Cihampelas, 17:45 WIB

Keindahan yang ganjil, pikir Toni saat melihat seorang gadis menatapnya nanar dari seberang jalan.

Sore ini Toni sedang berjalan menyusuri trotoar di daerah Cihampelas tanpa tujuan yang jelas. Padahal hujan sedang turun, tapi di saat orang-orang panik membuka payungnya atau sibuk berlarian ke depan pelataran toko untuk berteduh, Toni malah asyik menyenandungkan lagu “Just Walking in the Rain” dari Johnnie Ray dan berdansa riang bak Gene Kelly di film Singin’ In The Rain. Sebenarnya dia sedang merasa jenuh, suntuk karena portofolio kumpulan foto-fotonya baru saja ditolak oleh salah satu majalah seni. Berdansa di jalan sambil berhujan-hujanan seperti itu mungkin caranya untuk menghibur diri. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang menganggapnya sinting. Bahkan menurutnya, merekalah yang sinting.

Di hujan yang seindah ini, mereka malah merutuk dan bersembunyi. Memangnya apa lagi yang bisa lebih indah dan puitis dibandingkan berdansa  di bawah siraman hujan di pinggir trotoar seperti ini? pikir Toni.

Dan tepat pada saat Toni menatap balik si gadis, tubuh gadis itu mendadak limbung, dia terhuyung-huyung sebelum akhirnya tumbang di atas beceknya genangan air. Toni langsung menghentikan tariannya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling, melihat-lihat siapa tahu ada orang yang mau membantu gadis itu.

Toni melengos sambil tersenyum kecut. Mana ada orang yang mau berhujan-hujanan dan susah payah menolong gadis yang tidak mereka kenal? pikirnya. Toni masih menatap si gadis dengan bingung saat seorang nenek berteriak dari belakang,

“Hei, anak muda! Cepat tolong gadis itu. Kenapa kau malah melamun?”

“Kenapa bukan nenek saja yang menolong?” balas Toni kesal. Aku tidak suka diteriaki. Apalagi dengan nenek-nenek asing ini.

 “Kau sudah gila ya menyuruh nenek ini untuk menolong? Cepat tolong dia!” ujar seorang bapak-bapak pegawai kantoran.

“Bapak saja yang menolong kalau begitu. Tubuh bapak lebih besar untuk menggotong gadis itu. Dia bukan kenalanku. Aku tidak punya kewajiban untuk menolongnya.”

“Gadis itu juga bukan kenalan kami, tapi sebagai manusia kita punya kewajiban untuk menolong sesama,” jelas si bapak. Nenek tua di sampingnya menganggukan kepala, setuju dengan perkatan si bapak pegawai kantoran.

“Hahaha, ini yang gila siapa, sih? Bapak, ‘kan, juga manusia. Nenek itu juga. Lantas kenapa harus menyuruhku untuk menolongnya? Ini benar-benar percakapan yang konyol! Kalau begitu biarkan saja dia tergeletak seperti itu. Tunggu sampai orang yang merasa lebih manusiawi dari kita untuk menolongnya. Atau biarkan saja dia mati kedinginan sekalian di sana. Siapa tahu dia seorang pembunuh berantai atau bos mafia. Bagus, ‘kan, kalau dia mati? Tugas polisi jadi lebih ringan,” jawab Toni sambil memunggungi si bapak pegawai kantoran dan si nenek. Tapi baru hendak melangkah, si bapak itu sudah menarik kerah belakang kemeja Toni, sedangkan si nenek memukulinya dengan seikat kangkung yang diambil dari tas belanjaanya.

“Cepat tolong gadis itu, brengsek.” Bapak pegawai kantoran tampak mulai kesal. Toni melepaskan diri dari cengekeramannya, lalu menatap si bapak dan si nenek bergantian.

“Memangnya apa masalahnya, sih, kalau bapak saja yang menolong dia?” tanya Toni keras kepala.

Bapak itu terdiam menatap Toni. Mungkin dia bersiap untuk menghajarku, batin Toni. Si nenek juga masih mengacungkan ikatan kangkung ke hadapannya seolah-olah benda itu pistol atau tongkat bisbol.

“Masalahnya adalah kami lebih tua darimu, dan kau juga sudah terlanjur basah.”

Si nenek tua mengangguk-angguk, kembali menyetujui perkataan si bapak. Toni tercengang tak percaya mendengar perkataan si bapak.

Hanya karena alasan konyol macam itu dia harus repot-repot menyuruhku? Ternyata kemanusiaan di kota ini memang sudah punah. Kalian jangan buru-buru menghakimiku. Sebenarnya dari tadi aku juga ingin langsung menolong si gadis, tapi aku ingin bereksperimen sebentar pada orang-orang ini. Ternyata alasan mereka jauh lebih rendah dari dugaanku.

Dengan perasaan kecewa, Toni menyeberang jalan, lalu menggendong gadis itu di punggungnya.

Dan di sinilah Toni sekarang. Di dalam kamar motelnya, menatap tubuh si gadis yang basah di atas ranjang yang dekil. Terus terang dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ini sureal, batinnya. Kejadian seperti ini hanya ada di dalam film-film atau novel-novel. Saat si karakter utama yang sedang frustasi karena suatu hal tanpa sengaja menemukan gadis asing yang pingsan, entah di toilet kafe, meja bar, atau di trotoar jalan. Lalu si karakter utama akan membawa si gadis ke kamarnya, melepaskan bajunya yang basah, dan menyetubuhinya. Kemudian di pagi hari mereka akan bertengkar kecil, si gadis menampar si pria karakter utama, lalu pergi entah ke mana hingga beberapa hari kemudian mereka kembali bertemu (tentu saja secara tidak sengaja), terlibat pembicaraan kecil, saling mengenal lebih dalam, dan voila! Mereka akhirnya menjalin kasih.

Toni bukan pria yang naïf. Dengan tubuh menggigil karena hujan, ditambah remangnya kamar motel dan lembutnya “I’m Through With Love” yang dinyanyikan Marylin Monroe dari film Some Like It Hot yang sedang diputar di televisi, tentu saja dia ingin sekali menyetubuhi gadis asing ini.

Toni menelan ludah.

Gadis ini tidak terlalu cantik sebenarnya. Bentuk hidungnya aneh, agak sedikit bengkok ke kanan. Begitu juga dengan bibirnya yang terlalu kecil untuk bentuk wajah yang dia miliki. Satu-satunya yang membuat ‘peliharaan kecil’-ku memberontak dari balik ‘sangkar’-nya adalah warna kulit kuning langsatnya. Jarang sekali aku menemui gadis berkulit kuning langsat. Kebanyakan dari gadis-gadis yang pernah kutemui itu berkulit putih cerah, putih pucat, cokelat sawo matang atau hitam manis. Yang hitam pahit juga banyak. Alah, untuk apa aku menceritakan itu semua pada kalian? Tidak penting sama sekali. Pasti kalian sudah gatal ingin melihatku menyetubuhi gadis ini kan? Tenang, kawan-kawan. Aku akan menggagahinya dengan brutal supaya kalian puas. Toh, berahi juga sudah menguasaiku. Aku tidak bisa menahannya lagi.

Toni menampar pelan pipi si gadis, memastikan jika dia tidak sedang pura-pura pingsan atau sudah setengah tersadar.

Si gadis tidak bereaksi.

Bagus. Inilah saatnya.

 Toni memutuskan untuk membuka celana jeans-nya terlebih dahulu. Menurut Toni, tidak ada artinya membuka atasan terlebih dahulu, karena sajian utama yang diinginkan semua pria adalah sesuatu yang letaknya ada di balik celana dalam perempuan. Buat apa membuang-buang waktu? Tapi sialnya, celana si gadis terlalu ketat. Seakan-akan menempel langsung di kulit. Toni kesulitan untuk melepaskannya, sepertinya resleting celananya gadis itu memang rusak.

Ah, dasar sial. Aku tidak mau merobek paksa celananya. Itu adalah tindakan yang biasa dilakukan pemerkosa. Tidak etis sekali. Aku bukan pemerkosa. Aku bukan predator. Aku hanya pemuda biasa yang ingin merasakan kehangatan. Itu saja.

Akhirnya Toni menyerah. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Sembari mengamati rupa wajah dan lekuk tubuh si gadis sekali lagi, Toni mengambil rokok dari meja kerjanya, lalu menyulutnya dengan perasaan nelangsa. ‘Peliharaan kecil’ di dalam celananya pun pelan-pelan mulai menjinak. Setelah rokoknya habis, Toni pun jatuh tertidur.

Tanpa sepengetahuan Toni, sebenarnya si gadis itu tidak pernah pingsan, dan bersiap bangun kalau Toni benar-benar nekat memerkosanya. Ya, gadis asing itu hanya pura-pura. Itu adalah salah satu modus operandinya. Setelah memastikan kalau Tony benar-benar tertidur, pelan-pelan gadis itu bangkit dari ranjang. Dia menatap Tony yang malang dengan senyum penuh kemenangan. Dia merasa lega karena ritsleting celananya rusak. Dia juga merasa beruntung karena Tony tidak meraba-raba tubuhnya.

“Untung dia tidak meraba tubuhku. Aku tidak tahu akan seperti apa reaksinya saat tahu kalau penisku sudah mengacung begitu keras. Sangat keras hingga ritsleting celanaku rusak.”

“Sebagai gay, menahan berahi terhadap korban lelaki yang akan dimangsa itu jauh lebih sulit daripada menyamar menjadi wanita. Sekarang aku harus cepat pergi-pergi dari sini,” ujar si gadis jejadian sambil menyambar dompet, ponsel dan laptop milik Tony dengan cepat, lalu bergegas ke luar kamar.

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)