Babad Ilalang

“Tak peduli. Kamu telah menjanda atau jadi nenek-nenek pun akan selalu saya kejar. Selalu ingat-ingat hari ini. 20 Oktober 2002. Beberapa tahun nanti, percayalah, saya akan sangat pantas untukmu. Saat itu mungkin kamu sudah menginjak usia empat puluh, atau bahkan lima puluh. Tetapi saya tahu umur sekadar angka yang takkan sanggup melunturkan kecantikanmu. Sudah, ya. Saya main bola dulu.”

Selebrasi Terindah

Tanpa diketahui sang bapak, anak lelaki bertubuh ceking terus merawat harapan terhadap sepakbola. Bukan, bukan berarti ia ingin menjadi pesepakbola. Permainan itu ia jadikan sebagai wahana pemberontakannya terhadap apa saja.

Sepakbola dalam ‘Fieldnotes’ sang Antropolog

Permainan yang ditemukan bangsa Cina, lalu meledak popularitasnya berkat Revolusi Industri Inggris ini juga menyimpan sejumlah ambivalensi. Penulis buku ini banyak menyifati ‘tafsir’-nya terhadap sepakbola dengan sisipan dua kata tersebut: ambivalensi dan paradoks. Dunia terlalu kompleks, sepakbola adalah salah satu penawarnya. Penawar yang kemudian tak jarang menambah luka.