Pada awalnya saya tidak terlalu tertarik untuk menonton film Captain Fantastic ini. Dari judulnya saya menerka bahwa ini cuma film superhero lainnya, yang kian hari terasa banal dan membosankan. Namun karena saat itu di laptop saya hanya film ini yang belum tertonton, saya pun memutuskan untuk menontonnya tanpa ekspektasi apapun. Setelah selesai menonton, saya langsung menghela napas puas dan merasa bahwa Captain Fantastic adalah salah satu film tahun 2016 terbaik yang saya tonton.

Captain Fantastic merupakan drama komedi Amerika Serikat yang ditulis dan disutradarai oleh Matt Ross. Berkisah tentang sebuah keluarga yang hidup di tengah hutan. Sang ayah, Ben Cash (Viggo Mortensen) mencoba mendidik keenam anaknya; Bodevan (George MacKay), Kielyr (Samantha Isler), Vespyr (Annalise Basso), Rellian (Nicholas Hamilton), Zaja (Shree Crooks), dan Nai (Charlie Shotwell), dari kerasnya terpaan modernisasi.

Film dibuka dengan adegan perburuan. Bodevan, anak lelaki pertama Ben, kala itu berhasil memburu seekor rusa dengan sebilah pisaunya. Berburu adalah cara Ben untuk menobatkan status dewasa anak-anaknya. Sebuah rite de passage.

Selain menjadi seorang ayah, Ben juga menjadi guru bagi anak-anaknya. Saat pagi hari, Ben mengajak anak-anaknya untuk berolahraga atau beryoga. Di malam hari, ia akan menyuruh mereka untuk membaca buku serta bermain musik. Kegiatan itu rutin diajarkan pada anak-anaknya hampir setiap hari.

Kehidupan keluarga Ben memang jauh dari kata modern. Mereka tidak memiliki televisi, radio, maupun smartphone. Di hutan yang terisolasi itu mereka bertahan hidup dengan cara berburu dan bercocok tanam. Bahkan, untuk memasak pun mereka masih menyalakan api menggunakan batu.

***

Konflik pertama yang terjadi yaitu ketika istri Ben, Leslie Abigail Cash (Trin Miller) jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Namun, Leslie bukan meninggal akibat penyakit yang dideritanya, melainkan karena ia bunuh diri. Ini merupakan suatu pukulan yang berat bagi Ben dan juga anak-anaknya. Apalagi setelah ayah Leslie (Frank Langella) menolak kedatangan Ben untuk hadir ke pemakaman Leslie di kota.

Tapi dengan bantuan semangat dari sang anak, Ben pun tidak menyerah. Perjalanan akhirnya dimulai untuk bisa menghadiri pemakaman Leslie. Bermodalkan sebuah bis sekolah yang sudah didesain menjadi mobil keluarga, mereka pun meninggalkan hutan dan melakukan perjalanan ke kota. Di sinilah Ross sang sutradara mulai memberikan bumbu satir, terutama dalam dialog dan plot film.

Ben merupakan ayah yang sangat berbeda dari cara mendidik anaknya. Ia tidak pernah merayakan natal seperti orang di belahan dunia lain. Ia lebih suka merayakan hari ulang tahun Noam Chomsky, tokoh intelektual Amerika Serikat pengkritik keras negara adikuasa itu. Ia lebih senang merayakan hari ulang tahun seorang manusia yang memperjuangkan keadilan ketimbang merayakan hari peri magis fiktif (sinterklas). Di perayaan Hari Noam Chomsky, Ben memberi anak-anaknya hadiah, laiknya yang dilakukan orang tua lain saat natal.

Dalam perjalanan menuju pemakaman Leslie, mereka singgah di rumah adik Leslie untuk menginap. Banyak hal yang tidak pernah diketahui sebelumnya oleh anak-anak Ben ketika tinggal di sana. Anak-anak Ben tidak mengetahui sama sekali tentang sepatu Nike dan Adidas pada saat kedua keluarga tersebut sedang makan malam bersama. Anak-anak Ben pun dibuat bingung ketika menonton kedua anak Harper yang asyik bermain game. Anak-anak Ben sama sekali belum pernah berinteraksi dengan kehidupan modern. Meski terperangah, mereka bisa mengkritik pemandangan “vulgar” — yang lahir dari sistem kapitalis — lewat buku-buku yang telah mereka baca.

Tak lupa, sisi humor yang dimunculkan Ross dalam film ini pun sangat renyah untuk ditonton.

Ketika di hari pemakaman Leslie, Ben dan anaknya akhirnya tiba di sebuah gereja. Kala itu mereka mengenakan pakaian cerah di antara pelayat yang mengenakan pakaian serba hitam. Tentu kedatangan mereka menjadi sebuah sorotan bagi para pelayat yang hadir di gereja. Ayah Leslie merasa sangat geram ketika melihat kedatangan Ben, apalagi setelah Ben membacakan surat wasiat istrinya itu di hadapan para pelayat.

Dari surat wasiat, Leslie menginginkan agar mayatnya dikremasi. Pada saat pemakaman, ia ingin diiringi oleh musik dan tarian. Ia juga berwasiat agar abunya dibawa ke tempat yang banyak penduduk, serta ditebar dan sisanya dimasukan ke toilet terdekat.

Namun ayah Leslie tak tinggal diam. Ia akhirnya mengusir Ben dari gereja, serta mengancam akan melaporkannya ke polisi bila hadir di pemakaman Leslie. Ben dan anaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Ben dan anak-anaknya merasa sangat sedih sekaligus putus asa, sebab tidak bisa mengabulkan wasiat dari istri/ibu yang sangat mereka cintai.

Di suatu malam, Ben dan keenam anaknya memutuskan untuk mendatangi kuburan Leslie. Mereka menggali kuburan lalu membawa mayatnya pergi jauh dengan mobil. Mereka pun akhirnya mewujudkan keinginan Leslie seperti di surat wasiatnya.

***

Terdapat sebuah kritik sosial yang ingin disampaikan oleh Ross, sang sutradara. Tokoh Ben muak pada modernitas, konsumerisme, serta brutalnya sistem kapitalisme yang mengangkangi setiap orang di kehidupan sehari-hari. Karena bertema keluarga, film ini dikemas dengan sangat bagus, jauh dari kata menggurui.

Peran yang dimainkan oleh Viggo Mortensen sebagai seorang ayah juga sangat sukses di film ini. Dalam film ini pula Viggo Mortensen dinobatkan sebagai nominator salah satu aktor terbaik di ajang Piala Oscar bersanding dengan Ryan Gosling, Andrew Garfield, Denzel Washington dan Casey Affleck. Hal tersebut juga tak luput karena diimbangi oleh akting pemeran keenam anaknya yang mempunyai karakter yang berbeda-beda. Seperti film-film bertemakan keluarga eksentrik macam Little Miss Sunshine (2006), The Royal Tenenbaums (2001), atau The Addams Family (1991), Captain Fantastic juga mempunyai cita rasa unik, nyentrik dan spesial dibandingkan film-film bertema keluarga lainnya.

Bila kita sadari, keluarga memang unit terkecil dari lembaga-lembaga sosial. Ross menyampaikan kritik tersebut dengan membuka cara pandang kita melalui sebuah karya film. Bahwa dari sebuah keluarga ternyata juga bisa mengubah suatu gaya hidup. Contohnya perilaku konsumsi yang tinggi. Di zaman yang serba modern saat ini, kita selalu dimanjakan oleh peralatan-peralatan canggih yang tak ada habisnya.

Inilah yang diajarkan Ben kepada anak-anaknya agar tidak terjerat arus kekinian. Meski caranya radikal sehingga menjauhkan anak-anaknya dari kelompok masyarakat. Ben lebih memilih untuk mengisolasikan diri dengan membawa keluarganya ke hutan ketimbang harus masuk ke dalam kehidupan sosial yang semakin digerogoti sistem.

Di tengah kehidupan yang kian bergegas ini, perubahan pola asuh dalam keluarga pun pasti terjadi. Terutama fungsi keluarga untuk mengontrol anaknya. Orang tua pada saat ini memang banyak disibukkan pekerjaan yang menyita waktu. Rata-rata mereka bekerja 8 sampai 10 jam per hari. Sepulangnya di rumah, orang tua akan merasa kelelahan lalu beristirahat. Tak ada waktu lagi untuk membimbing dan mengontrol kehidupan sang anak.

Meskipun ada beberapa adegan yang kurang patut untuk dicontoh; seperti saat mencuri makanan di supermarket dan lainnya, bukan itu esensi dari film Captain Fantastic. Kita harus sadar kita telah diperdaya oleh sistem kapitalis yang menciptakan suatu barang, sehingga menjadi ilusi komoditas. Komoditas-komoditas ini didukung oleh industri periklanan dan ritus gaya hidup masyarakat kiwari. Yang pada hakikatnya semu, disulap menjadi wajib-dibeli. Kita senantiasa merasa kurang puas, kurang gaul, serta kurang mengikuti tren.

Hasrat manusia terus dicabik-cabik untuk tetap mengonsumsi. Sistem kapitalis memang menginginkan pola hidup masyarakat yang konsumtif, dengan dalih bahwa itu adalah lifestyle. Kita tidak terlihat keren kalau tidak berbelanja. Kita tidak terlihat menarik kalau tidak mengikuti fashion. Seakan hal tersebutlah satu-satunya cara untuk menegaskan eksistensi diri manusia.

