Cimenyan, 17:45 WIB

Damar berjalan dengan tergesa-gesa memasuki sebuah pelataran gedung yang cukup ramai. Rokok terselip di ujung bibirnya. Lensa kacamata hitam yang dia kenakan memantulkan lautan manusia yang tidak sabar ingin melihat pameran foto dan lukisan dari seorang seniman muda berbakat asal Depok. Dia tersenyum kecut, tangannya sibuk merogoh kantong dalam jaket jeans dekilnya. Sialnya, kantongnya berlubang. Beberapa lembar duit ribuan, sebuah pemantik pemberian ayahnya dari luar negeri dan sebungkus kecil permen pedas pelega tenggorokan raib bersama debu dan sampah jalanan. Di tengah kelimpungan yang spontan melanda dirinya itu, seorang gadis berambut cokelat datang menghampirinya. Mulut kecilnya sibuk mengunyah permen karet. Gadis itu menyodorkan sekotak korek api batangan buatan Swedia.

“Klasik sekali,“ goda Damar sambil menyodorkan rokok yang masih terselip di ujung bibirnya. Gadis itu tertawa renyah, lalu menyalakan rokok Damar.

“Terima kasih. Tidak kusangka Gadis Penjual Korek Api sungguh-sungguh nyata. Kukira hanya cerita khayalan Grimm Brothers saja,“ ujar Damar. Matanya kini sibuk menjelajah rupa si gadis pembawa korek api dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gadis itu tampil cukup trendi. Dia mengenakan capuchon merah dengan kaos belang-belang berwarna merah putih seperti tukang sate Madura, jeans biru ketat dengan sobekan di kedua lutut juga sepatu Converse berwana putih. Kacamata hitam bergagang oranye hinggap di atas kepalanya.

 Oh, hipster toh. Paling dia ke sini hanya ikut-ikutan saja. Sama seperti anak-anak hipster masa kini lainnya, batin Damar.

“Gadis Penjual Korek Api itu ciptaan Hans Christian Andersen, tahu,“ sahut gadis itu manis.

 Wow, sebagai hipster, boleh juga gadis ini.

“Oh iya? Haha, maaf aku jarang membaca buku. Habis mereka berdua sama-sama suka menulis cerita yang tragis dan menyedihkan, sih,“ kata Damar berbohong. Tangan kanannya asyik memainkan rokok, sedangkan tangan kirinya menahan tali tas yang mulai membebani bahunya.

“Pembohong. Mana ada orang yang jarang membaca buku bisa tahu karakteristik kedua penulis tersebut. Hahaha,“ gadis itu meninju pundak Damar pelan.

“Ngomong-ngomong, ada pameran apa, sih, di dalam gedung itu? Ramai sekali pengunjungnya. Dan kebanyakan dari mereka sepertinya anak muda. “

“Lho? Memangnya kau tidak tahu? Lalu untuk apa kau kemari?“ tanya Damar.

“Aku diajak teman. Kebetulan temanku itu seorang wartawan majalah kampus. Dan aku diajak ke sini untuk menjadi fotografernya. Heh.“ jawab gadis itu sambil mengangkat Canon EOS hitamnya dengan bangga.

“Berarti kau sama sekali tidak tahu siapa seniman muda beruntung, yang lukisan dan foto-fotonya itu dijadikan pameran?“ tanya Damar lagi.

“Tidak tahu. Memangnya dia masih muda? Waaaah, pantas saja peminat ABG-nya segudang. Memangnya dia tampan, ya?“ tanya gadis itu lagi.

 Ternyata benar dugaanku. Yah, terserahlah. Padahal gadis ini cukup menarik. Sayang, dia sama dungunya dengan gadis hipster masa kini lainnya.

“Tidak juga. Aku juga heran, apa kiranya yang menjadi magnet dari anak-anak muda hipster kemarin sore itu. . .“ kalimat Damar terputus, dia mengambil ponsel Nokia 3120 classic-nya dari saku celana kanannya dan membaca pesan yang baru masuk. Dengan sigap Damar melempar rokoknya ke tanah dan menginjak puntungnya hingga abunya berserak, menyatu dengan aspal.

