Indira mendapat tugas dari dosen sejarah tentang sedikit asal-usul direbutnya daerah Bajo yang mana pernah dikuasai oleh pemberontak yang menolak bergabung dengan Indonesia. Indira bahagia dengan tugas itu, sebab ia adalah cucu dari seorang veteran perang yang berhasil merebut daerah Bajo dari tangan pemberontak setelah bertahun lamanya bersitegang dan saling berbalas serangan. Bahkan, semua orang di kelas itu mengetahui kisah kakeknya yang pemberani tersebut.

Ia pulang dari kampus dan langsung menemui kakeknya. Setelah melepas sepatunya, ia terdiam di depan piagam penghargaan kakeknya yang berkaitan dengan tugas yang sedang digarapnya. Dipandangnya dengan bangga secarik kertas yang sebelumnya tak pernah ia pedulikan. Di samping piagam itu, terdapat potret sang kakek memegang senjata dengan cerutu yang terselip pada kumis panjangnya, ditemani beberapa pemberontak yang siap dieksekusi. Ia masih tercengang akan foto itu. Foto yang pernah dilihatnya di buku sejarah SD miliknya.

Setelah beberapa saat, ia kemudian menghampiri kakeknya di sebuah kabin kecil yang dibangun khusus untuk kakeknya di belakang rumahnya. Di sanalah kakeknya menghabiskan hari-harinya dengan melukis atau hanya duduk-duduk di kursi goyang dengan ditemani secangkir kopi dan cerutunya. Kakeknya tengah asik menikmati cerutu Kuba-nya saat Indira datang dengan membawa secarik kertas yang akan ia gunakan untuk mencatat cerita kakeknya tentang asal-usul direbutnya daerah Bajo yang kini telah bergabung dengan wilayah Indonesia.

Pertama-tama Indira memberitahu tentang tugasnya kepada sang kakek. Sang kakek kemudian tertawa, mungkin karena lucu atau bangga mendengar kisahnya kini telah menjadi tugas dalam mengenal bangsa ini. “Akhirnya kini kau tahu bahwa kakekmu adalah seorang pahlawan,” tutur kakeknya, diikuti dengan tertawa yang membuat gigi rongaknya kelihatan. Indira hanya tersenyum malu, sebab selama ini ia telah melewatkan fakta itu.

“Dari mana kau akan mulai menggali kisah ini?” Kakeknya bertanya pada Indira.

“Tentu saja awal mula kenapa kakek ditugaskan” tutur Indira.

Kakeknya mengangguk-angguk mafhum. Lantas dia mulai bercerita.

“Setelah Indonesia merdeka, hampir semua daerah telah menyetujui untuk bergabung bersama Indonesia, terkecuali Bajo. Mereka satu-satunya daerah yang bersikeras tak mau berhimpun di bawah naungan negara kita. Padahal, kita satu rumpun dengan mereka. Terlebih, mereka juga masif terlibat dalam perjuangan kemerdekaan kita. Alasan mereka untuk tidak bergabung adalah sumber daya alam mereka sudah cukup untuk membangun suatu negara yang besar. Hahh.. Negara besar takkan tercapai oleh masyarakat yang barbar,” cerita kakeknya.

“Lantas bagaimana hingga terjadi perang saudara?” Indira kembali bertanya.

“Saat utusan Republik ini menghadap raja mereka agar mencapai kata mufakat untuk bergabung, sang raja menolak keras. Ia menjawab bahwa tanah itu adalah tanah Tuhan yang dilimpahkan kepada mereka di bumi manusia, dan mereka harus mengolahnya sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Setelah utusan Republik menceritakan apa yang disampaikan oleh sang raja kepadanya, presiden marah besar. Negara kita mulai melancarkan segala bentuk intimidasi, dan operasi militer bayangan untuk menciutkan nyali mereka. Tapi mereka membalas ancaman itu dengan pidato-pidato dari sang raja yang angkuh seolah tak gentar dengan ancaman kita. Akibat keangkuhan itu, sang raja akhirnya mati dan pengikutnya tak tinggal diam. Di situlah awal mula perang saudara terjadi,” jawab kakeknya.

“Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah-ruah. Lantas kenapa kita harus mencomot kepunyaan orang lain yang sudah sepatutnya mereka kelola?” tanya Indira yang tampaknya mulai curiga.

Kakeknya menyeruput kopi. Mengisap cerutu dan diubahnya menjadi asap yang mengepul di udara. Kakeknya menghela napas dalam-dalam dan menjawab: “Kita justru ingin membantu mereka untuk mengelola sumber daya alam tersebut. Sebab jika mereka sendirian dalam membangun negaranya, mereka mungkin akan terseok-seok atau bahkan tak akan pernah mampu. Mereka adalah masyarakat bodoh yang tak tau berterima kasih.” Kali ini, kakeknya menjawab dengan nada yang mulai berang karena menyadari bahwa pertanyaan si cucu mungkin bermaksud menyudutkannya.

