oleh: Dila Sholeha*

Pada lini-lini kehidupan yang temaram
Tersiar kabar bahwa penculikan sedang membabi buta dimana-mana

Mei, sembilan belas tahun yang lalu
Beberapa rekan mulai kehilangan apa yang dipunya
Percaya diri mulai memudar disiram hasut-hasut pematuk takut
Bicara seolah jadi perkara bak kicau bising burung perkutut

Saat ini
Aku, kalian, kita dan mereka,
Sedang berada pada titik dimana menjadi berani itu sulit
Dan mempercayai keyakinan semakin hari semakin sedikit

Tidak ada api-api keberanian yang menyala, alih alih semua menjelma abu yang dilahap kekuasaan belaka

Orasi-orasi seolah meninabobokan
Agar kita menuruti setiap apa yang diucapkan
Tulisan-tulisan di setiap aksi nyatanya hanya menyulut emosi
Seolah-olah menggambarkan bahwa agama lain tidak layak tuk di puji

Kita,
Sedang berada pada titik dimana susahnya membedakan dalih-dalih murni atau hanya untuk kepentingan sana-sini
Semestinya kita tahu,
Jika agama manapun mengajarkan tuk saling mengasihi
Bukan serang sana serang sini

Habislah kita ditelanjangi waktu
Jika terus menerus membisu
Membungkam,
Seolah menjadi penonton
Yang hanya menunggu siapa tokoh yang menjadi pemenang pertarungan

* Mahasiswi Administrasi Negara Universitas Nasional angkatan 2015 yg menggemari puisi, baik tentang percintaan, sosial budaya, maupun politik.
Dapat dikontak melalui akun line: dilasholeha dan Instagram: dilashl

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts