Kala itu umurku 17 tahun. Pada masa itulah ada suara yang datang menghantuiku. Tepatnya dua minggu setelah kedua orang tuaku ditembak mati tepat di depan kedua bola mataku. Mereka ditembak di bagian kepala. Terkapar, tanpa bisa memberikan pesan terakhir untukku.

Pada waktu itu, aku dan kedua orang tuaku sedang asyik menonton di ruang tamu. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu yang menggebu-gebu dari depan rumahku. Ibuku pun langsung bergegas untuk membukakan pintu.

Dalam hitungan menit, terdengar suara ringkikan ibu.

“Jangan bunuh suamiku! Pergi kau, jangan ganggu keluarga kami!” pekiknya.

Aku dan ayah yang kaget mendengar lolongan ibu, langsung beranjak menghampirinya. Pantas saja, kudapati ada seorang lelaki memegang pistol yang memakai jaket kulit dan masker hitam. Begitu ia melihatku dan ayah dating, ia langsung mengacungkan senjatanya ke ayahku. Aku dan ayah terdiam sejenak seperti patung. Ibuku yang khawatir mencoba menghalangi dan melindungi ayahku. Namun kenyataan tak sesuai dengan kehendak kami. Pria itu melontarkan peluru pertama ke arah ibuku. Setelah ibuku terkapar, ia melepaskan kembali tembakan kedua ke arah ayahku. Setelah selesai menembak mereka berdua, ia kabur dengan sebuah mobil berwarna hitam yang sudah siap menjemputnya. Aku begitu menyesali kematian kedua orang tuaku, karena aku tidak bisa mengenali wajah si pembunuh, serta motif mengapa ia membunuh orang tuaku.

Setelah peristiwa itu, aku tinggal bersama tanteku. Aku merasakan ada yang aneh padaku. Waktu itu aku ingat, ketika pagi hari aku sedang meminum secangkir teh di kamarku. Tiba-tiba aku mendengar suara orang yang cekikikan. Sontak aku kaget serta bingung. Kucoba longok ke luar jendela dan kolong tempat tidurku, ternyata tidak ada orang yang kulihat.

Di malam harinya, pada saat aku sedang mandi suara itu hadir lagi serta berkata, Potong lehermu sekarang juga, ucapnya mengajak. Untuk apa kau hidup lagi, bunuhlah dirimu sekarang agar kau bisa bergabung bersama orang tuamu lagi, tambahnya. Dan baru kusadari, ternyata suara itu berada di dalam kepalaku sendiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku.

***

Pagi itu datang, burung kenari pamanku dan ayam jago milik tetangga saling berpaduan. Cahaya mentari yang membias masuk dari jendela ke sudut-sudut tembok kamarku itu adalah pertanda untuk aku segera bersiap sekolah. Setelah aku mandi dan memakai seragam, aku pun bergegas berangkat ke sekolah. Di dalam perjalanan, aku yang sedang menunggu kedatangan bis lalu dikacaukan oleh suara misterius itu lagi.

Ayo cepat bunuh dirimu. Tabrakkan dirimu ke mobil-mobil yang sedang melaju kencang itu!

Suaranya kini bukan hanya satu atau dua, melainkan tiga sampai lima. Mereka saling sahut-menyahut dalam kepalaku. Mengajakku untuk mati dan mengimingi agar aku bisa bertemu dengan kedua orang tuaku lagi. Akhirnya aku pun menutup telinga dengan kedua tanganku dari halte bis sampai di sekolah.

Di dalam kelas, aku menjadi sangat pendiam. Suara itu terus berceloteh dan menertawakan hidupku. Aku tetap mencoba memfokuskan pikiranku pada guru yang sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas. Tapi tidak bisa, semakin aku memfokuskan terhadap hal yang lain, suara itu semakin nyaring di dalam kepalaku.

“Darwin, ibu lihat kau diam saja dan tidak fokus dari tadi, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya guruku.

“Tidak Bu, aku hanya kurang tidur saja semalam,” tangkisku mengelak.

Guruku hanya diam dan tak menanyakan lagi. Ia memandangku dengan geram, seakan raut wajahnya tak percaya dengan jawabanku. Dasar kau pembohong! Memang layak kau untuk mati, ucap suara dalam kepalaku. Mengapa suara ini tidak bisa hilang? Aku semakin bingung dengan situasi seperti ini. Suara ini sangat menggangguku. Mereka kini bisa menguasai atas diriku sendiri. Suara itu terus-menerus mencemoohku tanpa henti. Darwin, kau hanya jadi benalu dalam keluarga tantemu. Kau adalah pembawa sial! Lebih baik gantung dirimu sekarang di toilet sekolah, bodoh!

“Diam monyeettt!!!” teriakku dengan keras dan jelas. Aku sudah tak tahan dengan suara ini. Suara mereka benar-benar membuat kepalaku ingin meledak.

Lantas dalam sekejap, banyak mata yang mengawasiku. Aku menjadi pusat perhatian oleh seluruh teman dan guruku di dalam kelas. Mereka semua terheran-heran denganku, sebab aku telah mengatakan hal yang tak pantas ketika keadaan kelas sedang kondusif.

“Ada apa Darwin? Kamu tidak suka dengan pelajaran dari ibu?” tanya guruku dengan tegas.

Matilah aku! Ini semua karena suara-suara bajingan itu. Aku pun hanya bisa diam dan tertunduk saja ketika guruku menanyakan hal tersebut.

Ketika jam istirahat tiba. Aku dibawa oleh guruku untuk menghadap kepala sekolah, perihal ucapan yang tak pantas saat di kelas. Aku disidang oleh mereka. Akhirnya, kuberanikan diri untuk jujur, tentang adanya suara-suara aneh yang mengganggu di dalam kepalaku ini. Kuceritakan bagaimana tentang suara itu menyuruhku untuk membunuh diriku serta mencaciku. Kepala sekolah dan guruku tidak mampu memberiku solusi. Lalu, mereka memberi izin pulang untukku untuk menjaga kesehatan dahulu di rumah.

***

Sudah dua bulan lamanya suara itu selalu berbicara dan menyuruhku dengan berbagai cara untuk bunuh diri. Pihak sekolah akhirnya melaporkanku terkait penyakit yang kuderita kepada tanteku. Tanteku lalu mengajakku ke rumah sakit yang tidak jauh dari rumah. Ketika aku dan Tante sampai di rumah sakit. Dokter pun bilang bahwa aku mengalami penyakit Skizofrenia. Aku disarankan oleh dokter untuk segera dirawat di rumah sakit jiwa dan menjalani pengobatan secara rutin.

Pada saat di rumah sakit jiwa. Kulihat para pasien yang lain ada yang berbicara dengan tembok, bahkan ada juga yang merasa dirinya adalah seorang Presiden. Aku merasa bersyukur bahwa penyakitku ini tidak separah mereka.

Tiga minggu aku menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa. Tapi belum ada tanda-tanda perkembangan kesehatanku. Obat yang diberikan dari pihak rumah sakit juga hanya membuatku merasa kantuk dan lemas saja. Namun tidak menghilangkan suara-suara dari dalam kepalaku.

Pada suatu sore, kulihat ada pasien baru yang datang. Tampaknya ia tak separah pasien yang lain. Namanya Edwin, umurnya lebih tua lima tahun dariku. Benar saja, dalam waktu singkat, ia menjadi teman akrabku. Edwin-lah sahabatku yang pertama di dalam rumah sakit jiwa. Sebelumnya aku sudah mencoba beberapa kali mengajak berbincang para pasien yang lain. Tapi tak kunjung ada yang bisa aku ajak berbicara. Malahan salah satu dari mereka berkata, aku adalah seorang penista agama.

Waktu terus berputar, sudah enam bulan aku berada di rumah sakit jiwa. Aku ingat hari itu adalah hari Minggu, di mana para penjaga tidak terlalu memperhatikan pasien seperti di hari lainnya. Selama berada di sana, sudah dua kali aku ingin dibunuh pasien lain. Alasan mereka membunuhku juga begitu konyol, yaitu karena aku dibilang pengorupsi dana pendidikan dan sebagai pelaku pelempar bom atom Hirosima dan Nagasaki. Setelah aku merasa jenuh, kuputuskanlah dengan Edwin untuk melarikan diri dari rumah sakit jiwa.

Setelah misi kami berdua berhasil. Aku dibawa Edwin untuk tinggal di rumah pamannya. Sesampainya di sana, pamannya kala itu tidak marah ketika kami menceritakan bahwa baru saja melarikan diri dari rumah sakit jiwa. Mungkin ia bisa memahami dan mengerti akan perasaan kami ketika berada di sana.