Indira insyaf atas pertanyaanya yang tak sengaja membuat sang kakek geram. Indira masih terdiam. Bingung atas pertanyaan selanjutnya yang khawatir akan membuat sang kakek bertambah gusar terhadap dirinya.

Melihat Indira tercenung, si kakek lantas menepuk bahunya dan berkata, “Lanjutkan saja pertanyaanmu. Jangan khawatir, Nak.” Setelah berpikir sejenak, Indira kemudian menanyakan sesuatu yang akan mencairkan kembali suasana di antara mereka.

“Ceritakan aku tentang perang panjang yang kakek lalui bersama para veteran lain hingga akhirnya bisa merebut daerah itu,” pinta Indira.

“Kakek dikirim untuk memimpin satu pasukan yang berjumlah tiga ratus prajurit setelah pasukan sebelumnya hampir setengahnya gugur. Ada yang mati terkena bom, ada juga yang terkena ranjau dan ada yang diculik saat sedang berjalan seorangan. Atau mungkin, di antara prajurit yang mati itu, sebagian dari mereka sengaja dijebak oleh para perempuan di daerah itu dengan cara mengajak para prajurit untuk sejenak melepaskan hasrat berahinya di semak belukar dan di situlah sebagian prajurit meregang nyawa. Kakek mengetahui hal ini setelah melihat dengan mata kepala sendiri saat seorang mayat prajurit ditemukan dengan celana yang melorot di semak-semak.”

Indira terkaget-kaget mendengar pernyataan dari kakeknya itu. Bagaimana bisa kisah terselubung patriotis ini tak pernah tercatat dalam sejarah? Atau mungkin, sejarawan terlalu nifak untuk mengakui kenyataan yang sebenarnya mereka ketahui?

“Suatu pagi, ajudan pribadi kakek yang setia, telah hilang entah ke mana. Kakek cemas. Besok harinya, seorang prajurit menemukan sebuah kardus yang tak jauh dari tenda-tenda yang kami dirikan. Karena khawatir itu adalah bom, kakek menyuruh seorang di antara mereka untuk membuka kardus tersebut dan mencari tahu isinya. Setelah prajurit tersebut membukanya, ternyata itu ajudan pribadi kakek. Semua orang tersentak, begitu pun kakek. Tapi, penculikan demi penculikan terjadi setiap hari. Prajurit berjatuhan. Kakek tak sanggup lagi menanggung beban para istri yang kehilangan nyawa suaminya di bawah komando kakek.”

Kesedihan tampak jelas terlihat di mata kakeknya, Indira menyadari hal tersebut. Kecurigaan yang sempat timbul dibenaknya terganti dengan rasa pilu saat melihat kakeknya seperti ini.

Indira sebenarnya ingin berhenti dalam bertanya tentang hal ini. Terlebih, ia sudah mencatat hal-hal yang dianggapnya penting dan menyimpan sendiri kisah yang tak perlu diketahui orang lain. Namun, Indira ingin menuliskan semua kisah yang diceritakan kakeknya. Tapi lagi-lagi, ia tak mungkin memberi tahu tentang prajurit-prajurit yang meregang nyawa karena hasrat berahi yang tengah membabi buta. Ia berpikir tentang nama baik yang dipikul oleh kakeknya, meskipun saat ini, ia menyadari bahwa dirinya tak lebih baik dari seorang sejarawan yang munafik. Bahkan mungkin, ia lebih memalukan. Ada sejarawan yang menuliskan sesuatu yang diketahuinya dan hanya berhenti sampai di situ, ini tipe dari sejarawan malas. Ada sejarawan yang menuliskan sesuatu yang tak pernah diketahuinya dan sejarawan ini adalah ciri sejarawan penipu. Tapi dirinya? Ia mengetahui sesuatu yang terselip di balik kemegahan cerita tentang sejarah peperangan, namun ia simpan karena enggan kehilangan sebuah kebanggaan.

Indira memberitahu sang kakek bahwa tugasnya telah rampung. Namun, sang kakek terlanjur kembali menggali ingatannya yang telah lama tersemat dan menolak untuk berhenti.

“Jika tugasmu telah tamam, maka dengarkanlah kakek melanjutkan kisah ini. Kisah yang tak pernah kakek luapkan pada orang lain, tak terkecuali orang tuamu.” Indira sebenarnya merasa iba melihat seorang pria tua yang menceritakan kisahnya dengan penuh kegetiran. Apalagi Indira sudah lupa kapan terakhir orang tuanya berbicara dengan sang kakek. Kakeknya mungkin terkenang dengan ajudan pribadinya yang setia, atau mungkin juga sedang mengingat dosa yang pernah kakeknya lakukan. Entahlah. Hanya kakeknya yang tahu.

