Jurig Samak

Baginya, azan subuh hanya penanda bahwa sebentar lagi bumi bakal terang. Lagi pula, tiga manusia sudah lebih dari cukup, bahkan dia dibuat begah karenanya—meski memang dia masih penasaran untuk melahap bocah. Oh bagaimana sang monster yang tak punya otak itu bisa berpikir? Ah ya, manusia pun seringnya berpikir tanpa otak.

Bersama Laika di Luar Angkasa

Sejumlah kawan menyebutnya sudah gila. Tapi ia tidak peduli. Setelah ibunya pergi, hanya mimpi dan khayalan yang terasa nyata baginya. Sesungguhnya, ia berencana untuk terus melanjutkan hidup yang dipenuhi mimpi dan khayalan tersebut. Namun sebuah kejadian mengubah niatnya itu.

Terima Kasih, dan Selamat Jalan

Beberapa di antaranya memainkan peranan penting, sedangkan yang lainnya hanya menjadi penonton. Setiap orang ada karena sebuah alasan, untuk memberikan pelajaran tentang hidup, membuat kita sadar akan arti diri kita dan mempersiapkan segala kemungkinan terburuk. Satu waktu peran mereka habis, mereka pergi.

Kunci Duplikat

Hati Restu terasa pahit. Ia baru saja kehilangan kunci motor dan kini tak bisa segera menuntaskan urusan penting yang telah terlalu lama mengimpit hidup.

Menggugat Shakespeare

“Aku tidak keberatan jika dikatakan bahwa nama adalah doa atau harapan, tapi apa mereka tidak tahu jika harapan adalah sumber segala kekecewaan? Sekarang kau lihat sendiri, aku masih suka mabuk, aku juga suka menzinahi teteh-teteh bantal guling, tapi nama yang melekat ini seperti parasit, ketika sedang berasyik-masyuk dan nama lengkapku dipanggil, imajinasiku buyar. Hancur berantakan“

Biduan, Jalang dan Sebakul Janji-janji

Ibu bilang hari ini kita makan besar pesta diselasar dengan sebakul janji-janji, dengan lauk makian dan tendangan kaki. Hari ini kita meminum darah-darah pemberontak yang ingin menyelamatkan tanahnya sendiri.