Pilkada Kabupaten Anjing

Tadinya ia tidak mau ambil pusing, tetapi anjing di kabupatennya merupakan bagian penting dari pariwisata. Mereka biasanya menjaga objek-objek wisata agar tidak kecurian. Kabupaten tersebut memiliki situs-situs bersejarah yang bisa dengan mudah didaki oleh mafia cagar budaya. Mereka juga memiliki museum yang kini sudah direstorasi. Belum lagi makam-makam tempat orang berziarah. Semuanya dijaga anjing warga. Saking banyaknya anjing baik di sana, kabupaten Paraban sering disebut sebagai “Kabupaten Anjing”.

Untuk yang Mau Membaca dan Mengerti

Bagi Limba, di zaman yang sekiranya sudah maju ini sudah tidak butuh yang namanya kertas ataupun sejenisnya. Sudah merusak pohon-pohon yang menaungi kita dari sengatan panas, jadi pula sampah di pinggiran ibu kota. Tapi apa dayanya Limba, dia hanya orang apes yang terjebak dalam lika-liku ibu kota, Dan lagi pula siapa yang mau mendengarkan opini seorang petugas fotokopi? Apalagi beropini sudah dilarang dari jauh-jauh hari. Bisa dipenjara, atau yang paling ekstrem dilenyapkan. Walau pemerintah masih menutup-nutupi perihal “pelenyapan” itu.

Mati Bahagia

Rasa senang yang dia lepaskan itu menggambarkan betapa kemenangannya merupakan pencapaian penting dan momen yang bakal dikenang atau bahkan diceritakan ulang ke orang-orang yang berbeda selama tahun-tahun ke depan. Artinya, secara tidak langsung, dia mengakui bahwa saya cukup berharga. Sayalah trofinya. Rasa sakit menggigiti sekujur tubuh, luar biasa, seharusnya saya bisa mati bahagia. Kenapa malaikat tidak mengambil nyawa saya waktu itu?

Apa yang Tidak Terjadi Malam Itu?

Kerusuhan berlangsung hampir dua jam. Setelah itu, sunyi. Sunyi yang tidak hening. Hingga beberapa hari kemudian polisi dan tentara hilir mudik di berbagai sudut kota. Pemerintah dan aparat keamanan tidak memperbolehkan ada kegiatan di luar ruangan yang melibatkan lebih dari lima orang setelah jam tujuh malam. Suasana begitu sunyi. Sirene ambulans sesekali memecahkan sunyi. Sunyi yang menggetarkan jiwa.

Ziarah

Sebenarnya ada lagi makanan khas dari daerah kami ini, lebih tepatnya dari tanah Tapanuli Utara, Dekke Naniura namanya. Uniknya, ikan khas Tapanuli ini bukan digoreng, dipanggang atau direbus, tapi disirami dengan air jeruk asam atau jeruk jungga, sejenis jeruk purut khas Sumatera Utara. Kau heran? Sama, aku juga. Rasanya itu sungguh aduhai sekali, kawan. Menuliskannya saja sudah membuatku meneteskan air liur.

Pada Suatu Misa di Kampung Sawah

Kabar teror di tiga gereja di Surabaya terus mengiang di kepala saya. Itu sangat menganggu saya. Menganggu pengalaman mengikuti misa yang sudah saya nantikan sejak lama. Saya berdoa di antara saudara saya yang beragama Katolik. Mereka berdoa dengan bersimbah sujud. Tampak sangat khusyuk dibimbing Romo di altar. Saya berdoa untuk damai dan keadilan umat di dunia. Tentu dengan tata-cara Islam. Karena saya beragama Islam. Saya mengirim Al-Fatihah, sebagaimana saya lakukan saat tahlil atau sesudah sembahyang.