“Satu hal yang harus kamu tahu, Hanung Bramantyo berhasil membuat Soekarno kehilangan kharismanya saat membuat film otobiografinya. Kemungkinan besar itu akan terjadi pada Minke saat Bumi Manusia ditayangkan.”

Itu adalah percakapan saya dengan seseorang—tentang seseorang ini biarlah tetap menjadi milik rahasia—ketika kami baru saja menghabiskan malam dengan cara yang tak biasa di penghujung warsa lalu. Kala itu ia menanyakan komentar saya tentang Bumi Manusia yang sedang digarap Hanung.

Belum sampai sebulan lewat, saya juga menggelar perdebatan dengan seorang kawan mengenai film ini. Saya masih bersikukuh dengan argumentasiku sejak awal: bahwa Bumi Manusia takkan dimaknai dengan cara yang sama saat kita membaca langsung karya tersebut. Para penonton yang tak membacanya takkan tahu bahwa Pram menulis Bumi Manusia saat sedang menjalani hidupnya sebagai persona non grata di pembuangan Buru yang sunyi dan bla, bla, bla…

Sederet argumentasi saya bentangkan untuk mendebatnya. Tapi, ia membalasnya dengan nada dan intonasi yang tenang, meski saya tahu, ia dongkol dengan sikap dogmatis yang saya tunjukkan padanya. Dia tahu betul bahwa saya memosisikan Pram sebagai seorang yang istimewa dalam hidup. Bumi Manusia menjadi buku pertama yang saya tamatkan. Buku itu pula yang membuat saya berkeinginan untuk menulis dan mendorong saya mengangkat Pram sebagai tema skripsi. Teman-teman yang ada pada saat itu hanya mendengarkan dan sedikit berkomentar. Seorang kawan menyebut saya sebagai seorang ‘Pramis garis keras’ dan saya tahu, itu bukan pujian melainkan sarkasme nan kejam. Setelah itu, suasana menjadi dingin.

Saat tiba di rumah, saya berpikir ulang apa yang baru saja terjadi. Perasaan sesal mulai menggerogoti saya. Pertemuan yang serau digelar itu saya akhiri dengan cara yang tak mengenakkan.  Tiba-tiba saja—saat rasa sesal sedang menggagahi—kalimat “Kau terpelajar, harus berlaku adil sejak dalam pikiran,” berkelabat di seisi pikiran. Membuat parasaan bersalah kian bertalu-talu.

Saya telah keliru: perbuatan saya tadi bukanlah pujian melainkan menyangkal pikiran Pram. Saya tak berlaku adil sejak dalam pikiran: mengkritik Hanung habis-habisan sebelum film itu terbit. Saya juga mendebat orang yang melihat dari sudut pandang yang berbeda dan celakanya, itu sahabat saya sendiri.

***

Saya memilih untuk menonton Bumi Manusia sendirian. Selain karena tak ingin diganggu oleh percakapan-percakapan tak perlu, andai saja saya ditemani orang lain, saya juga sedang tak sudi digerogoti kenangan di dalam ruangan bioskop karena pernah berjanji akan menonton film ini bersama ‘seseorang’. Justru karena itu saya enggan pergi dengan orang lain selain dengannya, meski saya tahu, itu muskil terjadi.

Dalam ruang tunggu yang disesaki orang-orang berpacaran itu, saya merasa lucu sekaligus kesal: lucu karena biasanya saya diam-diam mengejek mereka yang melewati momen-momen seperti ini tanpa pasangan, dan kesal karena saat ini saya yang mengalami momen apes ini.

Saya sedang membaca kumpulan cerpen Kompas Doa yang Terapung (2018) saat mendengar pengumuman “Pintu Teater 1, telah dibuka”. Itu ruangan yang akan memutar Bumi Manusia. Saya bergegas menuju ruang bioskop. “Indonesia Raya” dikumandangkan sebelum film ini diputar. Semoga maksud dari pemutaran lagu ini bukan hanya karena untuk menyambut kelahiran Indonesia, tetapi juga menjadi sebuah tanda penghormatan kepada seseorang yang karyanya sempat dilarang beredar dan digilas oleh rezim buruk rupa yang pernah berkuasa. Saya dan penonton yang lain serentak berdiri dan menyanyikan lagu ini hingga tandas.

Suara serak Iwan Fals yang khas mengawali film ini dan membuat saya makin gelisah: apakah Hanung akan berhasil dalam mengalihwahanakan film ini? Tapi, saya sudah lebih dulu membuka diri untuk menerima segala kemungkinan yang ada.

Beberapa detik setelah suara Iwan Fals lenyap, film dibuka dengan adegan Minke dibangunkan oleh Robert Suurhorf. Wajah tampan idaman anak kekinian yang terpancar dari Iqbal Ramadhan serta suara manjanya sudah cukup membuat saya jengkel sedari awal, namun tak cukup kuat untuk mendorong saya angkat pantat. Saya tetap sabar dan menanti kejutan apa yang akan dihadirkan Hanung dalam adegan-adegan berikutnya.

Tokoh-tokoh Bumi Manusia hadir satu-persatu. Tokoh Robert Mallema (Giorgino Abraham) terkesan tak pas dengan akting yang sangat dipaksakan membuat kejengkelan ini makin menjadi-jadi. Annalies (Mawar Eva de Jongh) kemudian muncul setelah Minke dan Suurhorf tiba di Wonokromo. Sampai di sini, paras anggun Mawar Eva cukup mengobati kekesalan saya. Selanjutnya, sosok yang paling saya tunggu, Nyai Ontosoroh, hadir menyusul percakapan yang baru saja digelar antara Minke dan Annalies. Wajah kharismatik dan kecantikan khas bangsawan Jawanya membuat kemurkaan saya pada adegan-adegan tadi—juga pada Hanung—sejenak terlupakan.

Momen demi momen dalam film saya lewati dengan khidmat dan penuh takjub. Hanung seolah-olah menampar saya yang menuduh bahwa film ini akan menjadi sebuah roman picisan yang sekadar berorientasi pada penetrasi kapital; tanpa menonjolkan semangat zaman pada babak pergerakan nasional dan awal mula terbentuknya kesadaran nasion, dengan menunjukkan potret-potret kehidupan rakyat Indonesia (Jawa) pada saat kolonialisme masih bercokol. Ia dengan sangat cemerlang mampu memilih setiap momen penting yang berlangsung di sekitar percintaan dua anak manusia, tanpa menegasikan kenyataan sosial dari sebuah bangsa yang terperintah saat itu.

Beberapa highlight lain semisal adegan di mana Minke merangkak memasuki kediaman bapaknya (yang menunjukkan kekejian dari suatu corak feodal yag merendahkan derajat manusia); golongan pribumi yang menghujani Ontosoroh dengan umpatan di pengadilan pribumi (yang menegaskan bahwa kesadaran atas nasion Indonesia masih abstrak pada saat itu); serta kesetiaan tak terpermanai yang ditunjukkan oleh Darsam, dihadirkan dengan begitu baik oleh Hanung.

Ini bukan persoalan yang mudah karena memerlukan penghayatan yang mendalam dan estetika yang teramat khusus untuk dapat menangkap momen-momen yang memakan waktu lebih dari satu dekade itu, lantas mengemasnya menjadi sebuah kisah yang berdurasi kurang lebih tiga jam.

Terlepas dari wajah manja Iqbaal, ia cukup baik untuk berusaha menjungkir-balikkan stereotipe orang-orang—termasuk saya—yang melekatkannya pada sosok Dilan. Jika bukan Iqbaal yang memerankan Minke, saya haqqul yakin film ini takkan dinanti-nanti oleh begitu banyak orang, dan jangan harap nama Pram diperbincangkan.

Saya pikir, Pramis-Pramis konservatif sampai ekstremis, berutang pada nama beken Iqbaal yang berhasil membuat sosok yang selama ini kita usahakan dikenal dan dikenang oleh manusia Indonesia kembali diperbincangkan di mana-mana; termasuk juga oleh generasi buta literasi yang selama ini kita kutuk.

Yang tersisa, kita hanya bisa berharap bahwa penonton tak berhenti hanya sampai di film itu: mereka akan tertarik untuk membaca langsung dan menyelami karya-karya Pram yang lain, dan syukur-syukur, berakhir dengan menganggap Soeharto sebagai rezim antiaksara yang telah memenjarakan seorang sastrawan paling terkemuka yang pernah dimiliki bangsa ini.

Kita semua punya hak untuk menafsirkan Bumi Manusia, termasuk juga Hanung. Film ini masih ada cacat dan lubang di sana-sini. Tapi, jika karena hal itu kita merasa punya hak untuk menghantam dan mencaci Hanung, izinkan saya mengutip sebuah frasa yang mengubah pandangan saya dalam melihat persoalan ini: “Qui sine peccato est vestrum, primus lapidem mittat” (siapa yang merasa paling suci, silakan melempar batu paling dulu).

Saya kira kita semua sadar bahwa hanya Pram yang punya legitimasi untuk menghajar Hanung. Hanya Pram yang tahu remuk-redamnya saat menulis roman ini. Kalau Soesilo Toer yang selaku adik kandung Pram hanya berkomentar bahwa Hanung ‘berani’, lantas apa hak kita untuk mencaci? Silakan mundur ke belakang. Paling belakang, barangkali.

Film Bumi Manusia ditutup sama dengan novel aslinya: sebuah kepergian tanpa kepulangan yang digelar Annalies menuju Netherland. Tembang Ibu Pertiwi dengan nada murung dan agak melankolis mengakhiri cerita Bumi Manusia. Lampu dinyalakan. Saya menilik mata penonton yang sembab dan berkaca-kaca. Sayup-sayup, saya ingat apa yang dikatakan Goenawan Mohamad: “Sejarah tak selamanya murung, ternyata. Selama ada yang menggetarkan dalam kisah perjuangan yang tak sampai, tapi berharga.”

***

“Saya berharap bahwa pembaca-pembaca di Indonesia, setelah membaca buku saya, merasa berani, merasa dikuatkan. Dan kalau ini terjadi, saya menganggap tulisan saya berhasil. Itu adalah suatu kehormatan bagi seorang pengarang, terutama bagi saya. Lebih berani. Berani. Lebih berani.” (Pramoedya Ananta Toer).

Saya kemudian meraih gawai di saku dan mengetik pesan singkat ke ‘seseorang’:

“Saya keliru. Ditayangkannya film Bumi Manusia satu hari menjelang lahirnya Indonesia Merdeka, adalah kado terindah yang diberikan Hanung untuk kita semua. Untuk bangsa ini. Saya berharap Pram bisa hidup untuk menyaksikkan ini. Saya juga berharap bisa menonton dan membahasnya denganmu.”

Sayangnya, pesan itu tak jadi saya kirimkan karena cemas akan membuka kembali kotak Pandora yang sengaja saya simpan di pojokkan sunyi. ♦

About the author

Dikenal sebagai Galang Tarafannur. Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Nasional angkatan 2014. Putera Bacan yang menaruh minat pada sastra. Bisa bertegur sapa dengan penulis melalui Line di: galangtarafannur69