Kakeknya membuka sebatang cerutunya yang terakhir dan membakarnya. Ia kembali mengisap panjang cerutunya dan menyemburkan di udara. Kali ini lebih panjang dari pada sebelumnya.

“Sudah jam berapa, Nak?”

Indira melihat arlojinya dan menjawab pada kakeknya, “Sudah pukul 17.00, Kek.”

“Tak terasa kita sudah lumayan lama mengobrol. Sudah jam begini, kakek butuh kopi segelas lagi” pinta sang kakek. Indira mengamini permintaan kakeknya dan bergegas menyeduh kopi.

Tak lama berselang, Indira telah kembali dengan secangkir kopi di genggamannya. Uap panas mengepul di atas gelas. Ampasnya belum juga karam. Indira menaruhnya di atas meja, di samping pembungkus cerutu yang baru saja luruh, lantas kembali ia duduk di bangku.

Sembari menunggu ampas kopi karam di permukaan, kakeknya melanjutkan: “Setelah penculikan yang terus terjadi, kakek mulai kehilangan ketenangan. Kakek menghampiri sebuah rumah yang menurut mata-mata, adalah tempat tinggal anak dan istri si ketua pemberontak. Kakek menarik anak sulung ketua pemberontak, dan berteriak ke seluruh masyarakat yang tengah berkumpul menyaksikan hal tersebut, bahwa kakek akan membawa anak ini sebagai jaminan dan anak berikutnya, jika sampai matahari terbenam para pemberontak belum menyerahkan diri. Awalnya itu adalah sebuah gertakan, tapi setelah tengah malam tak ada tanda-tanda bahwa mereka akan menyerah. Kakek menugaskan para prajurit untuk memotong satu anak setiap hari dan mengirimkan kepala si anak ke rumahnya dengan niat membuat mereka menyerah dan mengakhiri perang ini secepatnya. Lain waktu, para prajurit memotong tangan, ada juga yang memotong kee..”

“Cukup!!” Indira berteriak. “Kalian mahkluk biadab!”

Sambil meniup kopinya, sang kakek berkata, “Tapi kami dianggap pejuang.”

***

Saat itu, tugas harus dikumpulkan dikuti dengan presentasi. Indira mendapat giliran ketiga. Setelah namanya dipanggil, di luar dugaan, Indira bicara tentang semuanya yang diberitahu kakeknya. Semua itu ia lakukan karena mungkin tak ingin menjadi sejarawan yang penipu atau munafik atau bisa jadi, karena kemarahan atas perbuatan kakeknya. Ia memberi tahu tentang mereka yang mati saat memuaskan berahi. Semua orang menatap heran dengan apa yang dikatakannya.

“Kakek saya menugaskan prajurit untuk memotong satu anak setiap hari dan mengirimkan kepala si anak ke rumahnya dengan niat membuat mereka menyerah dan mengakhiri perang ini secepatnya. Lain waktu, para prajurit memotong tangan, ada juga yang memotong kee..”

“Hentikan!” dosennya berteriak. “Dari mana semua ini?

“Langsung dari sumbernya, kakekku. Aku mewawancarai beliau langsung,” jawab Indira tenang.

Ada jeda beberapa detik sampai sang dosen berkata dengan nada pelan, hampir berbisik.

“Mewawancarai langsung? Kau jangan bercanda, Indira. Bagaimana bisa? Kakekmu itu telah mati, jauh sebelum kau lahir. . .”

***

Indira pulang ke rumah dengan hati yang hancur. Remuk redam. Dia tidak menyangka jika dosennya berani menyebut bahwa kakeknya telah mati di depan teman-teman sekelasnya. Bahkan teman-temannya yang biasanya selalu mendukungnya ikut-ikutan setuju dengan si dosen, dan malah menatap dirinya dengan pandangan ganjil.

Selama beberapa saat Indira menangis di kamarnya. Kemudian setelah air matanya dirasa telah habis bercucuran, Indira melangkah gontai untuk menemui kakeknya di kabin belakang. Dari jauh, Indira sudah bisa mengendus bau cerutu Kuba sang kakek. Lalu, setelah menyeduh secangkir kopi hitam, Indira berjalan masuk menghampiri kakeknya yang sedang asyik melukis sesuatu. Melihat Indira datang membawa kopi, kakek menghentikan kegiatan melukisnya, lalu tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-gigirnya yang rongak pada Indira. ♦

About the author

Dikenal sebagai Galang Tarafannur. Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Nasional angkatan 2014. Putera Bacan yang menaruh minat pada sastra. Bisa bertegur sapa dengan penulis melalui Line di: galangtarafannur69