Sore merupakan band asal Jakarta yang kini sudah menelurkan 5 album, yaitu Centralismo (2005), Ports of Lima (2008), Sombreros Kiddos (2010), Sorealist (2013), dan Los Skut Leboys (2015). Mereka adalah band indie eklektik, yang gemar mencampuradukkan beberapa genre ke dalam lagu-lagunya seperti jazz, pop, rock, dll. Lagu-lagu yang dihasilkan pun variatif dan tidak monoton. Beberapa lagu yang cukup dikenal dari Sore yaitu “Setengah Lima”, “Karolina”, “Sssst”, “Mata Berdebu”.

Ada yang menyebut Sore bergenre Indonesiana rock revival, dan ada juga yang mengategorikan mereka chamber pop atau bahkan jazz. Banyak cap diberikan terhadap band ini akibat beragamnya kolom-kolom genre yang mereka isi.

Saat ini band Sore beranggotakan 4 orang: Ade Firza Paloh (vokal, gitar), Awan Garnida (bass, vokal), Reza Dwiputranto atau kerap dipanggil Echa (gitar, vokal), dan Bemby Gusti Pramudya (drum, vokal). Sore juga sempat kehilangan dua anggota personilnya yaitu Ramondo Gascaro atau Mondo (vokal, keyboard, piano) dan Dono Firman (vokal, kibor).

Lagu-lagu Sore memiliki tiang yang kuat baik dari segi aransemen musik dan liriknya. Sehingga lagu-lagu yang dilahirkan dapat membekas dan berkesan bagi para pendengarnya. Sore seperti salah satu obat penawar di antara seragamnya band-band major label yang ada di Indonesia.

Saya mungkin salah satu orang yang cukup beruntung untuk bisa menemui sang vokalis, Ade Firza Paloh, di rumahnya di Pulo Mas, Jakarta Timur. Mungkin terdapat beberapa orang yang juga ingin melakukan hal yang sama, tapi tidak memiliki akses atau kesempatan untuk bisa bertemu dengannya. Maka, selain berbincang secara personal, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan sesi wawancara dengannya. Semoga sesi wawancara ini dapat menemukan jawaban bagi orang-orang yang sedang menggandrungi band Sore.

Berikut hasil sesi wawancara kami.

Bagaimana bisa ada inisiatif untuk membentuk band Sore?

Inisiatifnya sebenarnya dari si Awan. Dulu kan gua dari tahun 1990 sampai 2001 di Los Angeles, Amerika. Dari SMP kelas 3 sampai kelar kuliah dan kerja. Setiap tahun tuh gua pulang (ke Indonesia). Pernah terakhir gua pulang tahun 1997 untuk liburan, si Awan ngajakin bikin band, tapi kan gua mau pulang lagi ke Amerika. Terus akhirnya bikin-bikin lagu aja, kalau gak salah ada tiga lagu yang akhirnya direkam sama dia.

Nah pas gua pulang tahun 2001 diajakin ngeband lagi, tapi gua masih males, karena gua masih pengen kerja dan lain-lain. Terus tahun 2002 kita kumpul-kumpul. Sebelumnya itu, dari tahun 1997 gua sudah kenal sama Bemby, terus gua dikenalin lagi pas kumpul tahun 2002 itu sama si Echa, adik kelas gua pas di Percik (Perguruan Cikini). Ya dulu di Percik kenal gitu-gitu doang, nah makanya dikenalin lagi sama si Echa yang bakal main gitar sama kita.

Ya udah akhirnya ngumpul-ngumpul bareng di rumahnya Mondo yang waktu itu udah pindah ke Rawamangun, dulu kan dia tinggal di Cikini. Terus nongkrong, gitar-gitaran. Dulu si Bemby udah bikin lama lah lagu “Etalase”. Terus abis itu dia ngajakin Awan sama Mondo rekaman di daerah Bukit Duri. Gua mah nggak ada, ngantor. Tiba-tiba udah jadi aja itu lagunya.

Terus pas sudah jadi, lagunya masuk Prambors top 40’s kalau nggak salah. Gua lupa. Abis itu tiba-tiba lagunya masuk nomor 1 selama dua minggu. Ya udah akhirnya itu yang jadi inisiatif gua buat ngeband.

Faktor lain gara-gara gua dengerin lagunya Manic Street Preacher yang “Miss Europa Disco Dancer”. Gua dengerin sewaktu gua kerja. Pas gua dengerin, ‘Anjing, kok enak juga nih kalau misalnya gua bisa main lagu kayak gini!’ Jadi itu juga salah satu pemicu akhirnya gua mau ngeband. Tapi kalau masalah inisiatif, sih, dari si Awan. Dia yang pengen banget. Emang tuh anak doyan banget ngeband.

Apa pernah sebelumnya membentuk band selain Sore?

Gak ngeband, sih. Paling cuma kumpul-kumpul doang di Amerika. Ya sama anak-anak Indonesia. Waktu itu sama Binsar, yang akhirnya sekarang jadi bassistnya Float. Dia kan satu kota sama gua. Kita suka kumpul-kumpul, genjreng-genjreng bikin lagu juga. Salah satu lagunya itu dijadiin lagunya Sore yang judulnya “Bebas” di album pertama. Tadinya judulnya bukan “Bebas”. Tadinya itu lagu bahasa Inggris terus gua jadiin Bahasa Indonesia.

Apa filosofi dari nama Sore?

Karena kan semuanya suka sama lagu-lagu Indonesiana yang tahun 70an, yang nuansanya sore yang kesorean. Lembayung-lembayung merah gitu kayak Yockie Suryo Prayogo sering pake kata “sore,” kayak si Chrisye, Guruh juga. Terus kan emang sore harinya Indonesia itu paling indah. Filosofinya juga kayak perih yang terasa di setiap kehidupan manusia dan romansanya yang ada. Keperihan di mana setelah terang itu masuk ke dalam kegelapan, tapi di situ ada romansanya: ketika ibu-ibu lagi nyiap-nyiapin makanan buat lakinya yang pulang; ada anak-anak yang abis mandi terus maen ke luar; terus cahaya-cahaya yang udah miring gitu, itu kan keindahan semua romansanya. Jadi ya kayak kenapa enggak namanya itu. Udah gitu “sore” dalam bahasa Inggris juga kan artinya perih.

Siapa influence dari band Sore?

Kalo influence dasarnya sih kayak gua, Awan, Mondo, Bemby, ya the Beatles. Dasar ya, band itu pondasi utamanya. Kalo Echa itu Sonic Youth dan Smashing Pumpkins. Nah terus abis itu influence lain. Ya mungkin dari lagu Indonesiana yang tadi kayak gua bilang, kayak Guruh, Yockie, Guruh Gipsy. Ya kalau musik dari luarnya itu Steely Dan sama Gino Vanelli. Pokoknya musik-musik 70an gitu lah. Terus dicampur-campur sama Indonesiana. Jadi bentuk-bentuknya kalau orang bisa deskripsikan itu jadi chamber pop, kalau genre yang universalnya ya.

Secara garis besar apa yang ingin disampaikan dari lagu-lagu Sore?

Kemanusiaan lah. Kemanusiaan dan fisiologi manusia yang kadang-kadang kurang bisa diterjemahkan langsung ke kata-kata yang harfiah. Jadi harus majas. Kalau kadang-kadang harfiah kita kadang bingung gimana cara diungkapkannya. Makanya harus majas. Kayak banyak relung-relung hati manusia yang gak kebuka pintunya, kita coba buka gitu. Dan multitafsir juga, dan siapapun yang mengartikan, itu sah buat dia. Bukan sah buat sang penulis. Misalnya ketika ditanya kepada sang pendengar, ‘Menurut lu gimana itu artinya buat lu?’ Ketika dia bilang artinya begini gini gini. Itu sah buat dia.

Mengapa lebih memilih tema kemanusiaan ketimbang cinta?

Sebenernya sama aja, cinta itu mahabah kan. Sama aja, kemanusiaan yang sebenarnya itu kan adalah cinta. Cuma kita ngapain ngomong soal cinta secara langsung gitu. Kemanusiaan yang asli itu kan mahabah. Kecintaan kepada Allah, cinta kepada mufakat alam yang diberikan Allah kepada kita. Itu juga termasuk unsur manusia dengan manusia. Sebenarnya kita semua berkesinambungan.

Dari album Los Skut Leboys, apa makna yang ingin disampaikan dari video lagu “Plastik Kita”?

Ya dari warna bajunya yang dipake si anak cowok juga udah ketahuan gitu, warna putih, seperti kepolosan manusia. Nah, tapi juga bajunya ada bercak-bercaknya, itu yang menandakan kesalahan-kesalahan manusia dalam hidup. Terus juga si anak kan pake handsaplast tuh, itu nandain bahwa dia terbuat dari daging dan darah, yang pasti akan rapuh juga. Abis itu dia berjalan melihat kesenangan-kesenangan yang sebenarnya fana gitu.

Mengapa memilih latar tempat dalam video itu seperti di dunia fantasi?

Itu sebenarnya majas aja tentang dunia yang luas. Di mana kita kadang-kadang kita cuma liat kesenangan doang, padahal semuanya fana. Nah, pada saat itu datang lah godaannya dia, wanita dengan kulitnya dan bajunya yang agak hitam.

Itu godaan terhadap wanita atau bagaimana?

Itu maksudnya godaan duniawi. Bukan wanita secara harfiah ya. Lebih ke matafornya tuh, ya godaan fana. Godaan semu. Yang kadang kita semuanya terhanyut sama itu. Cuma nggak apa-apa. Itu fase kehidupan, hanyut. Kadang-kadang kan timbul lagi. Dan gapapa juga. Emang kadang manusia harus karam juga, sih, untuk tahu dia selamatnya. Manusia itu harus karam sebenarnya. Kalau misalnya selamanya dia di atas suatu wahana yang nggak pernah karam, ya lu nggak akan pernah tahu gimana rasanya karam. Nggak pernah ada percampuran antara hitam dan putih. Karena kan dalam hitam ada putih, dalam putih ada hitam, dalam cahaya ada gelap, dalam gelap ada cahaya. Bukan cahaya berdampingan dengan gelap, tapi dalam cahaya pun ada gelap. Kalau suatu hari nanti akan gelap. Dalam gelap pun ada cahaya, untuk suatu hari nanti bisa terang.

Mengapa album Los Skut Leboys dibuat dua versi?

Yang satu limited edition. Karena eksekutif produser ingin bikin sesuatu yang ekslusif. Ya udah, akhirnya gua, Monica Hapsari sebagai desainernya, sama Dedi Dude, bikin konsep yang dimasak bersama. Yang satu (gambar) manusia dengan segala kerapuhannya, yang diperlihatkan segala urat-uratnya. Terus ada juga ikan paus yang ngelambangin kita (Sore) yang udah tua-tua ini tapi masih ada. Ya seperti kebijaksanaan ikan paus lah. Kalau di darat kan gajah ya yang bijaksana. Kalo di laut itu ikan paus. Terus juga di dalamnya (album fisik) ada kaca dan tulisan “Inilah Ketiadaan.” Filosofinya, kalau kita ngaca kan kita lihat diri kita, tapi sebenarnya di atas kaca terdapat tulisan “Inilah Ketiadaan”. Bahwa kita ada dan tiada. Bahwa sebenarnya kita telah mati setelah kita lahir.

Apa makna dari gambar tokoh Kusni Kasdut yang menjadi cover album Los Skut Leboys?

Ya pengen nampilin sosok yang banyak orang nggak tahu aja. Seseorang yang sudah luput dari ingatan kebanyakan orang Indonesia. Dulunya Kusni itu seorang pejuang ‘45, yang terlupakan, yang nggak diurus sama negara, kesejahteraannya dia, sampai akhirnya dia memilih jadi rampok. Terus dihukum mati. Padahal dulunya dia ikut berjuang buat kemerdekaan kita juga. Dan namanya kan lumayan (dikenal) untuk generasi gua dan bentuknya segala. Tapi generasi sekarang kan gak tahu. Ya akhirnya kita angkat lagi aja. Dan waktu itu banyak yang nyari tahu siapa gambar tokoh di balik cover album Los Skut Leboys, tapi kita nggak kasih tahu.

Apa alasannya tidak dikasih tahu?

Ya buat apaan? Kita bikin kayak gitu biar naluri ‘ingin tahu’ manusianya kembali. Gini, kalau manusia ingin mencari tahu sesuatu, dia akan mencari tahu sesuatu itu. Semua manusia itu kan para pencari. Kalau kita kasih tahu itu, dia udah nyaman aja. Jadi kita juga gak mancing rasa ingin tahunya dia.

Dimana moment paling berkesan ketika manggung?

Di mana ya? Di Hongkong kayaknya. Itu pas awal kita main, cuma ada beberapa orang dari lagu pertama. Nggak tahu, mungkin kita mainnya bagus atau karena kita berbahasa Indonesia, tiba-tiba mengerumun orang-orang satu demi satu dari jalan sampe penuh. Dan akhirnya pada saat lagu terakhir, pas lagu “Sssst”, yaudah gua bisa ngomong “Viva la Republic”. Ya maksudnya bangga lah jadi orang Indonesia.

Sore sudah cukup lama bertahan. Bagaimana rahasianya untuk menjaga konsistensi dalam bermusik?

Karena nggak pernah dipikirin kalau kita harus bertahan atau enggak.

Jadi gak ada alasan lain, seperti harus bertemu sebulan sekali atau yang lainnya?

Dulu, sih, sering ya. Tapi sekarang udah sangat jarang, kecuali kalo pada saat latihan. Karena masing-masing udah punya keluarga sendiri, sih. Jadi waktu ketemunya juga ya harus dibikin. Bukan pada saat kayak lu pengen nongkrong aja. Ini memang harus dibikin seperti ada sesuatu gitu. Terus juga memang yang bikin kita bertahan, ya humornya kita yang sama, yang nyambung. Humornya kita kan yang dark comedy, humor yang pe’a-pe’a begitu. Dan nggak pernah ngomongin musik kalau ketemu.

Lo, mengapa nggak ngomongin musik?

Jadi band yang akan runtuh tuh kalau misalnya lu terlalu konsep, sudah terlalu teknis, lu ngomongin musik mulu. Udah abis. Udah kelar, deh. Lu ngomong kehidupan aja. Kalau ngomongin musik ya pas lu latihan aja. Saat keluar dari studio, lu ngomongin kehidupan. Kalau udah ngomongin teknis, satu aja udah ada yang jengah, pasti udah males. Nanti ada yang ngerasa, ‘Kok nih orang begini ye? Kok gua mesti ngikutin dia?’ Males, man, kalau kayak gitu. Ancur. Cepet (bubar) tuh kayak gitu. Kan kalau ngomongin kehidupan itu general. Lu bisa saling nyambung aja.

Apa harapan yang diinginkan setelah orang-orang mendengar lagu Sore?

Berkenan. Berkenan untuk bisa nerima (lagu) itu di hatinya. Gini loh, kayak misalnya lu buat sesuatu di rumah lu, di kamar lu, di dapur lu, mau di mana kek, mau di WC kek. Pada saat itu kan lu akan menjadi diri yang pada porsi lu saat itu. Pada saat itu lu lagi mikirin apa, mikirin segalanya gitu, terus tiba-tiba bisa nyampe suatu hari ke orang. Lumayan dahsyat juga perasaannya saat orang-orang berkenan untuk dengerin. Suka nggak suka, asal berkenan aja. Jadi kayak pada saat itu dia bisa nangkep momen kita yang pada saat bikin (lagu) itu.

***

Nama Ade Firza Paloh mungkin sudah tak asing lagi bagi orang-orang yang sering mendengarkan lagu dari band-band indie. Bagaimana tidak, Ade yang sering membuat lirik-lirik yang puitis akhirnya mampu menyihir para pendengarnya. Bukan hanya itu saja, teknik bernyanyi falsetto dan suaranya yang khas mampu membuat para pendengar hanyut di dunia lain.

Pria berdarah Aceh itu mampu membuat lantunan yang melayang-layang, sehingga membuat para pendengar dapat menyelami lagunya. Walau cukup berpengalaman dalam membuat lagu, ia merupakan pria yang ramah dan sederhana. Ia sangat menikmati sekali saat berbincang dengan seseorang, hal ini terbukti saat saya melakukan wawancara dengannya. Ia tak peduli dengan seseorang yang baru saja dikenal olehnya. Kami berdua sudah seperti kenal bertahun-tahun lamanya. Ia gampang menyatu dengan orang lain.

Band Sore dari awal album Centralismo hingga Los Skut Leboys masih tetap bertahan di jalurnya. Ade tetap konsisten dalam membuat lirik puitis. Kata-kata metafor yang dicampuraduk. Bahkan kadang terdengar tidak nyambung, tapi ternyata justru menjadi bumbu yang teramat nikmat. Menjadi olahan rasa yang tak bisa diuraikan secara deskriptif, itulah ketajaman dari metafor.

Selanjutnya saya banyak menanyakan bagaimana awal-awal kehidupan pribadi Ade dalam bermusik, agar kita dapat menilik sebagian proses dari mana jejak-jejak lagu yang dilahirkan Sore berasal.

Suasana wawancara bersama Ade Firza Paloh

Di mana tempat dan kapan tanggal lahir Anda?

Di Medan, tapi di KTP, di Jakarta. Gila (tertawa, red)! Gua lahir di Medan, 29 Maret 1976.

Sejak umur berapa pertama kali main musik?

Kelas 4 SD. Dulu belajar gitar dari guru bahasa Inggris gua. Gua minta ajarin chord C dan G.

Kenapa guru bahasa Inggris jadi mengajarkan gitar?

Dia pemain musik TVRI. Dia guru bahasa Inggris gua tapi dia suka main sexophone sama gitar di TVRI dulu. Jadi emang dia suka muncul di TV. Tapi emang profesi dia guru bahasa Inggris. Guru les rumahan.

Abis gua minta belajar chord C dan G pake gitar sama dia, terus gua minta beliin gitar di Pasar Rumput sama orangtua. Pas udah gua beli gitarnya, terus langsung gua balik senarnya biar mainnya pake tangan kiri, biar kayak Paul McCartney (tertawa, red).

Apa pendidikan terakhir Anda?

S1 di California State University, Los Angeles. Gua ambil jurusan Manajemen. Kalo yang di Northrop University, gua ambil jurusan Aeronautical Engineering. Jadi gua double degree.

Kabarnya Anda suka membaca buku, bagaimana awalnya Anda bisa tertarik untuk membaca buku?

Dari nyokap. Emang keluarga ibu gua itu bisa dibilang pelahap buku semua, yang suka banget baca buku. Dari om gua juga. Jadi ketertarikannya dari situ. Gua umur 3 tahun udah bisa baca. Gua dikasih buku, komik, ya senang aja.

Dari situ gua bisa masuk ke daya pikir dia (penulis), pada saat dia nulis (buku) itu. Terus gua bisa melanglang buana sendiri, berwisata di kepala orang bersama dengan kepala gua. Cocok nggak sama kepala gua. Dan apa (isi) pengertiannya terhadap kepala gua dengan kepala dia, gitu.

Bagaimana pengaruhnya membaca buku dengan membuat lagu?

Sangat gede. Lu tanya aja sama Mondo Gascaro. Gila, pembaca buku paling gawat dia, lebih dari gua. Sangat kuat lah pengaruhnya. Gua juga terinspirasi dari Jean-Paul Sartre. Buku yang terkenal dari dia kan Being and Nothingness.

Lebih berpengaruh ke pembuatan lirik atau ke mana?

Ke makna. Kalau lirik gua mah gitu-gitu aja. Kalau masalah kosakata itu lebih banyak kayak Cholil. Cholil lebih bagus dari gua. Kalau gua mah di situ-situ aja. Tapi mungkin kata-katanya gua putar dengan makna yang akhirnya bisa berbeda.

Kapan pertama kali Anda membuat lagu? Dan bagaimana bisa berpikir untuk membuat lagu?

Kalau gak salah tahun 1994 waktu di Amerika, gua sama Mondo bikin lagu “Lady in The Night”. Mondo bikin musiknya sama lantunannya kayak gimana. Terus gua juga nambahin lantunannya sama bikin liriknya. Abis itu lagu itu jadi “Karolina” di album Ports of Lima. “Lady in The Night” pertamanya dulu, rampungnya itu akhirnya jadi “Karolina”.  Itu lagu pertama gua tahun 1994. Umur 18 tahun kayaknya gua waktu itu.

Jadi alasannya karena terpancing si Mondo nyanyi-nyanyi lantunan itu. Akhirnya gua kelarin aja, mau tahu sampe ke reffnya kayak gimana, terus kata-katanya gimana. Gua bikin aja. Ya, kepancing sama Mondo.

Mengapa dalam penulisan lirik Anda sering menggunakan kata-kata metafor?

Gua suka nyambungin kata-kata yang ada aja. Kayak “gemuruh amarah” gitu. Gua visual banget dengan kata-kata. Jadi apapun juga yang gua tulis di lagu-lagu itu selalu ada visualnya. Visualnya itu selalu yang nggak pernah cerah. Visualnya selalu yang temaram. Visualnya selalu yang kayak berasap tebal, terus ada tornadonya, terus ada kilat-kilatnya. Abis itu gua coba satukan dengan makna. Gua coba kawinkan itu dengan kata-kata dan penyatuan kata-kata yang gak lazim. Itu semua karena dari visual di kepala yang selalu temaram.

Apa pengertian musik menurut Anda?

Kayak scoring kehidupan dalam film yang lagi kita jalanin sekarang ini. Film yang ditulis sendiri. Sutradaranya kita. Eksekutif produsernya kan Allah. Kita coba peranin kehidupan semua ini sebaik mungkin dengan lantunan-lantunan scoring. Itu soundtrack-soundtrack kehidupan kita. Sebenarnya dia (musik) itu bisa dibilang kayak koridor kehidupan yang mengiringi kita. Jadi kayak rel-rel kehidupan juga. Apa? pemandangan sih sebenernya, pemandangan dalam perjalanan kita. View-nya kita, landscape-nya, kayak ada gunungnya, ada apanya gitu, ya itu musik.

Apakah ada penghargaan yang pernah Anda raih selama bermain musik?

Dari AMI pernah, kategori The Best Alternatif Song kalo nggak salah tahun 2009. Lagu “Setengah Lima”, tuh. Terus album Centralismo di majalah Rolling Stone masuk nomer 40 album terbaik Indonesia di antara 200 album lain. Terus Ports of Lima jadi Album of the Year tahun 2008 versi majalah Rolling Stone. Pernah juga di Time Magazine Asia masuk 5 album yang patut dibeli apa kalo nggak salah. Album Centralismo masuk juga.

Pada situasi seperti apa biasanya bila Anda membuat lagu?

Ah itu mah mood, man. Banyak katalog gua mah, bisa sampe ratusan lebih kali yang gua rekam-rekam gitu. Yang jadi itu yang tiba-tiba inget aja. Abis itu gua kasih denger ke anak-anak (Sore). Biasanya sih lagi mood aja tiba-tiba ngambil gitar. Sikat sendiri, pas tiba-tiba progresi (chord)-nya enak gitu, gua bikin. Biasanya gua bikin ke Garage (Garage Band, software rekaman di Mac/Ipad) dulu tuh yang udah jadi.

Sekarang gitar gua patah bridge bawahnya. Gara-gara gua dikasih gitar sama saudara gua. Nah gitar gua (yang patah) ini, gua boleh sikat punya orang Korea. Dulu dia ngajar les di Pendulum punya Aksara. Jadi dia nyewa tempat ngasih les ke anak-anak Korea juga. Cuma dia orangnya jorok, kasar. Jadi gua embat aja gitarnya. Nah, itu gitar lumayan gila, man! Gitar kopong, eh malah banyak banget lagu yang jadi dari situ.

Terus pas gua dikasih gitar baru sama saudara gua, gua hadap-hadapin sama gitar gua yang lama itu, eh patah sendiri gitar gua yang lama. Kayak dia (gitar) itu bilang, ‘Kayaknya gua berakhir, nih.’ Gua udah nggak main-main gitar lagi. Nah, gitar gua yang baru itu, pas gua pindahin senarnya ke kiri, senar tengahnya putus. Terus gua belum beli lagi senarnya.

Apakah selalu sendiri saat membuat lagu?

Iya sendiri. Eh, dulu pernah sama Mondo sering berdua, terus sama Bemby sekali. Paling sering sih sama Mondo, makanya dulu gua berdua mulu.

Di mana biasanya tempat membuat lagu?

Di mana aja. Biasanya paling sering di dapur. Gua doyan aja ngeliat keadaan usangnya dapur, seneng aja gua duduk di situ dan tiba-tiba main aja.

Mengapa Anda menggunakan beberapa kalimat tanya dalam pembuatan lirik, seperti di “Woo Woo,” “Musim Ujan,” “Plastik Kita”?

Nah itu kan lu yang tahu. Tiba-tiba gua baru sadar. Selalu nggak pernah sadar gua, ternyata gua bertanya. Emang mungkin gua nanya kayak gitu ya nanya sama diri gua sendiri. Terus gua juga berharap yang dengar mempertanyakan itu. Jadi kita sama-sama nyari. Emang hidup ini kan pertanyaan, nggak mungkin nggak. Apa sih arti hidup ini buat lu, buat kita, buat semuanya? Makanya kita akan selalu bertanya. Terus jawabannya kan nggak ada yang pas.

Siapa orang yang paling berpengaruh hingga Anda bisa mendalami musik, selain dari anggota Sore?

Mungkin dari bapak ya. Dia kan suka main musik juga dan sering main band buat kawinan waktu dia masih muda. Bahkan dia yang bilang, ‘Biarpun kau dagang, bisnis, kerja, tapi kau harus main musik, kalau gak kau gila!’

Apa saja kegiatan di rumah kalau tidak ada jadwal manggung?

Ya kalau sekarang mah Netflix-an. Terus kalau nggak, tiap hari ada aja orang yang datang, ngobrol. Terus baca buku, main sama anak, terus bengong, ngerokok aja gitu.

Bagaimana menurut Anda perkembangan musik di Indonesia ke depannya?

Ya sekarang sih gua cuma perhatiin aja. Gini loh maksudnya, semoga semua genre, bukan cuma genre pop doang yang akan diterima secara luas. Gua pengen semua genre kayak misalnya di luar (negeri) itu diterima bener-bener, kayak underground, punk, ska, jazz, banyaklah, pokoknya semua bisa terima itu dengan punya pasar masing-masing.

Tapi menurut Anda mengalami kemajuan atau kemunduran bila melihat band zaman sekarang ketimbang band zaman dulu di Indonesia?

Buat gua personal sih kemunduran. Gua aja seratus persen main di panggung gak pake sequencer sama sekali. Kalau (band) sekarang pake sequencer. Lebih banyak main teknis dari pada makna yang disampaikan. Jadi lebih banyak gemerlapnya dari pada yang diomongin. Tapi ya nggak apa, emang fase, nggak ada salahnya. Nggak pernah ada yang salah. Cuma kan maksudnya selera masing-masing. Secara pribadi gua merasa ya mudah-mudahan akan lebih baik dari itu.

Bagaimana tanggapan Anda, jika karya Anda malah lebih banyak didengar oleh generasi 20 atau 50 tahun ke depan ketimbang saat ini?

Ya bagus. Maksudnya nggak kenapa-kenapa mau berapa tahun dari sekarang. Dia (musik) punya nasib sendiri masing-masing kan. Setelah bikin lagu kita juga jangan ekspektasi orang-orang akan terima itu. Ya nggak bisa juga. Tapi ya kita bikin dengan iktikad yang baik, ikhtiar yang baik dari hati kita, semoga ini menjadi manfaat buat semuanya. Lagu ini kayak anak yang jadi manfaat. Lu (lagu) pergi deh, abis ini lu keluar. Lu bikin baik ke orang. Lu mudah-mudahan bisa diterima orang, dan bisa jadi manfaat buat orang itu. Ya udah, biarkan aja.

Kayak Chairil Anwar sewaktu masih hidup, ancur hidupnya. Pas udah kelar (meninggal)-nya, baru seribu tahun lagi dia hidup. Gila.

Emang arti terkenal juga apaan sih? Yang penting bermanfaat aja, man. Kalau masalah terkenal doing, mah, apa manfaatnya? Kan sebaik-baiknya manusia itu manusia yang bermanfaat.

Jika Anda dapat kembali ke masa lalu, kesalahan apa yang akan Anda perbaiki dalam hal bermusik?

Nggak ada sama sekali. Karena penyesalan itu nggak perlu ada. Sama sekali nggak perlu ada. Selalu, kan, kita berandai-andai: ‘Coba dulu gua kayak gini, kayak gitu pasti sekarang gua akan lebih baik.’ Nggak juga, man! Belum tentu lu bisa lebih baik dari apa yang lu alami sekarang.

Yang ada, setiap kali manusia masuk ke dalam keterpurukan, dia juga harus bersyukur. Ketika dia bersyukur, dia bisa berdamai dengan dirinya. Bisa berdamai dengan keadaan. Kalau dia berpikir ‘dulu harusnya gua gini gini gini, mestinya gua kaya kalau gua begitu.’ Belum tentu lu bersyukur dan bisa bahagia.

Ketika lu terpuruk tapi lu bersyukur, itu baru orang yang paling bahagia. Orang paling kaya hatinya. Ketika dia bersyukur, ‘Ya Allah panasnya terik matahari hari ini membakar kulitku, alhamdulillah atas ini ya Allah, saya bersyukur akan ini.’ Itu orang yang paling bahagia.

Jadi tidak perlu ada yang diulang. Ketika lu bersyukur, nggak perlu ada lagi yang diulang. Ini gua ngomong begini bukan karena gua manusia alim. Gua juga masih setan, man. ♦

About the author

Alumni sosiologi Universitas Nasional. Dapat dihubungi di line: revinmangaloksa