Pantat Babi, Hitler, Soeharto

Mata Darso terbelalak saat ia melihat di depan rumah kosong ada seorang pria yang tengah duduk dan menggorok lehernya sendiri memakai sebilah parang. Anehnya, setelah beberapa detik ia amati, ternyata tak ada darah yang keluar sama sekali dari tubuh si tetangga.

Duka dalam Cinta adalah Niscaya

Di atas motor yang berjalan lambat, kubayangkan segelas teh hangat buatan Norma, anak gadis Om Mustofa yang cantik jelita. Dulu, sepulang melakukan pendataan batas hutan damar, aku selalu disuguhkan segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng oleh Norma.

Habiskan Darah Si Miskin!

Kalau si gembel seperti Rojak sih, paling-paling juga hanya sanggup membeli obat nyamuk oles. Itu pun kalau lagi ada uang lebih,” ucap Maria kini disertai dengan ledakan tawanya yang cukup keras. “Padahal orang-orang miskin seperti inilah yang biasanya menjadi incaran kita, lantaran mereka sering tinggal di pinggiran sungai atau dekat kubangan sampah, yang tentu saja dekat dengan habitat kita. Bagaimana? Masih tidak percaya bahwa manusia itu tolol-tolol dan tidak bisa memakai akalnya?! Rosana, mulai sekarang kamu tak perlu ragu-ragu lagi untuk menghabiskan darah si gembel Rojak sampai kering,” tambahnya.

Mahkota Kejayaan

Rambut pendek Suri menjadi alasan bagi Sardono untuk kembali bermain gila. Ia mengunjungi rumah bordil seperti peziarah menemukan mata air. Ia merasa istrinya tak lagi piawai memuaskan berahi. Suri semakin bungkam. Sardono merasa menang. Sardono senang bukan kepalang.

Nanti

Aku masih mengingat pagi itu. Pagi di mana aku untuk kali pertama beradu tatap dengan Kinanti. Pagi di mana pertama kali aku beruluk salam dengan Kinanti. Aku mengingat pagi itu.