Perjumpaan dengan Sapto, Temanku yang Baik, di Bekasi

Pemuda itu memakai kaos Persija yang tampak kebesaran di tubuhnya yang tipis. Seakan tak ingin berhenti mengejutkan kami, ia lebih senang menggunakan kosakata bahasa Jawa. Saya pun mengajaknya berkenalan. Pemuda ceking itu bernama Sapto, lahir dan besar di kampung Rawabacang, Bekasi. Saat itu lapaknya juga dikunjungi satu keluarga yang asyik membacai buku-buku bertema agama. Ada pula dua bocah yang melihat-lihat koleksi buku yang Sapto jajakan. Tiba-tiba saja saya merasa cuaca Bekasi beralih sejuk.

Mahkota Kejayaan

Rambut pendek Suri menjadi alasan bagi Sardono untuk kembali bermain gila. Ia mengunjungi rumah bordil seperti peziarah menemukan mata air. Ia merasa istrinya tak lagi piawai memuaskan berahi. Suri semakin bungkam. Sardono merasa menang. Sardono senang bukan kepalang.

Kunci Duplikat

Hati Restu terasa pahit. Ia baru saja kehilangan kunci motor dan kini tak bisa segera menuntaskan urusan penting yang telah terlalu lama mengimpit hidup.

Ibu Mantan Pacarku

Aku bersyukur jika Puspa mantan pacarku itu mau datang. Asmara kami telah berakhir lebih dari lima tahun yang lalu. Kedatangannya akan memupus rasa bersalah yang selama ini mengendap di jiwaku. Namun mengapa justru ibunya yang datang ke sini? Ini bukan undangan pesta ulang tahun atau kenduri keluarga. Apa maksud dan motifnya?

Tuhan Baru buat Heru

Matahari baru sedikit saja menggelinding ke barat ketika kudapati Heru pulang dengan mata berinai kemarin petang. Paling-paling habis berkelahi atau jatuh ketika bermain bola, pikirku. Anak lelaki tak apalah jika sesekali kalah berkelahi.