Abdu Rizal S. Syam pernah menghantamkan sebuah pertanyaan pada saya seperti ini;

“Apakah literasi di era sekarang ini masih berkutat pada bentuk fisik semata? Ataukah ia juga sudah termasuk dengan pembacaan di medium-medium digital?”

Sekilas pertanyaan Rizal terlihat mudah dan polos. Tapi tidak bagi saya. Bagi seseorang yang mengenal dia dengan cukup baik, pertanyaan Rizal di atas adalah pertanyaan yang tricky dan menjebak. Saya tahu dia ingin menguji kadar intelektualitas saya yang pas-pasan dengan lontaran pertanyaan seperti itu.

Saat itu saya tidak mengindahkan pertanyaan Rizal dan malah menjawabnya dengan lelucon ringan. Karena menurut saya, pertanyaan Rizal tersebut tidak bisa dijawab dengan singkat, padat dan jelas seperti jawaban siswa-siswa sekolah pada saat ulangan harian. Apalagi saat itu Rizal bertanya via Line. Makin malas pula saya menanggapinya. Sebenarnya akan lebih seru jika kita mendiskusikannya di kantin kampus seperti biasa sambil ditemani kopi hitam dan rokok favorit, Zal. Tapi apa daya jarak memisahkan kita. Engkau asyik berkontemplasi dan menari di atas tanah Ternate yang eksotis, sedangkan saya terperangkap di Depok.

Jadi begini, Zal. . .

Banyak orang bilang membaca ebook atau buku digital itu sama ilegalnya dengan menonton film atau mendengarkan musik dari unduhan gratisan di internet. Dengan kata lain: bajakan.

Benarkah begitu?

Saya sendiri adalah pengunduh setia film-film ilegal. Meski jika ada duit berlebih, saya pasti akan menonton di bioskop. Namun tidak bisa dimungkiri, terlalu banyak film yang saya suka tidak ditayangkan di bioskop lokal apalagi TV karena berbagai macam alasan. Contohnya, film-filmnya si sutradara enigmatik, Terrence Malick. Film avant garde besutannya pasti bakal jadi obat tidur kalau sampai ditayangkan di bioskop lokal, walau aktor-aktor yang bermain di dalam film-film beliau adalah adalah aktor-aktor kaliber kelas wahid yang dipuja banyak orang, mulai dari Brad Pitt, Christian Bale, Natalie Portman sampai Ryan Gosling. Bahkan saat pemutaran perdana film terbarunya di LA yang berjudul Song to Song (2017), lima belas orang sukses walk out dari ruangan. Kalau sudah begitu, maka bioskop setempat pasti memilih untuk menyiapkan studio lebih untuk film-film Marvel atau DC daripada film-film segmented seperti itu.

Mengumpulkan atau mengoleksi film secara fisik memang punya kebanggaan dan kepuasan tersendiri, tapi tidak semua orang punya uang banyak serta akses untuk mendapatkan film-film dalam bentuk fisik atau unduhan secara legal.

Itu juga berlalu di dunia literatur.

Pada awalnya, saya sangat anti membaca buku digital. Alasan pertama karena ketidaknyamanan. Membaca buku di laptop atau ponsel menurut saya dua kali lipat lebih melelahkan daripada membaca buku secara konvensional. Dan kebanyakan buku digital itu berbahasa Inggris. Ini agak memalukan mengingat saya sendiri adalah seorang sarjana sastra Inggris. Tapi tunggu dulu. Saya tidak ingin membaca buku berbahasa Inggris bukan karena saya tidak paham. Menurut saya, untuk membaca buku berbahasa Inggris, kita perlu interpretasi ganda. Apalagi untuk membaca karya-karya Shakespeare atau Edgar Allan Poe. Interpretasi ganda saja tidak akan cukup. Pertama, kita harus memfilter kata per kata, diksi per diksi, kalimat per kalimat ke dalam bahasa Inggris yang lebih ringan, baru kemudan kita saring lagi ke dalam bahasa Indonesia. Wah, sungguh pekerjaan yang bakal melelahkan mata dan otak. Membaca saja harus serumit itu. Setidaknya untuk saya. Jadi, dengan mempertimbangkan hal tersebut, saya lebih memilih membaca buku fisik berbahasa Indonesia.

Lama kelamaan, rasa lapar dan dahaga saya dalam membaca kian memuncak. Saya butuh lebih banyak buku untuk dibaca, yang sayangnya sebagian besar dari buku yang saya ingin saya baca itu belum diterbitkan terjemahan bahasa Indonesianya. Seperti buku-bukunya Haruki Murakami misalnya. Banyak buku-buku Murakami versi bahasa Inggris telah tersedia di toko-toko buku terdekat. Namun sebagai pemuda yang miskin, saya harus memutar otak. Dengan membeli satu buku Murakami versi bahasa Inggris, jatah ngudut dan pulsa saya pasti akan menyusut drastis. Sedikit demi sedikit, godaan untuk “memaksakan” membaca buku digital berbahasa Inggris mulai terbit. Dan Godaan tersebut makin besar saat salah seorang junior saya di kampus mati-matian membujuk saya agar membaca After Dark karya Haruki Murakami dengan iming-iming bahwa tokoh Mari dalam buku itu sangat mirip dengan saya. Konyol memang. Dengan menjilat ludah sendiri, saya pun mengunduh semua buku Murakami dan voila!, menyelesaikan lima karyanya langsung dalam waktu kurang dari seminggu. Bahkan saking cintanya saya dengan After Dark (2007), akhirnya saya rela menyisihkan uang jatah rokok dan pulsa saya untuk membeli buku versi bahasa Inggrisnya yang harganya ratusan ribu itu. Padahal dengan uang segitu, saya bisa mendapatkan puluhan buku di toko buku bekas. Yah, setidaknya rasa penasaran saya terselesaikan. Dan, tulisan Murakami menjadi pemicu awal untuk membaca buku berbahasa Inggris yang lebih berat.

Lambat laun, saya mulai menikmati membaca buku digital berbahasa Inggris di depan laptop. Ternyata ada keuntungan tersendiri loh membaca buku digital di laptop. Pertama, kita tidak perlu pegal-pegal memegang buku. Kedua, tentu saja karena bisa berhemat. Dengan bermodalkan pulsa sepuluh ribu atau menjadi fakir WiFi gratisan, kita bisa mengunduh ratusan buku. Wah, sebagai seseorang yang sudah menjadikan membaca sebagai kebutuhan primer, itu sungguh kenikmatan yang tiada tara. Ketiga, kita bisa menghindari risiko rusak atau lenyapnya buku fisik. Buku fisik cenderung sering hilang karena tidak dikembalikan saat dipinjam (Bukannya bermaksud seksis, tapi setelah saya riset, banyak dari pelakunya itu adalah kaum hawa) dan rusak karena dimakan rayap, ketumpahan kuah mie, terhajar air saat banjir dan ratusan alasan kecil lainnya. Ingin sekali menjadi seorang yang pelit, tapi ternyata sulit. Susah juga menjadi orang yang terlalu baik dan welas asih seperti saya.

Selera bacaan juga mempengaruhi tingkat kenyamanan saya dalam membaca buku digital di laptop. Beruntung, saya bukan seorang literary snob yang gemar membaca buku-buku tebal nan berat macam buku-bukunya Leo Tolstoy,Fyodor Dostoyevsky, Karl Marx atau Friedrich Nietzsche. Saya juga lebih suka membaca buku yang ringan seperti buku-bukunya Hilman Hariwijaya atau R.L Stine dibanding buku-buku karya Roberto Bolano atau cerpen-cerpennya Jorge Luis Borges yang bagi saya cukup melelahkan dan membuang waktu banyak. Yah, setidaknya untuk saat-saat ini.

Biarlah untuk sementara saya membaca bacaan yang biasa-biasa saja, asalkan saya tetap merasakan kenikmatan dari membaca itu sendiri. Toh, selera bacaan saya pada akhirnya menyelamatkan saya dari kaca mata minus. Atau setidaknya meminimalisir dan memperlambat risiko itu. Jika saya seorang literary snob, pastilah mata saya sudah rusak parah. Tidak bisa dibayangkan jika saya harus menatap layar laptop atau halaman buku lama-lama setiap harinya hanya untuk menyelesaikan War and Peace (1869) karya Tolstoy. Iya, kan?

Namun, itu tidak membuat saya terlena begitu saja. Saya tetap mengimbangi hobi membaca buku digital dengan membeli dan membaca buku fisik. Senikmat-nikmatnya membaca buku digital, masih lebih nikmat membaca buku fisik. Tentu saja. Walau tangan dan jari-jari harus menahan pegal untuk memegang dan membolak-balikkan halaman. Sama saja dengan konsep komunikasi dua arah. Berbincang dan bertemu lawan bicara kita secara langsung akan lebih bermakna daripada harus berbincang via kubikel siber atau dunia maya. Bagi saya, membaca buku pun seperti berkomunikasi. Ada perasaan hangat tersendiri saat kita membaca buku secara fisik. Bagaimana kita meraba sampul buku atau mengendus aroma lembar-lembar halamannya, baik yang masih baru ataupun yang sudah menguning. Mungkin saya sudah gila. Tapi saya yakin, banyak dari kalian yang berpendapat sama seperti saya.

Bagaimanapun, membaca dan memiliki buku secara fisik masih menjadi obsesi saya. Contohnya, seperti di atas tadi, saya rela menyisihkan duit jajan saya untuk membeli After Dark terbitan Vintage. Saya juga rela mengobrak-abrik toko buku bekas selama berjam-jam hanya untuk mendapatkan buku yang sekiranya langka. Seperti beberapa bulan yang lalu, di toko buku bekas di daerah Grogol, saya dengan rusuhnya tenggelam ke dalam lautan buku bekas yang kebanyakan bukunya adalah buku-buku misteri Sidney Sheldon dan Agatha Christie. Namun dengan insting seorang pemburu harta karun, akhirnya saya menemukan salah satu buku impor karya bapak fiksi ilimiah, Arthur C. Clarke terbitan tahun 1975. Dan saya bisa mendapatkan buku itu dengan harga 15 ribu saja.

Alamak, buku memang memiliki kekuatan magis yang dapat mempengaruhi banyak orang secara masif, baik secara individu atau global. Baik mencerahkan ataupun menghancukan. Seperti yang dikatakan Allison Hoover Bartlet dalam The Man Who Loved Books Too Much,

Sejak Qin Shi Huang di Cina yang pada tahun 213 SM memerintahkan pembakaran semua buku bertema selain pertanian, pengobatan atau ramalan, hingga pembakaran dua puluh lima ribu buku sastra yang dilakukan Nazi, para pemimpin totaliter telah menentang kekuatan buku yang berbahaya dan mencerahkan. Bahkan pada zaman sekarang, sebagian pemimpin AS juga melakukan pelarangan buku. Dorongan menakutkan untuk menghancurkan atau menekan buku merupakan pengakuan terhadap kekuatannya, dan hal ini tidak hanya terjadi kepada naskah ilmu pengetahuan, politik dan filsafat, tetapi juga buku puisi dan fiksi yang tenang, yang bagaimanapun memiliki kapasitas besar untuk mengubah kita. Berburu harta karun demi koleksi memunculkan penghargaan terhadap barang itu sendiri, tetapi pada akhirnya yang bahkan lebih memuaskan, membangunnya menjadi cara membuat kisah.“ (2009: 256-257).

Buku juga membuat banyak orang baik menjadi pencuri.

Saya pernah mencuri buku dari perpustakaan kampus dan bazar buku. Bukunya macam-macam. Mulai dari Moby Dick karya Herman Melville terbitan tahun 80an sampai Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury yang masih tersampul plastik. Menurut saya kata mencuri itu tidak tepat. Memindahkan mungkin kata yang tepat untuk itu. Daripada tidak terbaca di perpustakaan kampus , akan lebih baik jika dipindah ke kamar saya. Godaan untuk mencuri buku sulit untuk ditampik begitu saja. Ada kepuasaan dan kebanggaan tersendiri begitu berhasil meletakkan buku-buku curian itu di rak buku. Mungkin ini yang dirasakan Gilkey dalam cerita Bartlet, seorang kolektor buku-buku langka yang mengoleksi bukunya dengan cara mencuri.

Gilkey sendiri mengingatkan saya dengan Ipunk, seorang kawan saya yang begitu terobsesi mengumpulkan buku dari daftar 1001 Books You Must Read Before You Die. Padahal menurut saya, dia sendiri tidak tahu apakah buku-buku itu memang wajib dibaca sebelum mati atau tidak. Sesuai dengan selera dengan dia atau tidak. Tapi sebuah obsesi sulit untuk dibinasakan. Saya memang tidak mengerti apa motivasi beliau untuk mengumpulkan buku-buku itu. Apakah sekedar untuk memilikinya karena kecintaannya terhadap buku seperti Gilkey yang bahkan rela dipenjara karena obsesinya tersebut? Atau ada alasan lain? Entahlah. Saya tidak ingin berprasangka lebih jauh.

Setiap orang punya episode mereka masing-masing tentang buku. Ada yang hanya menjadikannya ganjalan meja, ada yang hanya menjadikannya ornamen ruang tamu dan ada pula yang sekedar menjadikan buku sebagai kosmetik agar dia terlihat lebih cantik (baca:intelek) Bagi saya, yang sedari kecil sudah dicekoki buku-buku karya Enid Blyton dan R.L Stine oleh orang tua saya, buku sudah bukan lagi sekedar jendela dunia. Buku adalah peta akurat untuk menemukan harta karun yang kita buru. Atau lebih tepat lagi jika saya bilang buku adalah harta karun itu sendiri. Tanpa buku, saya akan kehilangan arah.

Setelah menceritakan pergumulan saya dengan buku-buku, saya tetap tidak bisa menjawab pertanyaan saudara Rizal. Apa Anda menunggu jawaban tersebut? Namun, apakah itu penting? Buku digital atau buku fisik, mencuri atau membeli, mengoleksi atau meminjam. Bukankah yang terpenting dari semua itu adalah membaca, apapun caranya?

Toh kita bahkan bisa saja mempelajari rumus Pythagoras hanya dari selembar kertas koran bekas bungkus gorengan yang berminyak.

Jadi kenapa harus repot-repot mempertanyakan soal buku digital dan buku fisik? ♦

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)