Di rumah pamannya, aku begitu merasa nyaman ketimbang di rumah sakit jiwa. Tapi tetap, suara-suara ini tidak bisa hilang dengan mudah dari dalam kepalaku. Mereka terus saja berceloteh sesukanya. Hal yang kurasakan ini tentu juga dirasakan Edwin.

***

Nama pamannya adalah Andre. Di sana, sering kali kami dimanjakan dengan makanan yang enak dan lezat. Tak seperti yang disajikan ketika berada di rumah sakit jiwa. Makanan yang diberikan menyerupai sup-sup belatung dan gulai kodok buduk. Dan baru kali ini lagi lidahku mencicipi masakan yang memiliki rasa. Pada suatu ketika, Paman Andre mengajak kami untuk berobat di salah satu kenalannya. Ia tak tega melihat kami terus dibayang-bayangi suara itu. Maka, kami pun dibawa ke tempat kenalannya tersebut, yaitu seorang dukun.

Setibanya di sana, kami menceritakan tentang suara-suara yang ada di kepala kami yang menyuruh untuk bunuh diri. Dukun itu mengangguk-angguk saja. Tak lama, ia meminta waktu untuk bermeditasi. Lalu ia memejamkan mata dan terlihat mulutnya komat-kamit membaca sebuah mantra di hadapan kami.

Ketika matanya terbuka, dukun itu berkata, “Teman gaibku bisa membantu mengatasi dan menyembuhkan penyakit kalian.”

“Lalu apa yang harus dilakukan?” tanya Paman Andre merepresentasikan kami.

“Penyakit ini hanya bisa disembuhkan dengan satu syarat saja,” cetus si dukun.

“Apa itu syaratnya?”

“Syaratnya adalah bersetubuh dengan kucing setiap Jumat malam selama satu bulan berturut-turut. Tapi, tidak menggunakan kondom atau sehelai benang pun,” Kata dukun itu seperti layaknya dokter spesialis.

Aku tersentak mendengarnya. Kami bertiga saling bertatap-tatapan satu sama lain. Wajah kami terlihat dungu. Jika memang benar syarat itu, tentu saja tak ada bedanya dengan memakan kotoran sendiri. Sangat menjijikan. Cuih!

Ketika sampai di rumah, Paman Andre membujuk kami untuk mengikuti saran si dukun gila tersebut. Aku hanya bisa diam kala itu. Aku memang sudah muak dengan suara yang menggganggu di kepalaku ini. Tapi, lebih muak lagi ketika menyetubuhi seekor kucing dengan memakai kemaluanku sendiri. Apa kata dunia?

Paman pun memberi pilihan pada kami. Ia tak memaksakan kami untuk melakukan syarat dari si dukun. Namun ia mengatakan akan tetap menyediakan kucing untuk kami. Antisipasi, jika kami berubah pikiran nanti.

***

Pada Sabtu pagi ketika aku terbangun dari tidurku, kulihat Paman Andre sedang asyik duduk sambil menonton berita di ruang tamu. Tak lama, segera ia menyadari akan kehadiranku yang berjalan dari belakangnya.

“Hei, Darwin. Kau sudah bangun rupanya. Oh ya, sarapan pagi sudah disiapkan di meja,” kata Paman Andre sambil tersenyum kecil.

“Baik, Paman. Aku akan sarapan bersama Edwin, sebentar lagi biasanya dia akan bangun,” jawabku sambil melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 06.54. Aku sudah mengetahui kebiasaan Edwin sedari di rumah sakit jiwa. Ia selalu bangun ketika jam 7 pagi.

“Sudah, kau makan saja duluan, biar nanti si Edwin menyusul,” suruh Paman Andre kepadaku.

“Nanti saja paman. Aku juga belum terlalu lapar,” jawabku bohong padanya.

Tiba-tiba Paman Andre berjalan meninggalkanku dan menuju ke kamar Edwin. Ia mengetuk pintu kamar, sambil memanggil-manggil namanya. Lihatlah, kau selalu mengganggu hidup orang lain! Hidupmu tak berguna Darwin, tak berguna! kata suara itu. Akhirnya, Paman Andre langsung membuka pintu kamar yang kebetulan tidak terkunci. Kudengar suara Paman Andre berteriak cemas dari dalam kamar Edwin. Dengan segera kuhampiri Paman Andre.

Mataku terbeliak sesampainya di kamar Edwin. Kutemui Edwin sudah tewas mengenaskan dengan pisau dapur tertancap tepat di dada kirinya. Kedua tangannya masih menggenggam erat pada gagang pisau di dadanya itu. Terlihat juga matanya yang masih melotot, seakan kematiannya membawa sebuah kebencian yang teramat mendalam. Hatiku berserakan, pecah bagai magma yang mendobrak puncak gunung. Kini temanku satu-satunya, sudah meninggalkanku untuk selama-lamanya.

Semenjak kematian Edwin. Aku semakin bersemangat untuk melawan suara-suara dalam kepalaku. Aku tidak ingin menjadi seperti Edwin yang telah mengikuti ajakan-ajakan suara bajingan itu. Dan entah mengapa, hanya syarat dari si dukun yang selalu saja terngiang olehku.

Pada Jumat malam, aku bertekad untuk melakukan ritual yang disarankan oleh si dukun. Kuambil kucing itu dari kandang dan segera kutaruh di atas ranjangku. Tanpa pikir panjang lagi, kubuka celanaku. Kulihat jam di dinding kamar menunjukan pukul 00.06. Persetan dengan semua ini, bila hanya ini satu-satunya syarat untuk bisa sembuh, maka akan kulakukan! batinku berontak. Benar saja, kala itu kemaluanku tidak bangun. Jadi aku menyempatkan bermasturbasi terlebih dulu membayangkan wanita tercantik sewaktu di sekolahku dulu. Ketika kemaluanku sudah tegang, segera kutancapkan pada bagian belakang kucing. Kucing itu berontak dengan suaranya yang hebat, seakan ingin meminta tolong pada seluruh dunia. Jadi, kupejamkan mataku, kubayangkan kembali wanita pujaanku tadi. Setelah selesai, kubuka kembali mataku. Aku pun terkaget ketika menyadari kucing itu sudah mati sehabis kusetubuhi.

***

Setelah kesembuhanku pulih karena melakukan ritual yang disarankan oleh dukun. Aku berniat untuk kembali ke rumah tanteku. Sebab aku tak ingin merepotkan keluarga Paman Andre lebih lama, walau ia tidak melarangku untuk tinggal di sana. Tapi perasaan sungkan, semakin hari semakin besar, apalagi setelah aku sembuh. Lalu kuputuskan untuk kembali lagi ke rumah tanteku. Aku berpamitan pada keluarga Paman Andre. Dan aku sempatkan pula untuk berziarah ke makam Edwin sambil menceritakan kemenangan ini padanya.

Pintu rumah kuketuk. Dibuka oleh tanteku. Ia sangat kaget bahwa dihadapannya adalah aku. Ia memelukku dengan kencang, bagai seorang yang bangkit dari kematian.

“Dari mana saja kau Darwin? Tante sangat cemas padamu. Pihak rumah sakit bilang, bahwa kau melarikan diri dari sana,” tutur tanteku dengan memandang nanar.

“Panjang sekali tante bila aku ceritakan. Yang jelas sekarang penyakitku sudah sembuh total,” dengan rasa bangga seperti meraih peringkat pertama di dalam sekolah, kuberitahukan kesehatanku padanya.

Tanteku merasa sangat lega mendengar kabar kesehatanku. Tapi ia masih penasaran dengan apa yang sudah kualami. Mulailah kuceritakan dari awal hadirnya Edwin, Paman Andre, dukun, hingga kucing itu.

Hampir dua minggu aku tinggal seperti sedia kala di rumah tanteku. Sempat dua hari yang lalu pamanku menawarkan pekerjaan. Katanya, agar aku mempunyai kesibukan lain setelah aku berhenti dari sekolah. Namun aku menolaknya secara halus. Setelah penyakitku ini sembuh, aku berjanji untuk tidak menyusahkan dan menggantungkan hidupku lagi terhadap orang lain.

Malam datang, kurasakan suhu badanku terasa panas. Tubuhku menjadi sangat lesu seperti tak bertulang. Aku hanya bisa tergeletak di dalam kamarku. Sampai di pagi hari, tante menemukanku yang tergolek lemas tak berdaya di dalam kamar.

Sudah tiga hari demamku tak kunjung sembuh. Akhirnya tante memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit. Dokter pun mulai memeriksaku dengan teliti. Kulihat raut wajahnya memasang gelagat tidak baik ketika memeriksaku. Setelah selesai, dokter itu lalu berbisik kepada tante dari hasil pemeriksaan kesehatanku.

“Ada apa, Dok? Mengapa kau tidak memberitahuku?” tanyaku dengan penasaran.

Dokter itu hanya tersenyum kecut, lalu menepuk bahuku dengan pelan. Ia pun pergi meninggalkanku di dalam ruangan.

Wajahku langsung terlempar ke arah tanteku, “Kenapa tante? Apa yang Dokter katakan tadi?”

Tanteku menangis tersedu-sedu, “Darwin, kau mengidap Aids.”

Seketika jantungku merosot, seperti di lempar dari puncak gunung yang paling tinggi dan pecah berkeping-keping. Aids! Pikiranku menjadi kosong sejenak. Hanya terbayang wajah si dukun yang tertawa terbahak-bahak kala itu. Penyakit ini pasti kudapat karena telah menyetubuhi kucing sebanyak empat kali, ratapku penuh penyesalan di hati. Entah apa sekarang yang harus kuperbuat setelah mengetahuinya. Menangis? Emosi? Aku tidak tahu.

Aku kembali dirawat di rumah sakit. Tante dan paman selalu setia menemaniku di sana. Kupandangi wajah mereka berdua yang nelangsa. Aku tahu penyakit ini akan terus menggerogotiku cepat atau lambat. Tapi aku tetap mencoba membingkai wajahku agar tetap terlihat normal, berharap mereka berdua tidak begitu kikuk melihat keadaanku yang seperti ini.

Dua bulan berlalu. Tubuhku menjadi sangat kurus. Kesehatanku merosot dengan cepat. Rambut-rambutku juga sudah menipis, bahkan copot satu persatu dari tempatnya. Tante dan paman tidak bisa berbuat banyak melihat kondisiku. Selalu kecemasan yang setiap kali kulihat di wajahnya. Apalagi setelah dokter berkata demikian padaku.

“Kemungkinan besar, sisa hidupmu hanya tinggal satu bulan lagi, Nak.”

Adalah tanteku, yang terus mengucurkan air matanya ketika dokter memberitahu kondisiku yang semakin hari semakin memburuk. Pernah suatu ketika tanteku mengatakan akan mengabulkan segala permintaan yang kuinginkan. Aku hanya tersenyum. Tanteku memang begitu baik. Aku terus memberikan senyum ke arahnya. Walau kutahu, wajahku sudah nampak busuk dan menjijikan bila tersenyum. Tapi setidaknya hanya itu yang mampu kuberikan padanya.

Kakiku kini sudah tidak bisa berfungsi lagi. Sel-sel kakiku sudah mulai digerogoti oleh penyakit itu. Sekarang aku hanya bisa menggerakkan tangan dan kepala saja. Separuh badanku sudah lumpuh. Dokter pun bilang waktuku katanya tinggal tiga hari lagi. Apakah sekarang malaikat pencabut nyawa sudah menjelma menjadi seorang dokter? Hingga ia tahu kapankah seharusnya nyawaku akan diambil oleh Sang Kuasa, pikirku. Akhirnya, aku meminta sebuah mesin tik oleh tanteku. Mungkin sisa-sisa akhir hayatku ini, hanya sebuah tulisan yang akan menjadi kado terindah.

Aku menulis begitu lancar menjelang di sisa hidupku. Tampaknya banyak sekali sesuatu yang ingin kusampaikan pada semua orang. Dokter pun mengabariku lagi di hari berikutnya, “Mungkin besok nyawamu sudah tidak ada di dunia ini lagi, Nak. Maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat banyak.”

***

Kepada: Siapapun yang membaca surat

Nyawaku besok mungkin akan hilang entah ke mana. Tapi saat ini aku merasa senang, sebab sebentar lagi aku akan mengetahui apa yang kala itu dirasakan oleh ibu, ayah, dan Edwin ketika menjelang ajalnya.

Ya, aku ingin sekali mengetahui saat nafasku hendak dicabut. Aku merasa senang, sebab bisa mengetahui tentang siapa Tuhan yang sebenarnya, yang selama ribuan tahun ini selalu diperdebatkan oleh milyaran manusia. Aku sama sekali tidak menyesali sudah menjalankan syarat dari si dukun atau sudah menjadi salah satu budak setannya.

Aku kini bisa kembali merasakan gembira. Sangat gembira, karena berkat si dukun aku bisa menemui orang-orang yang sangat kucintai. Sesaat lagi.

Tabik,

Darwin. ♦

About the author

Mahasiswa sosiologi Universitas Nasional. Dapat dihubungi di line: revinmangaloksa

Related Posts