Oleh: Bram Sitompul*

Peristiwa itu terjadi begitu mendadak. Tak ada waktu untuk menyampaikan sederet kalimat perpisahan. Sang ibu hanya sempat menitipkan sebuah wejangan. Ia meminta A untuk belajar memahami bahasa manusia. Ibu mengatakannya sambil meraung, menyuarakan duka yang begitu mendalam.

A sangat bersedih. Malam yang cerah membuat A dapat dengan jelas melihat ibunya diseret segerombolan manusia bermata merah. Dua orang membawa kayu, yang seorang memikul tongkat besi. Mereka juga sempat menatap A dengan tajam. Sambil tertawa mereka mengucapkan beberapa kalimat yang tidak dimengertinya. Di depan matanya, ibunya dipukul hingga mati. A dibiarkan hidup dalam ketakutan setengah mati.

Selama satu bulan setelah kejadian itu, A terus bersembunyi di bawah dua pohon beringin yang berangkulan di belakang sekolah. Ia sering tidak makan. Tubuhnya menjadi kurus. Malam-malamnya selalu diisi dengan sejumlah mimpi yang datang berulang-ulang. Tentang ibunya yang ternyata masih hidup dan kembali padanya. Tentang dirinya yang tiba-tiba memiliki tenaga super dan memburu para penyerang ibunya. Tentang manusia-manusia bermata merah yang mengalami sakit luar biasa di sekujur tubuh dan akhirnya meledak. Sepanjang siang ia mengkhayal bagaimana jika mimpi-mimpinya tersebut menjadi nyata.

Sejumlah kawan menyebutnya sudah gila. Tapi ia tidak peduli. Setelah ibunya pergi, hanya mimpi dan khayalan yang terasa nyata baginya. Sesungguhnya, ia berencana untuk terus melanjutkan hidup yang dipenuhi mimpi dan khayalan tersebut. Namun sebuah kejadian mengubah niatnya itu.

Sekolah kembali ramai, libur sudah selesai. Anak-anak terlihat begitu ceria, mereka saling bertukar cerita. Sepulang sekolah, dua orang anak menghampirinya. Ia bergerak mundur sampai tembok sekolah mencegahnya untuk terus menjauhi kedua anak tersebut.

Di kemudian hari setelah mengerti bahasa manusia, ia menceritakan ulang kejadian tersebut kepada anak-anak dan pasangannya.

“Setop, setop.”

“Ada apa?”

“Bukannya ini anak anjing yang biasa bermain di sekolah?”

“Ah, bukan. Anak anjing yang biasa main di halaman sekolah itu lucu dan gendut. Menggemaskan.”

“Tapi aku yakin ini dia. Memang lebih kurus, tapi aku benar-benar yakin ini anjing yang sering main di sekolah. Lihat bulunya yang coklat dengan bulatan-bulatan putih di punggungnya.”

Salah seorang anak berusaha meraihnya. A lari tetapi tak mampu melarikan diri. Ia dibawa ke rumah anak tersebut, diberikan minum susu dan makan nasi.

“Aku akan membuatnya sehat dan lucu lagi seperti sediakala.”

“Bagus. Kalau sudah gendut lagi, akan aku makan dia.”

A selalu sedih menceritakan bagian ini. Ia teringat akan ibunya. Anak itu juga nampak tidak main-main dengan pernyataannya walaupun mengucapkannya sambil tertawa.

“Enak saja, kau! Aku akan jaga dia sebaik-baiknya dan tak akan kubiarkan kau memakannya.”

Dan begitulah hidup A perlahan kembali pulih. Ia dipelihara dengan baik oleh Sugiono. Makan teratur, mandi teratur, minum teratur, bermain teratur, dan olah raga teratur. Dan tentu saja, ia tidak lupa akan nasihat terakhir ibunya. Ia harus belajar bahasa manusia. Beruntung Sugiono mau mengajarinya. Ia mulai paham beberapa kata seperti duduk, lari, berguling, lompat, makan, dan minum. Bahkan untuk sejumlah kata, ia memahaminya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dalam hal ini, A merasa dirinya lebih jago daripada tukang siomay yang biasa mangkal di depan sekolah.

A juga belajar bahasa manusia dengan cara menonton televisi. Saban hari, ia duduk mendampingi Sugiono menonton acara-acara seputar dunia binatang. Bukan hanya kosakatanya yang bertambah, ia juga jadi tahu sejumlah cerita menarik tentang anjing. Yang paling berkesan adalah tentang Laika, seekor anjing yang ikut serta dalam peluncuran roket Uni Soviet pada tahun 1957. Laika kepanasan dan mati lima jam setelah roket mengudara. Sejak saat itu, ia sering berpikir bahwa ibunya kini tinggal bersama Laika di luar angkasa. Dan itu membuatnya lebih tenang.

Kehidupan A terus membaik. Dua tahun berselang Sugiono mempertemukannya dengan seekor anjing betina yang sangat manis. A memanggilnya B. Tak lama setelah itu mereka memiliki tiga ekor anak yang sangat menggemaskan. A menamai mereka L, J, dan C. Tapi Sugiono memberi nama lain, Blackie, Bongski, dan Biggy. Blackie satu-satunya yang berbulu hitam, dua yang lain coklat. A tidak masalah dengan hal ini apalagi setelah mendengar percakapan Sugiono dan Mbak Sumiyem.

“Untuk di akta kelahiran harus kasih nama yang bagus, mbak.” ucap Sugiono sambil menyodorkan sejumlah kertas kepada Mbak Sumiyem.

“Ya ampun, den, anak anjing dibuatkan akta lahir. Lah anak-anak saya saja tidak punya.” Mbak Sumiyem terheran-heran sambil tertawa.

Namun sayangnya, tiga bulan setelah melahirkan, B mati. L, J, dan C mengerumuni ibunya sambil menyalak. A berdiri terpegun di dekat mereka. A meyakini bahwa B kini sudah bersama ibunya dan Laika di luar angkasa. Setidaknya B tidak sendirian. Dan B bisa menceritakan kehidupan A serta anak-anaknya kepada ibunya.

Pada minggu-minggu pertama setelah kematian B, A sering mengajak L, J, dan C menonton televisi. A berharap hal ini bisa menghibur ketiga anaknya. Sugiono sering memutarkan film kartun untuk mereka. Setiap habis satu film, A akan menjelaskan ceritanya karena L, J, dan C tidak mengerti bahasa manusia. Ketiga anaknya itu merengek minta diajari bahasa manusia, tapi A menolaknya, nanti saja katanya.

Suatu kali, film yang diputar bercerita tentang seekor ayam kalkun yang bijaksana. Ia menghitung hari-hari yang dilaluinya. Ia menuliskan perhitungannya di tembok kandangnya. Teman-temannya menertawainya. Tapi kalkun bijaksana tak menanggapi mereka. Seratus empat puluh hari kemudian, kalkun bijaksana dan teman-temannya dibawa ke tempat pemotongan hewan. Kandang mereka yang kosong diisi lagi oleh puluhan ayam kalkun muda. Kalkun-kalkun muda ini mempelajari catatan kalkun bijaksana. Pada hari ke-139, kalkun-kalkun ini menyerang seorang karyawan yang tengah berada di kandang mereka untuk memberi makan. Setelah orang itu tersungkur tak berdaya, seluruh kalkun kabur dari kandang.

Untuk yang satu ini, A tidak memberi penjelasan kepada L, J, dan C meskipun ketiganya merengek ingin diceritakan. A sendiri juga tidak tahu mengapa ia tidak ingin menceritakan dialog-dialog dalam film ini kepada anak-anaknya. Namun yang pasti, cerita kalkun bijaksana ini menjadi salah satu film kartun yang paling diingat A. Hal ini mungkin dipengaruhi juga oleh kenyataan bahwa film tersebut adalah film kartun terakhir yang ditontonnya.

Karena keesokan harinya, A menemukan bahwa TV di rumah Sugiono sudah tidak ada. Awalnya A tidak terlalu ambil pusing dengan hal itu. Namun perlahan barang-barang lain di rumah Sugiono pun tidak ada lagi. Kulkas, radio, gawai, dan banyak lagi yang lain, semua menghilang.

A mencuri dengar percakapan-percakapan di antara Sugiono, ayahnya, dan ibunya. Perusahaan milik Ayah Sugiono bangkrut. Seluruh aset perusahaan sudah dijual untuk membayar utang dan pesangon karyawan. Ayah Sugiono stres. Setiap hari ia pulang dalam keadaan mabuk. Perkelahian selalu terjadi dengan istrinya. Sugiono lebih banyak mengurung diri di kamar.

Hingga suatu hari, Ayah Sugiono tidak tampak batang hidungnya. Dan ternyata ia memang sudah tidak pernah muncul lagi di rumah. Ia pergi, entah kemana. Di rumah tinggal Sugiono, ibunya, A, L, J, dan C. Enam makhluk hidup itu kini hidup dengan sangat menyedihkan. Mereka mulai jarang makan. Sampai suatu kali, tak ada lagi makanan tersisa di rumah, baik makanan untuk manusia maupun untuk anjing.

“Bunuhlah anjingmu yang besar, Gi. Dan jual anak-anaknya. Kalau ada akta lahir harganya lebih mahal, bukan?”

Sugiono diam. A diam. L, J, dan C terus bermain, tidak tahu apa-apa.

“Bagaimana, Gi? Tidak ada jalan lain bagi kita untuk dapat bertahan hidup. Bunuh anjingmu yang besar buat persediaan makan kita seminggu. Dan jual anak-anaknya untuk modal kita pulang ke kampung.”

Sugiono masih terdiam. Sedangkan A mulai merancang rencana untuk membebaskan dirinya dan anak-anaknya dari rumah Sugiono. Ia teringat kisah kalkun bijaksana dan sekelompok kalkun muda yang melarikan diri sebelum dihabisi hidupnya.

Sugiono berpikir keras. Ia menatap A, L, J, dan C. Sementara A terus melihat ke sekeliling, mencari kemungkinan jalan keluar untuknya dan anak-anaknya. Mata Sugiono berkaca-kaca. Lalu ia menangis tersedu-sedu. A sedih melihatnya. Ia bertambah sedih karena tahu seluruh kisah yang membawa Sugiono ke titik ini. Dan ia juga tahu bahwa tidak mudah bagi Sugiono untuk membunuhnya dan menjual ketiga anaknya. Bagaimanapun Sugiono sangat dekat dengan dirinya.

Sugiono akhirnya berdiri, melangkah gontai ke sebuah lemari kayu. Satu dari sedikit barang yang masih ada di rumahnya. Ia mengambil akta kelahiran Blackie, Bongski, dan Biggy. Keputusan sepertinya sudah diambil oleh Sugiono. Sudah saatnya pula A membuat keputusan baginya dan anak-anaknya.

Ia memanggil ketiga anaknya, meminta mereka untuk mengikuti apa yang akan segera dilakukannya. L, J, dan C masih bingung dengan apa yang terjadi, tapi mereka mengiyakan perkataan A. Tanpa berlama-lama lagi, A berlari, melompat, dan menerjang sebuah pembatas kaca tipis di dekat pintu dapur. Anak-anaknya mengikuti dari belakang. Kaca berhasil dipecahkan A dan keempat anjing itu berhasil keluar.

Namun A terluka. Beberapa bagian tubuhnya terkena pecahan kaca. Lukanya cukup dalam dan darah mengucur deras. A berhenti berlari lalu terkapar. Ketiga anaknya menyalak ramai, mendekati, dan menangisinya. A menyuruh L, J, dan C untuk terus berlari. Berlari sejauh mungkin.

Sedangkan A akan menunggu mereka dan Sugiono di luar angkasa bersama istri dan ibunya.

***

*Bram Sitompul lahir dan besar di Indonesia Barat, menikmati hidup di Indonesia Timur. Dapat dihubungi via Twitter di @brammykidz.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts