kisah itu tetapi ia akan menceritakannya dengan keyakinan setingkat penjual obat kuat di pinggir jalan yang yakin obatnya bisa bikin kontol ngaceng terus selama tiga jam atau seorang agen MLM yang percaya kalau menjadi kaya itu semudah orang kencing, tinggal buka celana lalu “cuuuur’ begitu saja. Julian terpesona.

Tiga bulan setelah Aceng Fikri mengajarinya bermain gitar di pos ronda, Julian sudah berhasil mengajak beberapa temannya untuk membikin band. Ia tinggal menulis lagu tentang betapa membosankannya hidup, terkenal, lalu bunuh diri di usia 27.

***

Julian pernah bercita-cita untuk mati di usia 27. Ia akan menembak kepalanya sendiri dengan sebuah senapan. Tentu saja setelah ia dan bandnya terkenal. Tetapi di usia 22 ia sudah melupakan cita-citanya itu. Selain karena ia menyadari kalau hidupnya tidak begitu menyedihkan, ia mempunyai keluarga yang baik-baik saja, uang jajan dan kebutuhannya selalu terpenuhi, dan kisah asmaranya semulus paha Monica Belluci, ternyata band yang ia bikin umurnya tidak lebih panjang dari umur rata-rata pernikahan para selebritis.

Sering kali band yang ia bikin harus bubar di tengah jalan. Ada saja persoalannya. Kesibukan kuliah, dilarang orangtua, memilih untuk fokus di bisnis batu akik atau memilih untuk memperdalam agama.

Hal-hal semacam itu juga diperparah dengan minimnya respon dari lagu-lagu yang ia bikin, baik dari kalangan skena maupun dari khalayak luas. Baru belakangan ia sadar kalau hal itu terjadi karena dirinya adalah seorang penulis lagu yang buruk dan suaranya sumbang ampun-ampunan.

***

Julian pernah bercita-cita untuk mati di usia 27. Ia akan menembak kepalanya sendiri dengan sebuah senapan. Itu cita-citanya saat masih SMA. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak saat itu dan kini, ketika mengingatnya kembali, Julian merasa begitu konyol pernah memiliki cita-cita setolol itu.

Ingatan tentang hal itu menghampirinya begitu saja saat ia teringat kalau hari ini ia berulang tahun yang ke 27. Ia sudah lama berhenti bermain band — karena sadar ia seorang penulis lagu yang buruk dan suaranya sumbang minta ampun– dan tidak pernah terpikir untuk bunuh diri. Apalagi dengan menembak kepalanya sendiri menggunakan senapan. Cara mati yang mengerikan. Ia malah berharap bisa hidup lebih lama, kalau perlu sampai bisa menyaksikan cucu-cucunya kelak.

Wajar saja kalau Julian berharap bisa hidup lebih lama. Ia memang sedang berbahagia akhir-akhir ini. Istri yang dinikahinya tahun lalu kini tengah hamil tua. Menurut taksiran dokter, istrinya akan melahirkan tiga minggu lagi. Hal itu membuatnya tidak betah berlama-lama di kantor dan memilih untuk langsung pulang jika pekerjaannya sudah kelar.

Kereta yang ditumpanginya baru tiba di Stasiun Jatinegara ketika ponsel di saku celananya bergetar. Istrinya menelepon.

“Aku masih di Jatinegara. Nanti kalau sudah di Bekasi aku kabarin”

Julian memang berjanji untuk makan malam bersama istrinya sebagai perayaan ulang tahunnya yang ke 27. Tetapi tidak ada seorang pun yang bisa menebak lalu lintas di Jakarta. Tadi saja keretanya harus tertahan lama di Stasiun Cikini. Semoga saja ia tidak terlalu malam tiba di rumah.

Setelah menutup telepon dan memasukkan kembali ponsel ke saku celananya, Julian kembali mengenang masa-masa SMAnya. Ia sudah lama kehilangan kontak dengan Aceng Fikri, temannya yang dulu mengajari ia bermain gitar. Terakhir kali ia mendengar kabar kalau Aceng Fikri akan menikah, beberapa tahun yang lalu saat ia baru saja bekerja di Jakarta. Ia sendiri tidak hadir di acara pernikahannya itu, ia lupa apa alasannya, mungkin karena ia masih pegawai baru di kantornya jadi tidak bisa mengambil cuti. Entahlah, Julian tidak begitu ingat. Ia hanya ingin cepat-cepat tiba di rumah.

***

Julian pernah bercita-cita untuk mati di usia 27. Ia akan menembak kepalanya sendiri dengan sebuah senapan. Ia mengingat cita-cita konyolnya itu sambil tersenyum-senyum sendiri sembari memakai helm buluknya yang berwarna kuning dengan gambar Spongebob yang sedang nyengir di bagian belakangnya. Helm itu dibelinya ketika ia masih berkuliah dan tetap ia pakai sampai sekarang. Kaca bagian depannya sudah raib entah ke mana tetapi Julian masih senang memakainya. Ia merasa tidak perlu khawatir kalau helm itu akan ada yang mencuri. Toh sudah buluk juga, pikirnya. Kalau ia yang menjadi pencuri helm ia pasti akan berpikir ribuan kali sebelum mencurinya.

Kereta baru tiba di Stasiun Bekasi selepas waktu Isya. Julian terpaksa memacu motornya lebih kencang karena sudah keburu malam. Ia tidak ingin membuat istrinya menunggu terlalu lama.

Jalanan sempat macet di beberapa tempat sehingga laju motornya tersendat. Selepas dua lampu perlintasan lalu lintas jalanan mulai lancar. Julian bisa memacu motornya lebih kencang lagi.

***

Julian pernah bercita-cita untuk mati di usia 27. Ia akan menembak kepalanya sendiri dengan sebuah senapan. Ia bingung darimana dulu ia pernah punya pikiran semacam itu. Apakah dari Aceng Fikri yang sering mendongenginya kisah Kurt Cobain? Atau mungkin karena hal itu dianggap keren untuk bocah-bocah seusianya. Waktu itu ia masih SMA, membayangkan dirinya terkenal lalu menjadi pujaan jutaan orang, memang bangsat betul kerennya. Tetapi apa yang dulu pernah ia anggap keren berubah seiring umurnya bertambah. Apalagi hidup menamparnya keras dengan sebuah kenyataan yang ada di depannya. Cita-cita untuk mati di usia 27 adalah hal terbodoh yang pernah dipikirkannya. Ia tidak mempunyai alasan untuk melakukan hal itu. Ia tidak membenci dirinya sendiri dan hidupnya tidak membosankan amat, bahkan bisa dibilang bahagia.

Lamunannya harus buyar ketika motor yang dikendarainya menabrak sebuah lubang di jalan. Julian tidak sempat melihat dan menghindari lubang itu. Motornya oleng ke arah kanan dan ia kehilangan keseimbangan.

“Bangs…” baru saja mulutnya mau mengumpat, sebuah truk sudah menghajar ban belakang motornya.

Julian terpelanting, helm bergambar Spongebob yang sedang nyengir terlepas dari kepalanya. Untuk beberapa detik gaya gravitasi seolah-olah tidak berefek terhadap Julian. Tetapi Julian tidak sadar kalau dirinya sedang melayang. Ia hanya teringat kepada istrinya yang sedang menunggu ia pulang, pada calon bayi yang belum sempat ia lihat wajahnya, pada Aceng Fikri yang mengajarinya bermain gitar, dan pada cita-citanya untuk mati di usia 27.

Saat gaya gravitasi itu sudah kembali bekerja, kepalanya sudah menghantam aspal jalan.

***

*Bertugas sebagai perawat kamar operasi di salah satu rumah sakit di Jakarta. Waktu luangnya diisi dengan menulis dan menjadi vokalis di suatu band punk enggak laku.

Instagram: @crutskii

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts