Mencari Tanah Harapan

Semua Semut Semai bosan dengan kata-katanya, tapi mereka sadar kalau itu ada benarnya. Tomcat kelompok pemberontak dalam Semut Semai. Mereka semut semai pula. Hanya saja mereka berencana memutuskan hubungan dengan petani. Entah bagaimana kakak menyakinkan semut semai lain untuk bergabung dalam kelompok ini. Banyak semut semai muda yang terpengaruh orasinya, tapi aku tidak. Sebab aku masih memiliki kepercayaan pada petani. Sebagaimana cerita Ayah dan Ibu yang mengisahkan kisah persahabatan indah antara para petani dan Semut Semai

Rahasia Lania

Aku memandang langit biru dan mencari awan yang seakan menghilang pagi itu. Sambil menatap jauh menuju langit, aku menjawab pertanyaannya dengan rasa ragu dalam hati. Tetapi, aku merasa wajib untuk menjawab lelaki tua itu dengan keyakinan yang sebenarnya. Di langit, kucari senyumku yang dulu pernah menanti kematian dengan penuh rasa suka cita. Kutarik napas panjang lalu kuhembuskan dengan pelan, dan kujawab “Aku tak lagi muda seperti dulu!”

Pada Suatu Pagi di Bumi Pertiwi

Kami menutup hidung, menahan napas, nelangsa menatap debu dan asap yang berebut di antara mega-mega. Ladang dan gambut tercerabut dari tempatnya hidup. Terganti oleh mesin-mesin berbunyi semrawut.

Kos Ibu Endang

Saat aku pertama kali memutuskan untuk merantau di negeri orang, saat itu pula pertaruhan sudah dimulai. Yakni antara menang atau pulang. Pertaruhan ini nantinya aku pertanggungjawabkan pada kedua orangtuaku selaku Jaksa Penuntut yang siap menghujamku dengan pertanyaan-pertanyaan jika aku dianggap menyeleneh di sini. Jadilah sekarang aku penjudi yang dimodali orangtua.

Dari Mata Si Cantik

Sebagai mahasiswi, aku paham sekali bagaimana kata-kata sakti sang Bapak Republik tadi cuma kosmetik. Yaa, seperti lipstik yang acap kali kupoles ke bibirku ini, yang ampuh memikat mata lelaki. Walau berlumur kepalsuan, toh aku tetap memulasnya juga. Sebagaimana perempuan lain yang terpaksa tampil cantik, harus cantik, dan tak bisa tampil apa adanya.