Sebelum Senja Datang Esok, Aku Harus Menemukan Dirimu

Menurutku, mendengarkan radio jauh lebih menarik ketimbang menonton televisi. Lebih intim. Karena saat si penyiar berbicara, seolah-olah dia sedang berbicara langsung pada kita. Dan sosok mereka yang tak terlihat membuat kita menerka-nerka dan berimajinasi seperti apakah si empunya suara ini. Malahan sejak mendengarkan suaranya secara tak sengaja di radio tiga bulan yang lalu, aku memutuskan untuk menjual televisi layar datarku.

Segelas Susu Hangat Untukmu

Kamu dilanda badai insomnia yang cukup kejam. Mungkin dengan berjalan-jalan di luar, menikmati keindahan dan kesunyian kota di malam hari bisa membuat matamu berair karena kantuk. Kamu sambar jaketmu, dan segera melesat, melayang bersama angin malam.

Ermy Kullit dan Realita yang Menggigit

Andi menghela napas. Dia menyandarkan tubuhnya di tiang listrik dekat gerai Wendy’s. Matanya memicing, mengawasi gerak gerik Voni dari jauh sambil berdoa di dalam hati kalau semuanya akan baik-baik saja. Menit berikutnya, sosok Voni sudah menghilang di balik kerumunan anak-anak yang sedang asyik bersepatu roda ria.

Misbar

Gadis semuda ini aktivis? Tahu apa dia tentang dunia? Tahu apa dia tentang politik? Gadis bau kencur modal tampang cantik sepertimu ujung-ujungnya hanya bisa berkoar di media sosial. Aku tahu sekali itu.

Kisah Si Pencopet Mimpi di Malam Tahun Baru

Ezra sudah berhasil mengumpulkan lima puluh dompet, dan kini ia sedang berdiri di belakang gedung pesta sambil asyik membuka dompet dan mimpi remaja-remaja aristokrat berotak pintar. Sesekali dia menggigit bibir sembari memegang kepala Lulu, kala gigi gadis cantik berdarah Perancis-Sunda itu tak sengaja memarut penisnya. Ezra tidak terlalu peduli dengan Lulu yang berasyik-masyuk di antara kedua lututnya itu. Dompet-dompet sekaligus mimpi-mimpi yang telah dia copet jauh lebih penting untuknya.