“Aku duluan, ya. Sampai ketemu di dalam.“ Damar menepuk pundak gadis itu pelan. “Oh, iya. Terima kasih, loh, untuk korek apinya!“

Gadis itu memandang punggung dan rambut gondrong Damar yang berkibar-kibar dari kejauhan dengan penasaran. Rasa-rasanya wajah pemuda itu tidak asing, deh. Tapi siapa, ya?

Batin si gadis bertanya-tanya.

***

Sesampainya di dalam gedung, si gadis berkeliling sambil menenteng kamera kesayangannya. Ia mengekori teman wartawannya dari belakang, sibuk memotret berbagai macam lukisan beraliran abstrak, surealis dan impresionis yang dipajang di hampir seluruh dinding gedung itu secara gerilya tanpa tahu apa bagus dan menariknya lukisan-lukisan itu. Berkali-kali dia mengeluh dan merutuki temannya.

“Apa yang bisa kupelajari dari coretan anak kecil ini, Burhan?! Adikku yang berumur tujuh tahun saja bisa melukis jauh lebih pandai dari orang ini! Lelucon konyol!“ maki si gadis.

“Hahaha, Dena, Dena. Tahu apa kau tentang lukisan, hah? Sudah, potret sajalah,“ balas Burhan sambil sibuk mencatat sesuatu di buku catatannya yang sekecil genggaman tangan.

Jepretan cahaya dan blitz kamera menyala-nyala seperti kembang api tahun baru. Sesaat ruangan itu nampak seperti pemandangan yang ganjil dan absurd di penglihatan Dena yang mulai lelah. Dalam penglihatannya, dia melihat puluhan anak kecil memakai topi-topi kerucut berwarna-warni sedang berlarian di atas sebuah permadani Persia berwarna merah. Perlahan-lahan dia melihat objek lukisan-lukisan aneh itu mencair dan melebur menjadi satu dengan pemandangan yang dia lihat. Di antara anak-anak yang berlarian itu, dia melihat seorang pria tua sedang memainkan sebuah musik klasik dengan dentingan piano tepat di tengah ruangan. Sementara dari atas tangga, dia melihat air bah berwarna seputih susu mengalir dengan deras ke arahnya, ke arah anak-anak kecil itu, ke arah pria tua pemain piano. Dia tenggelam di dalam semua itu, larut menyatu di dalam cat minyak yang kental.

“Hei, kau suka lukisan itu?“ sebuah sapaan dari suara yang tidak begitu asing membuyarkan lamunan Dena tepat di depan sebuah lukisan berjudul Huru-hara di Udara”. Dalam lukisan itu terpotret dengan jelas sebuah fantasi yang baru saja menganggu dan masuk tanpa permisi ke dalam visi-visi dan ruang khayalnya.

“Hei, rupanya kau lagi.“ Dena benar-benar terhipnotis melihat lukisan itu. Hampir saja dia tidak ingat di mana dirinya berpijak.

Baru saja Dena mau meneruskan kalimatnya, seorang panitia penyelenggara datang menghampiri mereka berdua.

“Damar, dari mana saja kau? Si seniman yang punya hajat malah baru kelihatan batang hidungnya. Kau dicari oleh Ibu Anita. Katanya dia ingin kau mengucapkan sepatah dua patah kalimat di depan wartawan-wartawan itu,“ kata si panitia sambil menunjuk segerombol musang pencari berita.

“Permisi, ya,“ bisik Damar saat melewati Dena sebelum akhirnya dia tersenyum hangat di depan awak media yang mulai menghujaninya dengan pertanyaan.

Dena terdiam. Dia hanya bisa menatap sosok Damar yang berjalan menjauh darinya dengan perasaan kagum, tanpa sadar kalau Burhan meneriakinya dan menyuruhnya untuk mengambil gambar si pemuda pelukis tersebut.

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts