esai ini diterbitkan pertama kali di SPÄTKAPITALISMUS edisi kedua (Desember 2015)

Oleh: Teuku Ramzy Farrazy*

Bagaimanakah standar maskulinitas itu?  Jika ditinjau dari kacamata konstruksi sosial, maka yang tergambar dalam bayangan kita adalah sesosok pria atletis, berotot, tinggi, macho dan menggemari segala aktifitas yang juga dilabeli maskulin seperti bermain sepakbola, mereparasi barang atau mengganti ban mobil. Namun apakah definisi maskulinitas berhenti pada standar-standar tersebut saja? Beberapa waktu lalu, di linimasa Instagram saya beredar unggahan seorang teman yang memajang foto Luhan, salah satu anggota boyband EXO terkenal yang menjadi idolanya. Menurut teman saya tersebut, Luhan sangat tampan, macho dan menjadi standar suami idamannya. Hal yang menarik bagi saya adalah bahwasanya komentar seperti ini bukanlah yang pertama kalinya, namun sudah lazim kita dengar dari percakapan sehari-hari dengan teman-teman penggila K-Pop. Bagi mereka, tidak ‘laki’ kalau seorang pria tidak memenuhi standar maskulinitas ala cowok K-Pop.

Korean Pop Culture atau lebih dikenal dengan sebutan K-Pop[i] adalah suatu industri skala global yang secara fantastis telah membawa dampak yang juga fantastis: bukan hanya kepada Korea Selatan namun juga kepada banyak orang di berbagai belahan dunia.

Apa yang dijadikan komoditas dalam industri K-Pop? K-Pop mengekspor boyband, girlband, serial drama dan kemudian diikuti oleh kosmetik, snack, komik, film, fesyen dan sebagainya. Dari semua di atas, tulisan ini akan berfokus kepada boyband. Boyband adalah kumpulan penyanyi pria yang biasanya minimal beranggota tiga orang, menyanyi dan melakukan koreografi dan juga aksi lainnya seperti rap, beatboxing, dan sebagainya dalam karya-karyanya. Boyband biasanya memiliki fans atau penggemar tersendiri (yang memiliki militansi tinggi). Tidak berhenti sampai di situ, K-Pop juga memperkuat cengkeraman mereka dengan memiliki sejumlah komunitas fans yang tersebar di berbagai kota. Kebetulan, pemuda-pemudi Indonesia semenjak era 90-an mencari alternatif budaya pop baru dan menjadi pasar yang terus bertumbuh menjadi yang terbesar di Asia Tenggara (Bodden 2005). Era reformasi yang dipenuhi keterbukaan informasi dan juga kebebasan dalam berbagai aspek menjadi salah satu faktor digemarinya budaya K-Pop di Indonesia (serial drama Winter Sonata pada 2002 dianggap menjadi awal tumbuhnya budaya K-Pop di Indonesia).

Meningkatnya antusiasme anak muda tanah air juga diakibatkan faktor luasnya akses televisi berlangganan dan juga akses internet. Maka, kita tidak hanya menemukan komunitas penggemar Superjunior di Jakarta, namun juga akan dapat ditemukan di kota-kota lain di Indonesia seperti Surabaya, Medan, dan seterusnya. Itu baru untuk boyband Superjunior. Belum boyband lainnya seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Pada 2010, tidak kurang ada 120 acara atau event yang digelar oleh komunitas fans di Indonesia.  Hal ini menunjukkan bahwasanya industry K-Pop adalah industri yang digarap secara serius, alias tidak main-main.

Adapun beberapa boy band K-Pop yang terkenal dan mendulang sukses di mancanegara yaitu Bigbang, Superjunior, SHINee, MBLAQ dan 2PM. Sebelum mereka bergabung dengan agensi, agar mereka dapat menjadi ‘produk’ yang menjual, mereka harus melewati serangkaian pelatihan dan juga make-over yang wajib dilakukan sesuai kontrak. Mereka harus tahu kapan mereka boleh beraktifitas santai, kapan mereka harus berlatih koreografi, latihan vokal, berolahraga untuk membentuk otot dan juga perut yang  six pack, serta sejumlah operasi plastik untuk menyempurnakan beberapa bagian dari wajah seperti mengubah bentuk dan ukuran hidung atau rahang. Warna dan gaya rambut juga diatur sedemikian rupa agar tampak  berbeda.

Mereka menggunakan identitas yang berbeda karena sekali pria-pria tersebut memasuki industri K-Pop, maka mereka harus menjadi seseorang yang baru. Untuk urusan fans, mereka rajin menyapa penggemar dengan mengadakan konser, tur keliling beberapa negara dengan populasi fans (fandom) yang besar, seperti Indonesia atau Thailand. Berkat kicauan Twitter fans asal Indonesialah pada bulan Oktober tahun 2010 Superjunior dapat bertengger menjadi topik yang paling banyak diperbincangkan di ranah Twitter, mengalahkan berita tragedi terjebaknya 33 pekerja tambang di Cile[ii].

Maskulinitas sendiri menurut Webster’s New World adalah istilah yang mengacu kepada hal yang bersifat kelelakian. Definisi ini kemudian berkembang menjadi kaku dengan mengkonstruksi bahwa maskulinitas itu ialah sesuatu yang macho, tangkas, berkeringat, teguh, berani, kasar, dan sebagainya.

Bagaimana dekonstruksi maskulinitas terjadi? Pria yang berdandan ala K-Pop ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang. Di Indonesia, bila pada era nenek-kakek kita definisi maskulin itu adalah pria yang berambut klimis dengan kumis hitam seperti penyanyi Melayu terkenal P. Ramlee, dan orangtua kita banyak mengidolakan John Travolta, Barry Prima, Silvester Stallone atau Arnold Schwarzenegger dengan tubuh atletis mereka, maka kini kita melihat figur pria dengan wajah imut (atau bisa disebut cantik), tubuh langsing dengan kulit mulus terawat (dan jangan lupa bulu mata lentik!) yang menjadi pesona tersendiri  bagi kaum muda hingga ibu-ibu. Sedang terjadi sebuah dekonstruksi maskulinitas pada banyak orang Indonesia. Tangan berotot besar dengan bulu yang lebat, berpeluh atau kemampuan beladiri tidak lagi menjadi pilihan utama masyarakat, karena pria-pria K-Pop menjadi alternatif baru bagi masyarakat.

Seperti sudah saya ungkapkan di awal pembahasan: tidak ‘laki’ kalau tidak mengikuti gaya pria Korea. Walaupun secara biologis, jika dibandingkan dengan tubuh pria Kaukasia atau Barat, tubuh pria Asia tentunya lebih kecil  dan diberi stigma ‘kurang jantan’ atau tidak memenuhi standar maskulinitas. Stigma seperti ini muncul terutama pada era kolonial di Asia. Di Indonesia sendiri pada era Orde Baru, generasi orang tua kita mengalami proses indoktrinasi supremasi bersifat militeristik yang kemudian berdampak pada melejitnya pamor prajurit atau tentara yang gagah  sebagai sosok pria ideal bagi perempuan Indonesia pada umumnya. Pria Jawa tradisional memelihara kumis sebagai wujud ketampanan dan kegagahan. Hal ini dimaknai bahwa tubuh secara biologis telah dilabeli dengan makna-makna sosial. Stigma, lalu konstruksi sosial dominatif seperti inilah yang kemudian tergantikan dengan nilai-nilai maskulinitas baru yang berasal dari Korea Selatan. Maskulinitas ini kemudian dikenal sebagai maskulinitas new man.[iii] Istilah ‘new man’ termasuk mengacu kepada kategori wimp[iv] pada pengelompokan kontinum maskulinitas Jewitt.

K-Pop hadir dan mendekonstruksi konsep maskulinitas yang selama ini seolah menjadi kaku di mata masyarakat terutama di area urban. Dulu saya pernah menanyakan orientasi seksual anggota-anggota boyband K-Pop kepada teman saya yang merupakan fans superjunior. Ia menjawab bahwa tidak semuanya adalah homoseksual. Kesan ‘cantik’ atau ‘homo’ yang ditampilkan oleh boyband K-Pop harus ditempatkan sebagai ranah ekspresi gender saja, bukan orientasi seksual. Di stasiun kereta bawah tanah (metro) kota Seoul, sangatlah lazim jika kita menemukan pria muda berseragam militer mengenakan lip tint atau lip balm di tengah keramaian. Pria yang berdandan necis dengan telinga beranting dan membawa tas belanjaan adalah hal lumrah. Ini merupakan sebuah gender reversal[v] yang menunjukkan dekonstruksi maskulinitas.

Di Korea, jika anda masih berkumis, memelihara janggut dan tidak pandai merawat tubuh, maka anda akan dianggap tidak tampan. Kemapanan hegemoni maskulinitas yang secara tradisional mengeliminasi pria-pria dengan karakteristik tubuh yang tidak memenuhi standar maskulin, kini harus rela berbagi tempat dengan konsep baru yang ternyata diterima oleh masyarakat luas. Fenomena ini menunjukkan bahwa ada beragam ide dan gagasan mengenai ketampanan, tidak melulu soal otot dan rambut (kumis, bulu dada, dan sebagainya).

Mengapa dekonstruksi ini juga sarat akan kontroversi? Maskulinitas new man juga membawa nilai-nilai konsumtivistis – yang sejalan dengan libido kapitalisme global – di dalamnya. Konsep bahwa tampan itu harus seperti Kyu Hyun atau Lee Teuk, ternyata dapat menguras rekening tabungan beratus-ratus  juta. Mulai dari operasi merombak bentuk hidung, memperbesar kelopak mata,  mengikir rahang, suntik putih dan kolagen, mengubah gaya rambut, juga beragam produk perawatan kulit dari merk seperti Nature Republic, SAEM, Etude House, Tony Moly dan juga the Face Shop, mendulang keuntungan besar dari dekonstruksi maskulinitas tersebut. Klinik kecantikan yang bertebaran di seantero Seoul juga menjawab mengapa nilai-nilai konsumtivistis terdapat kuat dalam K-Pop yang tergolong sebagai soft diplomacy Korea Selatan ini. Untuk gambaran, kisaran biaya operasi plastik di Korea Selatan adalah USD 2.000-3.000.

***

Industri K-Pop pada awalnya merupakan ide gila untuk menjawab solusi krisis moneter 1997 yang berdampak buruk bagi perekonomian Korea Selatan.[vi] Ide gila tersebut direalisasikan oleh Presiden Kim Dae Jung yang mendirikan the Cultural Content Office, semacam badan khusus yang memajukan budaya pop Korea (Yulius 2015). Melalui badan khusus ini pemerintah Korea menyuntikkan tak kurang dari 5,2 miliar dollar pada tahun 2014 atau sekitar 1,4% dari besaran APBN Korea[vii]. Investasi yang fantastis tersebut juga menghasilkan buah yang manis. Pada 2013, Korea menerima devisa lima miliar dolar hanya dari K-Pop. Diprediksi bahwa pada 2017 angka tersebut akan berlipatganda menjadi 10 miliar dollar! Hanya dari ekspor budaya pop yang ‘dihumasi’ oleh oppa-oppa[viii] tampan. Buktinya? Cari saja kata kunci cover dance K-Pop di Youtube, maka anda dapat menemukan pertunjukan cover dance K-Pop oleh pemuda-pemuda berbagai negara, mulai dari Indonesia, Mesir, sampai Amerika Serikat.

Dekonstruksi ini sudah berjalan di Indonesia, walaupun sebagian masyarakat menilai buruk dan merasa terganggu. Sudah lazim kita temui pria Indonesia yang berdandan ala boyband (untuk perbandingan, coba lihat boyband Indonesia seperti SMASH, XO – IX  atau Hitz) dan tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk keperluan tersebut. Dekonstruksi maskulinitas K-Pop memerlukan proses pembentukan tubuh yang juga memerlukan biaya. Uang yang dihabiskan untuk membeli produk kosmetik Korea (saya juga memakainya, meskipun saya bukan termasuk fans boy band Korea Selatan!) tentunya akan mengalir menjadi devisa dan memperkuat negara tersebut. Lihat, The Face Shop dan Etude House sudah membuka beberapa outlet di Indonesia. Artinya? Korea Selatan mendulang devisa yang tinggi dengan cara ‘menjual’ pria-pria tampannya bukan hanya kepada para fans namun juga segmen masyarakat yang lebih luas. Rumusnya yaitu Tampan = Korea. Kalau ingin tampan, maka anda harus seperti orang Korea Selatan. Jika ingin seperti orang Korea Selatan, maka anda harus membeli produk-produk perawatan wajah dan tubuh asli Korea Selatan.

Untuk refleksi, sesungguhnya ketampanan memiliki definisi yang berbeda bagi setiap individu. Menjadi tampan dan maskulin tidaklah melulu harus mengikuti tren yang sedang berkembang, walaupun mengikuti tren adalah wajar dan sah-sah saja. Pertimbangan-pertimbangan lain seperti ekonomi tentu menjadi argumen yang logis terkait dengan biaya besar yang menjadi konsekuensi dari gaya K-Pop. Menjadi diri sendiri masih menjadi solusi yang tepat, walaupun terdengar klise, untuk lebih merangkul dan menerima tubuh kita. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai seberapa besar dekonstruksi maskulinitas ini berlangsung di Indonesia, mengingat fenomena ini masih sebatas terlihat di area urban saja. Perlu juga dikaji seberapa lama dekonstruksi ini akan bertahan mengingat konstruksi maskulinitas bersifat hegemonis masih bertahan walaupun tidak lagi terlalu mendominasi secara superior.

Maskulinitas new man baru ala K-Pop merupakan contoh sukses sebuah bangsa yang merombak ulang definisi ketampanan seorang pria dan membawa segunung devisa yang fantastis hanya dengan menjual apa yang disebut sebagai ‘ketampanan’.

Oppa, otteokke!!!

*

*Teuku Ramzy Farrazy meminati isu LGBT dan HAM. Gemar memasak, menyanyi dan mendiskusikan seksualitas. Ia dapat dijangkau di Twitter via @teukuramzyfzy atau akun instagramnya, @schmidtram.

Referensi:

  1. Bodden, Michael. 2005. “Rap in Indonesian Youth Music of the 1990s: ’Globalization,’ ‘Outlaw Genres’ and ‘Social Protest”. Asian Music 36.
  2. Jung, Sun. 2011. K – Pop, Indonesian Fandom and Social Media. Transformative Works and Culture. 8
  3. com http://vibiznews.com/2014/09/10/k-pop-industri-keren-kerenan-penghasil-miliaran-dolar-devisa/
  4. Yulius, Hendri. 2015. Coming Out. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
  5. Zahida, Ana. 2013. Representasi Maskulinitas New Man Boy Band Indonesia Dalam Video Musik. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

[i] Dikenal juga dengan istilah Hallyu atau Korean Wave.

[ii] Jung, Sun. 2011. K – Pop, Indonesian Fandom and Social Media. Transformative Works and Culture.  Vol. 8

[iii] Dikategorikan sebagai maskulinitas yang terfeminisasi, mencoba menggeser wacana maskulinitas tradisional.

[iv] Berarti “the other passive guy” yang sering dipergunakan oleh Media untuk mendekonstruksi hegemoni maskulinitas.

[v] Pertukaran gender

[vi] Krisis Moneter Asia 1997 berdampak terutama terhadap Indonesia, Thailand dan Korea.

[vii] http://vibiznews.com/2014/09/10/k-pop-industri-keren-kerenan-penghasil-miliaran-dolar-devisa/

[viii] Abang; kakak lelaki dalam Bahasa Korea.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.