Pada Suatu Misa di Kampung Sawah

Kabar teror di tiga gereja di Surabaya terus mengiang di kepala saya. Itu sangat menganggu saya. Menganggu pengalaman mengikuti misa yang sudah saya nantikan sejak lama. Saya berdoa di antara saudara saya yang beragama Katolik. Mereka berdoa dengan bersimbah sujud. Tampak sangat khusyuk dibimbing Romo di altar. Saya berdoa untuk damai dan keadilan umat di dunia. Tentu dengan tata-cara Islam. Karena saya beragama Islam. Saya mengirim Al-Fatihah, sebagaimana saya lakukan saat tahlil atau sesudah sembahyang.

Perihal Pwissie Jelek Sukmawati Soekarnoputri

Sebab, sebagaimana Jassin dalam kasus cerpen "Langit Makin Mendung", bagi saya kasus pwissie "Ibu Indonesia" kiranya akan lebih menarik bila sejumlah kritikus sastra mengulas pwissie tersebut dalam kanal sastra. Karena "imajinasi tidak bisa diadili", sekalipun itu imajinasi (baca: pwissie) yang jelek.

Korea Utara, Narasi Media, dan Industri Militer Amerika Serikat

Stabilitas politik dan ekonomi menguntungkan negara-negara seperti Cina yang sudah menjadi raksasa, Rusia, Brazil, India dan tentu saja Indonesia. Karena negara-negara tersebut sudah siap untuk perdagangan besar di sektor pangan, konstruksi, hingga teknologi. Namun, AS dan Eropa sedang mengalami persoalan ekonomi yang serius sejak tahun 2008. Bias eropasentris membuat mereka tidak rela berada sejajar dengan negara-negara maju "baru" tersebut.

Menantang Populisme Baru di Indonesia

Populisme di Indonesia, dalam bentuk tertentu khususnya populisme Islam dan nasionalis, tidak hadir untuk melawan kelompok elite yang menyandang status quo, melainkan diserap untuk mempertahankan dan melindungi status quo.