Proklamasi itu Berat, Dilan. Kamu Tak Akan Kuat

Selain perbedaan di atas, kisah ini tak ada bedanya dengan kisah percintaan anak SMA pada umumnya yang diangkat dalam film: murahan dan menjijikan. Generasi muda, lagi-lagi menjadi sasaran komoditas lewat sastra dan film. Lewat hal ini, kaum muda diajak dalam labirin percintaan yang menggelora, seolah-olah dunia ini hanya berisi tentang kisah asmara antara dua pasangan anak manusia.

Cerita Perang Kakekku

“Setelah Indonesia merdeka, hampir semua daerah telah menyetujui untuk bergabung bersama Indonesia, terkecuali Bajo. Mereka satu-satunya daerah yang bersikeras tak mau berhimpun di bawah naungan Negara kita. Padahal, kita satu rumpun dengan mereka. Terlebih, mereka juga masif terlibat dalam perjuangan kemerdekaan kita. Alibi mereka untuk tidak bergabung adalah sumber daya alam mereka sudah cukup untuk membangun suatu Negara yang besar. Hahh.. Negara besar takkan tercapai oleh masyarakat yang barbar”

Surat untuk Lembayung

Suatu malam yang temaram pada Oktober 1965, seorang buruh yang dituduh komunis disiksa hingga tewas oleh beberapa orang. Isterinya kemudian diperkosa dan disaksikan oleh anaknya sendiri. Namun, di antara mereka ada seorang pria yang tak tega. Si anak melihat pria itu hendak mengeluarkan revolver miliknya. Tapi mungkin karena takut, pria itu kemudian kembali memasukkan revolvernya ke sarung, lantas melarikan diri sebab tak sanggup menyaksikan hal tersebut.

Demam Tsamara dan Perayaan yang Dangkal di Hari Kemerdekaan

Setelah 72 tahun kemerdekaan, apa yang telah kita capai sebagai negara, selain kemiskinan yang kian dewasa? Apa yang telah kita bangun, selain gedung mewah yang menggusur rumah-rumah rakyat jelata? Apa yang telah kita hasilkan untuk dunia, selain sumber daya alam yang terus menerus diperkosa? Tak ada! Puluhan tahun lalu kita merdeka tapi sampai hari ini, nelangsa masih menjadi sahabat setia kita.