Pantat Babi, Hitler, Soeharto

Mata Darso terbelalak saat ia melihat di depan rumah kosong ada seorang pria yang tengah duduk dan menggorok lehernya sendiri memakai sebilah parang. Anehnya, setelah beberapa detik ia amati, ternyata tak ada darah yang keluar sama sekali dari tubuh si tetangga.

Habiskan Darah Si Miskin!

Kalau si gembel seperti Rojak sih, paling-paling juga hanya sanggup membeli obat nyamuk oles. Itu pun kalau lagi ada uang lebih,” ucap Maria kini disertai dengan ledakan tawanya yang cukup keras. “Padahal orang-orang miskin seperti inilah yang biasanya menjadi incaran kita, lantaran mereka sering tinggal di pinggiran sungai atau dekat kubangan sampah, yang tentu saja dekat dengan habitat kita. Bagaimana? Masih tidak percaya bahwa manusia itu tolol-tolol dan tidak bisa memakai akalnya?! Rosana, mulai sekarang kamu tak perlu ragu-ragu lagi untuk menghabiskan darah si gembel Rojak sampai kering,” tambahnya.

Malam Berkabut

Pada malam hari, Desa Rimba diguyur oleh hujan lebat. Di dalam salah satu rumah warga tersebut, tampak Arif sedang sibuk melihat ponselnya. Ia mencari kontak Rendi. Beberapa saat setelah menemukannya, ia meneka... Selengkapnya...

Mie Ayam Pak Kumis

“Karena semenjak adanya uang, kerakusan manusia semakin hari semakin bertambah, Nak. Tak pernah mengenal ada kata cukup. Bila perlu, nyawa manusia akan ditukarnya," jawab sang ayah. "Ah, sudahlah, tak perlu kau pikirkan lagi. Yang jelas hari ini kita harus bekerja keras agar mendapatkan uang yang cukup untuk bisa membeli mie ayam yang diidamkan ibu," tambahnya.

Bisik-Bisik Pengantar Musakat

Pada Jumat malam, aku bertekad untuk melakukan ritual yang disarankan oleh si dukun. Kuambil kucing itu dari kandang dan segera kutaruh di atas ranjangku. Tanpa pikir panjang lagi, kubuka celanaku. Kulihat jam di dinding kamar menunjukan pukul 00.06. Persetan dengan semua ini, bila hanya ini satu-satunya syarat untuk bisa sembuh, maka akan kulakukan!