Keinginan dari dalam manusia ini akan terus dihantui oleh sistem, hingga kita tak lagi menyadari apa itu bedanya “kebutuhan” dan “keinginan”. Kita selalu dibuat berfantasi untuk membeli barang yang tidak terlalu penting, yang dikonstruksikan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup.

Kita dapat berkaca dan mengambil pesan dari Captain Fantastic. Bahwa cara hidup manusia yang mengonsumsi barang secara berlebihan sama saja melanggengkan sistem kapitalis yang terus menyuguhi kita dengan keinginan-keinginan palsunya. Lebih-lebih lagi, kepalsuan tersebut membuat kita lupa dan terlena, sehingga kurang peka terhadap realitas yang ada.

***

Captain Fantastic tidak terjebak dalam logika baik versus buruk. Ada ironi yang disampaikan sang sutradara: apakah cara “melawan” yang dibayangkan ideal oleh Ben tidak bertentangan denga kehendak anak-anaknya? Bermodalkan buku-buku yang mereka baca, keenam anak ini jauh lebih cerdas ketimbang anak-anak seusianya. Tetapi bukannya manusia memiliki kebutuhan berinteraksi dengan sesama?

Lewat Bodovan, Ben “dihantam” kenyataan yang selama ini ditutupi oleh istrinya. Anak pertamanya itu diterima banyak universitas ternama, berkat dorongan sang istri. Istri Ben memang berasal dari keluarga yang luar biasa kaya. Ini adalah laku bunuh diri sosial. Sekuat apapun keinginan Ben dan Leslie untuk menghidupi idealisme mereka, Leslie tetap berkeinginan agar anaknya menjalani pendidikan universitas. Penonton juga dibuat tersenyum saat Bodovan gagap dan kikuk saat menghadapi lawan jenis. Ia boleh saja piawai mengutip Leon Trotsky ata Mao Zedong, tetapi di kehidupan riil, pengetahuannya itu tidak sanggup menolongnya.

Lewat Rellian, yang memberontak, Ben dibuat terperangah. Rellian mendakwa bahwa Ben-lah yang membuat Leslie depresi, lalu memutus urat nadinya. Apalagi setelah Rellian mengadu kepada ayah Leslie bagaimana cara Ben mendidik anak. Rellian sempat terluka saat Ben dan keenam anaknya memanjat tebing — sesuatu yang takkan dilakukan orang tua “normal”. Ayah Leslie juga mendapati sekujur tubuh Rellian dipenuhi bekas luka, akibat pelatihan bertahan hidup yang diajarkan Ben.

Ben pun gamang. Saat hendak menculik Rellian, anak perempuan Ben, Vespyr, mengalami cedera lumayan parah saat menaiki atap menuju kamar Rellian. Ia tak menyangka bahwa pelatihan yang selama ini ia berikan dapat koyak begitu saja. Vespyr terluka, mengalami patah di lehernya. Sia-sia belaka segala pelatihan fisik yang tiap hari ia berikan.

Ben takluk. Ia merelakan keenam anaknya untuk dididik mertua, meski kemudian Ross mengakhiri film lewat sedikit kejutan.

***

Seperti Into the Wild (2007), Captain Fantastic adalah gambaran tentang kemuakan terhadap sistem — walau pada akhirnya tokoh-tokohnya menyadari kesunyian “perlawanan” yang mereka lakukan. Jika semua orang merasa baik-baik saja diperdaya sistem, haruskah kita lari dari interaksi sosial? Bukankah cara-cara ekstrem seperti ini adalah sesuatu yang sia-sia? Bukankah revolusi takkan terjadi jika hanya diperjuangkan sendiri, tanpa menegosiasikannya dengan banyak pihak? Atau, apakah yang Ben lakukan merupakan bentuk “arogansi” individualistis khas kelas menengah, yang mencoba melakukan bunuh diri kelas namun tak menegosiasikan perjuangan dengan individu lain?

Apa yang dilakukan Ben adalah sebuah usaha mengejar utopia, suatu kosakata yang kerap dilekatkan pada ideologi-ideologi progresif. Ia sadar ia dan keluarganya hanyalah noktah tak bermakna dalam sistem yang begitu mengakar ini. Dan pada akhirnya, Ben tetap menolak takluk, dan sedikit berkompromi dengan apa yang selama ini ia lawan. ♦

Keterangan

Captain Fantastic | 2016 | Durasi: 118 menit | Sutradara: Matt Ross | Penulis Naskah: Matt Ross | Produksi: Electric City Entertainment, ShivHans Pictures | Negara: Amerika Serikat | Pemeran: Viggo Mortensen, George Mackay, Samantha Isler, Annalise Basso, Nicholas Hamilton, Shree Crooks, Charlie Shotwell

About the author

Alumni sosiologi Universitas Nasional. Dapat dihubungi di line: revinmangaloksa