Oleh: Bram Sitompul*

Kerusuhan pecah malam itu, lima hari yang lalu. Polisi mengalami kesulitan untuk meredam kerusuhan tersebut. Salah satu faktornya mungkin karena hal ini tidak terprediksi sebelumnya. Tidak ada laporan intel yang mengindikasikan adanya bahaya yang akan terjadi di kota malam itu. Hal lain yang juga turut menyulitkan aparat keamanan adalah mereka tidak paham siapa sedang berkelahi dengan siapa. Semua orang bisa saling pukul. Sepertinya istilah ‘senggol bacok’ menjadi kenyataan pada malam yang mengerikan itu.

Aku sedang tidak keluar rumah pada hari itu. Tubuhku demam sepanjang hari, tak cukup kuat untuk diajak beraktivitas. Tubuhku yang sakit telah menyelamatkanku dari kemungkinan kematian akibat kerusuhan.

Kerusuhan berlangsung hampir dua jam. Setelah itu, sunyi. Sunyi yang tidak hening. Hingga beberapa hari kemudian polisi dan tentara hilir mudik di berbagai sudut kota. Pemerintah dan aparat keamanan tidak memperbolehkan ada kegiatan di luar ruangan yang melibatkan lebih dari lima orang setelah jam tujuh malam. Suasana begitu sunyi. Sirene ambulans sesekali memecahkan sunyi. Sunyi yang menggetarkan jiwa.

Situasi kini sudah membaik dan kau telah tiba dengan kereta malam. Wajahmu terlihat cemas melihatku. Aku tidak apa-apa. Aku terus menyebut kalimat itu berulang kali pada malam kita bertemu di stasiun. Namun itu tidak cukup bagimu. Kau sudah membawa segudang pertanyaan dan tentu saja butuh segudang jawaban sebagai obat untuk meredakan cemasmu.

“Jadi, berapa orang yang meninggal?”

“Cukup banyak.”

“Berapa?”

“Berapa yang kau baca di koran?”

“Enam orang. Tiga puluh tiga orang masih dirawat di rumah sakit, empat di antaranya sangat parah. Bisa jadi jumlah yang meninggal akan bertambah.”

“Kau lebih tahu angka-angka itu daripada aku.”

Kau tak puas dengan jawabanku.

“Jadi, apa yang sesungguhnya terjadi malam itu?”

Aku kembali tidak menjawab pertanyaanmu secara langsung dan justru menanyakan lagi apa yang kau baca di koran atau yang kau saksikan di televisi. Ia mengatakan bahwa hingga tadi pagi belum ada konfirmasi resmi dari pihak keamanan tentang penyebab peristiwa berdarah itu.

Dan kau terus mendesakku.

“Ayolah, ceritakan padaku apa yang kau tahu. Kau tinggal di sini, pasti lebih tahu dari wartawan yang hanya menghubungi polisi lewat telepon, bukan?”

Aku menghela napas dan menjawab pertanyaannya dengan sebuah narasi.

“Dua hari yang lalu aku makan siang di salah satu warung dekat stasiun. Aku mendengar dan terlibat dalam sebuah percakapan yang menarik di sana.”

Ia langsung memotong ceritaku, “Tolonglah lebih serius, informasi seperti apa yang bisa kau dapatkan di warung stasiun? Aku tak butuh dengar informasi antah-berantah. Kau ‘kan punya akses langsung ke Walikota. Apa katanya? Mana mungkin ia tidak tahu sesuatu? Pasti ia lebih tahu dari semua yang hadir di warung makan.”

“Sesungguhnya tidak demikian. Aku sudah menemui Walikota dua hari pasca kerusuhan. Ia lebih pusing dengan citranya ketimbang rakyat yang mati bergelimpangan di jalan. Tentu ia tidak mengatakannya terang-terangan. Tapi aku tahu ia tidak terlalu peduli soal penyebab kerusuhan. Sekali lagi, ia tidak tahu apa-apa. Dan yang lebih menyebalkan, ia tidak berupaya juga mencari tahu.”

Kau tidak terlalu puas dengan jawabanku.

“Setelah itu kau tidak menemui Walikota lagi?”

“Ya, aku menemuinya persis sebelum makan siang.”

“Lalu?”

“Tak ada tambahan informasi yang signifikan. Ia bilang bahwa polisi belum menemukan penyebab kerusuhan. Tidak ada orang yang ditangkap karena diduga sebagai dalang kerusuhan hingga saat itu. Belum ada titik terang, tapi investigasi terus dilakukan.”

Kau bangkit dari kursimu, melangkah ke arah jendela, menengok ke luar, lalu menuju dapur. Aku tetap duduk di kursiku hingga kau datang lagi membawa dua cangkir kopi, satu untukmu, satu untukku. Kau masih punya beberapa pertanyaan, tapi seperti sudah enggan menanyaiku lagi. Kau tidak puas dengan jawaban-jawabanku sejauh ini.

“Kau mau dengar ceritaku di warung makan dekat stasiun, tidak?”

Kau tidak terlalu tertarik, tapi tidak punya pilihan lain.

Ada tiga orang yang duduk di warung makan ketika aku tiba di sana. Kami semua tidak saling mengenal. Aku lumayan sering makan di warung itu, tapi rasanya aku belum pernah melihat wajah mereka. Yang dua orang sedang makan dengan lahap, yang seorang lagi sibuk dengan gawainya. Aku memesan seporsi makanan yang sering kumakan di sana. Dan secangkir teh manis panas.

Orang yang sibuk dengan gawainya tersedak. Air putih menyembur dari mulutnya. Yang lain, termasuk aku memalingkan wajah ke arahnya.

“Maaf, maaf. Saya hanya kaget baca tulisan ini.” jawabnya sambil menunjuk ke layar gawai.

Pria muda di sebelah kananku bertanya, “Memangnya tulisannya tentang apa, Pak?”

Aku punya pertanyaan yang sama dengan pria muda itu.

“Oh, ini berbagai ulasan tentang penyebab kerusuhan. Masa ada yang bilang penyebabnya karena sudah terlalu banyak dosa di kota kita. Ada-ada saja.”

Aku dan pria di hadapanku hanya mendengar tapi tidak memberi reaksi atau komentar terhadap pernyataan bapak itu. Tapi pria muda di sebelah kananku mengangkat wajahnya. Ia menanggapi dengan singkat dan datar, “Ya bisa saja, Pak.”

Si Bapak terkejut mendengar pernyataan pria muda itu. Untung tidak sampai tersedak lagi.

“Oh begitu ya, Dik? Jadi menurut Anda kerusuhan beberapa hari lalu bisa jadi dipengaruhi dosa warga kota. Termasuk dosa sampeyan dong.”

Pria muda tak menanggapi sindiran bapak itu. Sang Bapak langsung mengarahkan pandangan kepadaku dan pria yang ada di hadapanku.

“Kalau menurut Mas berdua ini bagaimana? Setuju dengan adik ini? Atau punya analisis lain tentang apa yang terjadi malam itu?”

Pria di hadapanku ingin menjawab, aku tahu itu. Tapi gerak-gerik tubuhnya seolah memintaku untuk menjawab terlebih dulu.

“Kalau menurut saya sih tidak ada urusan dengan dosa, Pak. Hanya tentang apa yang terjadi malam itu dan apa yang menyebabkan kerusuhan terjadi, saya tidak tahu dan tidak punya analisis atau teori apapun yang bisa saya bagikan sekarang.”

Aku menatap pria di hadapanku, semacam ingin memberikan kode bahwa aku sudah selesai menjawab. Kini gilirannya. Ia meletakkan sendok dan garpu di piring yang sudah hampir kosong. Kami menunggunya bicara.

“Kita semua ingin tahu apa penyebab kerusuhan dengan bertanya, ‘Apa yang terjadi malam itu?’ dan kita belum bisa menjawab pertanyaan itu. Polisi juga tidak. Walikota juga tidak. Jangan-jangan pertanyaan kita yang salah.”

Ia berhenti sejenak. Kami masih menunggunya melanjutkan jawabannya.

“Seharusnya kita bertanya, ‘Apa yang tidak terjadi malam itu?’ Dengan begitu, kita bisa tahu penyebab terjadinya kerusuhan dan kita juga bisa tahu bagaimana mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi lagi pada masa mendatang.”

Setelah selesai dengan jawabannya, pria di hadapanku berdiri, menanyakan berapa harga makanan yang ia santap, membayarnya, dan melangkah keluar warung. Kami yang lain tidak bersuara lagi setelah itu. Namun di pikiranku, aku coba merenungkan pernyataan pria itu.

Kau mulai tertarik dengan ceritaku di warung makan. Kopimu sudah tandas selagi mendengarkanku bercerita.

“Jadi, apa yang tidak terjadi malam itu? Dan apakah yang tidak terjadi malam itu menyebabkan terjadinya kerusuhan?”

“Aku belum sampai pada kesimpulan terhadap pertanyaanmu yang kedua. Namun, untuk pertanyaan pertama, aku sudah identifikasi satu hal yang tidak terjadi malam itu di kota ini.”

“Apa itu?” Kau memburuku.

“Pertunjukkan musik tradisional.”

Kau kembali memburuku, kali ini dengan membelalakkan mata, lalu dua tangan kau angkat dan kemudian kau hempaskan ke bawah.

“Ya, setiap hari Rabu malam pada minggu pertama, enam bulan sekali, selalu ada pertunjukkan musik tradisional. Itu sudah tradisi warga selama puluhan tahun. Pagi hari pada Rabu berdarah itu, Walikota mengumumkan bahwa pertunjukkan dibatalkan dan tidak akan diadakan lagi sampai waktu yang belum bisa ditetapkan.”

“Kenapa?”

“Alasan klasik, tidak ada budget. Benar atau tidak, aku tak tahu.”

“Masa kau tidak tahu?”

“Sungguh aku tak tahu.”

Kau kembali berdiri, melangkah ke kanan, dan berhenti di dekat televisi. Televisi menjadi tumpuan tangan kananmu.

“Tapi apa iya tidak adanya pertunjukkan musik bisa sampai menimbulkan kerusuhan yang begitu mengerikan?”

“Sekali lagi aku katakan, aku belum tiba pada kesimpulan, tapi analisisku sejauh ini mengatakan bisa saja.”

Kau hening cukup lama. Aku pun hening. Aku tak tahu apa yang ada di benakmu. Aku memilih untuk memejamkan mata dan mengingat kali pertama aku datang ke pertunjukkan musik tradisional bersama keluargaku. Kala itu aku masih berusia tujuh atau delapan tahun. Ada sunyi di sana. Sunyi yang menenangkan hati.

*

*Bram Sitompul lahir dan besar di Indonesia Barat, menikmati hidup di Indonesia Timur. Dapat dihubungi via Twitter di @brammykidz

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts