Kelompok Kucing Menari dan Tuan Tersenyum

Tuan Tersenyum berjalan pelan mendekatiku. Telapak tangannya yang panjang terulur ke depan wajahku. Kepalaku terasa pusing. Udara semakin dingin. Samar, kulihat empat manusia berkepala kucing muncul dan menari-nari dari balik punggung Tuan Tersenyum. Dua orang mengenakan jubah putih bergambar burung garuda, sementara yang dua lagi mengenakan jubah merah bergambar banteng. Dari fisik, mereka berempat terdiri dari dua orang pria dan dua orang wanita dengan warna kulit yang berbeda-beda. Kombinasi musik dangdut-psikedelik entah terdengar dari mana, membahana mengisi seluruh ruangan, mengiringi keempat manusia berkepala kucing itu menari atau mungkin lebih tepatnya berjoget? Entahlah. Kesadaranku mulai menipis.

Prolog Si Pencabut Nyawa

Saya sebenarnya ingin membuat novel remaja ringan cinta-cintaan. Menulis yang begitu kan katanya cepat terkenalnya ya? Tapi ternyata susah menulis cerita yang begitu. Mau menulis tentang kopi, dan para penikmat senja juga saya tidak bisa. Susah. Saya tidak tahu apa-apa soal kopi, senja, remaja dan cinta-cintaan. Padahal sedang digandrungi ya. Ya, sudah saya menulis novel ini berdasarkan pengalaman saya sebagai pembunuh bayaran.

Ralin di Tengah Hutan

Aku terus berjalan sampai akhirnya tiba di depan danau yang cukup luas. Seperti yang aku bilang barusan. Keadaan saat itu sangat gelap. Normalnya, aku tidak dapat melihat apa yang ada di hadapanku. Tapi, aku tahu kalau aku berada di depan danau. Kau tahu? Seperti kejadian di dalam mimpi. Kita hanya tahu begitu saja. Danau tidak seperti laut yang tanpa melihat saja kita sudah tahu kalau itu laut karena suara deburan ombak. Danau bersifat hening. Diam dan dingin seperti kematian. Aneh memang.

Dua Kisah Kecil di Kios Buku Bekas

Kania termenung. Dia mencoba membayangkan apa yang Irvin rasakan. Tapi dia tak mampu melanjutkan. Karena dia tahu itu sangat menyakitkan. Diserang oleh dunia dan manusia di dalamnya. Itu sering kali dia rasakan, walau dengan tikaman yang berbeda. Namun yang namanya tikaman, bagaimanapun caranya dan siapa yang melakukannya, akan tetap terasa sama sakitnya.

Penyair yang Membakar Kumpulan Puisinya

Adakah yang lebih lucu dari menjadi budak untuk mimpi orang lain? Adakah yang lebih tragis dari lahir sebagai manusia? Adakah yang lebih manis dari bangun tidur di pagi hari sebagai orang yang merdeka? Adakah yang lebih pahit dari tidur di malam hari sebagai android tak berjiwa?

Mengapa Kau Selalu Membaca Buku?

Kini, dengan jelas dia bisa melihat pemandangan ibunya yang sedang melukis dengan riang di hadapannya. Dia masih ingat detail-detail pemandangan tersebut. Rambut ibunya yang diwarnai merah muda, wajah cantiknya yang segar, bibir tipis merah delimanya yang basah, kulit kuning langsatnya yang bercahaya, gerakan luwes tangan kidalnya saat menyapukan kuas, senandung merdunya, mentari pagi yang menyusup masuk ke dalam ruangan melalui kaca-kaca jendela juga kemeja jins longgar yang dikenakan ibunya. Aksara bahkan bisa menghidu aroma sabun mandi ibunya yang tercampur bau cat minyak dan wangi tembakau serta cengkeh dari rokok ibunya. Semua detail-detail kecil itu berlompatan keluar bak kelinci-kelinci mungil dari dalam topi tinggi pesulap.