Sebuah tempat bernama Kemuning mencoba bertahan agar tak menghilang. Sebelum ilalang meraja dengan liar, sebelum waktu bersekutu bersama takdir lalu menjadi seteru. Orang-orang Kemuning merasa kisah mereka layak dikekalkan. Kehidupan mereka di sana sarat makna.

Kehidupan adalah kelimun segala zat yang tersimpan dalam peti kosmos tak kasat mata. Dalam peti itu berjejal aneka cerita, aib, fragmen, pengkhianatan, serta, ah.. puisi. Manusia mengintip ke dalam peti, mencermati, lalu menyebutnya sebagai sejarah. Namun, apakah sejarah? Bukankah ia semata nestapa bagi yang kalah, yang menguap seperti embun di pukul sembilan pagi?

Adilkah sejarah jika ia hanya melantunkan kemenangan dan wiracarita?

***

Jamal melangkah terseok. Menyesal ia. Seharusnya kuturuti saja anjuran orang-orang di pasar untuk menumpang ojek, bukannya berjalan kaki seperti ini, ujarnya dalam hati. Walau begitu, ujung kepulangan mestilah ditandasi secara khidmat. Jamal tak mau mengkhianati hasrat dan kerinduan yang telah ia tanak selama berbelas tahun. Ziarah mestilah dilakukan dengan berjalan kaki. Ini bukan kepulangan biasa.

Ia berhasrat menjejak lagi tanah yang dulu ia jejak, memerinci setiap kenangan, walau ia tahu segalanya telah berubah. Beberapa bagian telah dilapisi paving block. Ada pula yang dilandasi semen mulus yang dianggarkan pemerintah. Kini kampungnya telah pula dijejali baliho serta reklame berkarat sehingga menebalkan nuansa sumpek.

Dipandangnya rumah Haji Dulah, yang hanya berjarak selemparan batu dari pasar. Jamal masih melihat pohon kecapi berdiri angkuh di dalamnya. Ia dulu sering beradu lari dengan sang haji demi mencuri kecapi. Diusapnya kepala bagian belakang. Sandal Haji Dulah pernah mampir di sana, saat ia lengah dan murka sang haji bukan sekadar gejala.

Sepanjang jalan tak ia lihat anak-anak berkeriap. Seharusnya ia tidak merasa sesendu ini. Di segala tempat anak-anak tak lagi menemukan makna di luar rumah karena kehidupan telah terserap ke hadapan kotak berpendar cahaya.

Sebuah dorongan membuatnya menghitung musala. Pembangunan mal yang serampangan di kota ini adalah satu hal, yang mencemaskan Jamal justru pembangunan tempat ibadah yang menurutnya hanyalah peragaan kesombongan. Dari jalan besar sampai pasar saja, ia telah menemukan lima musala. Apalagi jika ia memasuki tiap gang yang bertaburan, yang kemudian bercabang tak hanya tiga tapi juga lima? Atas dasar pahala jariyah yang senantiasa mengalir bak sungai, orang-orang mewakafkan harta membangun musala — dan bila memungkinkan, masjid. Bukankah pembangunan jembatan, balai warga, perpustakaan, atau perbaikan saluran air juga bisa dinilai sebagai monumen wakaf? Tapi Jamal tahu, tempat-tempat itu tak bisa membuat mereka dan anak-cucunya menepuk dada.

Tibalah ia di mulut sebuah gang. Di dalamnya terdapat langgar tempat dulu Jamal belajar mengaji bersama Bang Kantil dan guru-guru yang lain. Ia mengenang lalu menghidu aromanya dalam-dalam. Aroma masa silam. Tiga hari dalam seminggu, sekira satu kilometer jauhnya, ia melampahi jalan dan gang sempit, menjumpai penghuni rumah-rumah kontrakan — kebanyakan ibu-ibu yang sedang kepayahan menyuapi anak sambil merumpi, sebelum akhirnya tiba di langgar. Azan isya adalah senandung kemenangan, sebuah isyarat bahwa pengajian telah usai. Setelah empat rakaat penuh canda tawa, mereka mengoplos kemenangan dengan berbagi kue rangi, bermain petasan yang dijual Bang Kantil, mencuri buah ceri atau rambutan — tergantung musim berbuah, atau sekadar membunuhi cecak dengan sarung. Cecak pantas mati. Mereka makhluk durjana yang pernah mengkhianati nabi. Agama sukses mengajarkan pembunuhan bahkan sebelum anak-anak mengenal berahi.

Jamal tergoda untuk beristirahat sejenak di langgar itu. Tapi perjalanan belum sepenuhnya usai. Ia belum benar-benar sampai. Setelah tiga gelas Aqua tandas Jamal pun berjalan lagi.

***

“Kamu anak kecil tahu apa, he? Dasar bocah. Kok seenaknya bilang cinta. Kamu mengutil di supermarket saja belum pernah, kan?”

”Mengutil jadi syarat untuk jadi pacar kamu?” tanya sang bocah ternganga.

“Bukan. Maksudku, hmm, berapa sih umurmu? Sepuluh, sebelas?”

“Tiga bulan lagi sebelas.”

“Ya, ampuun.”

Ya, ampun. Kamu cantik sekali.

“Saya tahu kamu empat tahun lebih tua dari saya. Saya juga tahu kamu sudah punya pacar.”

“Ya, ampuun.”

Jangan menjerit ‘ya, ampun’ terus, saya bisa mati.

“Jadi bagaimana, nih? Kamu terima nggak cinta saya?”

“Dengan cara apa saya menerimanya? Saya masih harus sekolah, kuliah. Aduh, rumit.”

“Ya saya tahu itu. Kelak kamu juga akan berpacaran dengan banyak pria, lalu menikahi salah satunya. Sekarang kamu hanya cukup menerima cinta saya, tak perlu membalas. Suatu hari nanti akan saya tagih. Itu pun bila kamu bersedia.”

“Bahkan ketika aku telah memiliki anak? Kalau suamiku marah? Kamu ini ngaco, bocah. Hih, bandel! Kamu keracunan AADC, ya?”

“Tak peduli. Kamu telah menjanda atau jadi nenek-nenek pun akan selalu saya kejar. Selalu ingat-ingat hari ini. 20 Oktober 2002. Beberapa tahun nanti, percayalah, saya akan sangat pantas untukmu. Saat itu mungkin kamu sudah menginjak usia empat puluh, atau bahkan lima puluh. Tetapi saya tahu umur sekadar angka yang takkan sanggup melunturkan kecantikanmu. Sudah, ya. Saya main bola dulu.”

“Umurmu benar baru sepuluh?! Heiii, bocah. Jangan kabur duluuu!”

***

Azalea Sukma Handoyo. Kecantikan sederhana mahasempurna. Kecantikan perempuan niscaya memudar, tetapi di mata dan batin Jamal, kecantikan Azalea adalah kecantikan yang azali.

Kemuning adalah pemukiman orang-orang kaya. Bedanya, para penghuni Kemuning tidak seperti penghuni perumahan Dinas Pajak yang berada di bibir jalan besar. Warga Kemuning tidak menutup lapangan serbaguna yang tiap sore menjadi wahana bermain anak-anak. Ditambah keberadaan Azalea, tempat itu laksana magnet.

Seorang saudagar membangun tiga buah rumah sebagai investasi di ujung jalan kecamatan. Namanya diambil dari warung nasi Sunda yang biasa jadi destinasi anak-anak sekolah membolos. Dari tiga rumah pertama, sisa tanah yang ada laris dengan cepat dan berdirilah rumah-rumah baru.

Sang saudagar menyisakan sepetak tanah lalu membangun sebuah lapangan bulutangkis yang bisa dimodifikasi menjadi lapangan voli dan basket. Di sisinya, ia juga membangun pos berteduh bagi para pengojek dan warung rokok. Sang saudagar hanya bermain bulutangkis di malam hari. Itu pun dengan intensitas yang tak pasti.

Rumah-rumah di Kemuning besar-besar, tetapi mereka tidak sombong. Hanya rumah sang saudagar yang dibatasi pagar tinggi. Bahkan ada lima rumah yang sama sekali tidak dirintangi pagar walau memiliki mobil. Mereka juga gemar membagi rezeki. Saat ada acara nasional atau kenduri keluarga, mereka sering meminta bantuan orang kampung sebelah untuk menyediakan makanan dengan imbalan yang lumayan. Di beberapa kesempatan seperti pernikahan atau khitanan, mereka juga menggelar layar tancap atau panggung hiburan di lapangan tersebut.

Anak-anak Kemuning yang awalnya bergairah latihan basket beralih bermain bola plastik karena hanya sedikit yang bisa bermain basket. Mereka lalu mengajak teman-teman sekolahnya, pula anak-anak dari pemukiman lain untuk bermain bola plastik. Satu ajakan menjadi berbelas sehingga ramailah lapangan itu.

Jamal adalah salah satu anak luar Kemuning yang datang ke sana karena mendengar desas-desus itu: lapangan yang selalu ramai, kehadiran para gadis, serta jajanan yang lebih meriah dan beragam. Jamal juga penasaran hendak membuktikan kecantikan Azalea, yang konon melampaui kecantikan Agnes Monica.

‘Tahi lalatnya ada dua, manis sekali. Seperti chocochip. Satu di pipi, satu di bawah mata. Keduanya di sebelah kiri!’ kata Anto, teman sebangkunya.

‘Meski cantik, ia tidak sombong. Dia sering ada di lapangan, menemani adiknya main bola atau sekadar mencari jajanan sore,’ aku Kenken, tetangganya.

‘Ia sudi menatap mataku, serius, dan selama tiga malam aku susah tidur!’ oceh Aldo, teman mengajinya di langgar, sesumbar.

Dua hanyalah kebetulan, maka tiga adalah kenyataan. Tiga pengakuan itu menjadi pelecut Jamal untuk datang ke lapangan Kemuning walau tahu kemungkinannya bermain bola sangat tipis. Anak-anak yang datang bisa sampai tiga puluh.

***

Berkat kepulangannya, Jamal menemukan banyak jawaban. Salah satunya nama saudagar yang membangun Kemuning, Sasongko. Tapi Jamal tidak membutuhkan jawaban itu. Ia telah menanak rindu dan nelangsa begitu lama demi menuntut jawaban Azalea. Di lapangan, yang ia pandang semata ilalang.

Semestinya bukan ilalang. Semestinya rumput atau semak belukar. Ini terlalu ganjil. Dan, mengapa tidak ada seorang pun yang bersedia membabatnya?

“Kok melongo begitu, Mas?” tanya seorang pengojek yang mengaku bernama Anto. “Sudah tak ada lagi yang bisa dipertahankan. Mereka tentara.”

Sasongko membeli tanah Kemuning dengan harga murah lewat perantara calo. Pihak tentara menjualnya karena merasa kawasan tersebut adalah lahan mati. Saat itu mereka juga sedang tidak butuh membangun perumahan perwira. Mereka baru memerkarakannya setelah ada perusahaan pengembang yang mengetahui status tanah tersebut, lalu bermaksud membangun kompleks apartemen.

Andai mereka miskin, tentara akan sangat mudah menggusur warga Kemuning. Dengan alai-belai uang, seseorang akan membakar perkampungan sehingga warga Kemuning angkat kaki. Tapi selain berada, mereka juga berpendidikan tinggi, yang tentu mengenal hukum. Yang seharusnya diperkarakan adalah Sasongko dan pemerintah kota. Selain memiliki surat kepemilikan tanah, warga Kemuning juga taat membayar pajak.

Tetapi tentara dibekali ilmu intelijen sehingga tahu hampir sembilan puluh persen warga Kemuning adalah penganut Islam yang lain, yang berbeda dengan Islam yang diakui pemerintah. Betapa benar: melamun terbaik adalah lamun yang kedap tentara.[i]

“Kalau benar Masnya dulu orang sini, pasti tahu gadis cantik bernama Azalea?” Anto melanjutkan cerocosnya.

Jamal ingin memekik tapi sementara ia tahan. Membaca gelagat dan warna muka Anto, Jamal tahu yang akan ia dengar adalah kabar buruk.

“Mereka Ahmadiyah, Mas. Masak nabi terakhirnya bukan Muhammad, gimana nggak sesat? Nah, mbak Azalea itu puteri tokoh penting Ahmadiyah di Kemuning ini, Pak Handoyo. Aduh, nggak tega saya mau lanjut omong juga. Rokok, Mas?”

Jamal menolak dengan gelengan. Ia sedang tidak butuh keakraban.

“Mereka nggak berani bangun masjid, jadi rumah Pak Handoyo dijadikan tempat kumpul-kumpul. Yang saya heran, nggak mungkin warga sekitar nggak tahu kalau warga Kemuning menganut Ahmadiyah. Mereka kan sudah berpuluh tahun ada di sini. Kenapa baru diributkan sekarang? Mas kenal Wan Muhajir, habib di sini?”

“Kenal. Lulusan IPB. Ganteng. Bapaknya dulu sering mengisi ceramah di daerah ini. Dia kakak kelas saya waktu SMP. Kenapa memang?” jawab Jamal sambil masih menahan gemuruh di dada.

“Nah, iya, Wan Muhajir anaknya Wan Muhaimin. Yang saya dengar, dia nih yang, mohon maaf, menyuruh jemaah untuk menyerbu Kemuning. Suatu malam, ini saya ingat betul karena waktu itu sedang mangkal di sini, banyak orang memaksa masuk rumah keluarga Handoyo. Habis, Mas, mereka. Demi Allah, sampai sekarang kalau saya ingat-ingat peristiwa itu saya selalu merinding.”

***

Di tepi lapangan yang kini disesaki ilalang, Jamal tertegun sendu. Cerita dari Anto begitu mengerikan.

Malam itu Handoyo tidak hanya diteriaki kafir, tetapi juga dipukuli dan ditelanjangi. Para penyerbu menyita segala yang mereka anggap membenarkan tuduhan: bahwa warga Kemuning menganut Islam yang lain, Islam yang berbeda.

Entah kesurupan jin mana, beberapa penyerbu turut merisak Azalea. Jamal yakin, beberapa dari mereka ada yang dulu rajin berkeriap di lapangan Kemuning. Keluarga Handoyo sempat bertahan beberapa pekan. Walakin layaknya kembang yang telah layu, Azalea tak lagi sama. Tiap malam ia habiskan untuk menjerit-jerit seperti orang kesurupan. Keluarga Handoyo pun takluk.

“Dengar-dengar mereka pindah ke Parung. Yang aneh, nih Mas, di tiap jeritannya Azalea selalu menyebut nama Jamal. Keluarga dan tetangga nggak tahu Jamal itu siapa.” ♦

Pondok Bambu, Agustus 2017

[i]melamun terbaik adalah lamun yang kedap tentara’ diambil dari lirik “Mars Penyembah Berhala” milik Melancholic Bitch yang ditulis Ugoran Prasad.

About the author

Anak sasian sosiologi yang meminati kajian kelas, budaya, dan replikasi sosial. “Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.

Related Posts