Banyak orang yang menganggap film hitam putih itu membosankan. Bahkan ada salah seorang kawan saya yang menghindari film hitam putih. Katanya film seperti itu membuat dia ngantuk. Lho, kok bisa? Film kan bukan obat tidur. Ah, mungkin kawan saya sedang lelah. Tapi tidak dengan saya. Ted Grant pernah berkata, “When you photograph people in color, you photograph their clothes. But when you photograph people in black and white, you photograph their souls!” Saya setuju dengan perkataan Ted Grant tersebut.Saya selalu tertarik dengan gambar-gambar dan film-film yang hanya digoreskan dengan tinta hitam dan putih saja. Apalagi jika bernafaskan indie. Ada sesuatu yang artistik dan puitis di dalam sana. Ada kebebasan yang meluap-luap.

Everything looks better in black and white!” kata Lauren Mayberry.

Ah, ya. Saya setuju.

Saya tidak tahu bagaimana lagi cara menjelaskannya, tapi itulah yang saya rasakan.

Jan Ole Gerster berhasil membuktikan itu dengan film pertamanya yang berjudul A Coffee in Berlin (judul internasional) atau Oh Boy (judul original). Film indie asal Jerman ini bercerita tentang seorang pemuda tanggung bernama Niko Fischer (Tom Schilling) yang memang tidak jelas arah hidupnya.

Saya tidak tahu apa yang salah dengan karakter Niko ini. Dia adalah seorang pemuda sederhana yang baik (t idak banyak gaya seperti remaja-remaja pria zaman sekarang). Tapi entah kenapa hidupnya selalu apes. Mulai dari dicampakkan kekasihnya, diganggu tetangganya yang kesepian karena ditinggal istrinya, kartu ATM-nya yang tertelan, dipukul preman, ditampar teman kecilnya cuma karena dia nggak mau ngemprut, juga yang paling lucu dan filosofis adalah ketika dia selalu gagal minum secangkir kopi. Melihat semua rangkaian kejadian yang kocak, ngenes namun tragis itu sedikit mengingatkan saya dengan Bicycle Thieves (1948) karyaVitorio De Sica. Dan saya mengerti kenapa film ini berjudul Oh Boy. Saya yakin semua orang yang menonton film ini pasti akan bersimpati dengan karakter Niko yang malang ini. Niatnya ingin berbuat baik, tapi yang didapat malah sebaliknya.”Oh Boy, Poor Boy“. Mungkin kata-kata itulah yang bakal tercetus dari mulut  kita setelah melihat scene demi scene yang dialami Niko.

Jan Ole Gerster dengan cerdiknya mengombinasikan gambar-gambar cantik dan music-scoring klasik ala Woody Allen dengan atmosfer film yang muram nan hampa ala Jim Jarmusch. Dengan mengusung seorang anti-hero di ujung tombak dan sejumlah “badut-badut aneh” sebagai pemain pendukungnya, Oh Boy ini adalah sebuah film realis di mana setiap kejadian di dalam film tersebut sangat sering terjadi di sekitar kita atau mungkin terjadi pada diri kita sendiri. Saya pribadi sering sekali mengalami hal-hal yang seperti Niko alami. Niatnya mau berbuat baik sama orang, tapi justru kesialan yang kita dapat. Melihat Niko, saya jadi seperti bercermin.

Niko ini sebenarnya sudah berkali-kali tidak ingin mencampuri masalah atau urusan orang lain, dia berusaha untuk menjadi apatis tapi nuraninya berkata lain. Dia terus membantu orang, terus berbuat baik, walaupun yang didapat hanya kesialan dan kesialan.

Ada dua scene yang saya suka di sini, yaitu saat Niko bertemu dengan seorang nenek dari kenalannya.Nenek ini tinggal dengan seorang cucu yang bisa dibilang tidak terlalu peduli dengannya karena cucunya selalu asyik bermain dan berpesta dengan teman-temannya. Nuraninya sekali lagi bergejolak. Saat temannya yang brengsek sedang berbisnis ganja dengan cucu si nenek, Niko justru keluar dari hingar-bingar itu dan menghampiri si nenek yang sedang asyik sendiri di kursi santainya. Momen-momen Niko bersama si nenek itu menurut saya sangat menyentuh sekali. Ini persis sama seperti di film Hesher (2010), ketika Hesher, seorang pria eksentrik yang anarkis menemani seorang nenek, sementara keluarga si nenek yang lain malah sibuk mementingkan dirinya sendiri.

Yang kedua adalah saat Niko memutuskan untuk menyendiri di sebuah bar setelah berkali-kali ditimpa kesialan, ditambah berkali-kali gagal minum kopi. Dalam bar itu, Niko bertemu dengan seorang kakek-kakek yang mengajaknya ngobrol, awalnya Niko merasa terganggu, tapi sekali lagi dia tidak bisa menahan nuraninya. Dia menemani si kakek, mendengarkan si kakek berbicara sampai tiba-tiba kakek ini pingsan dan meninggal dunia. Momen sederhana ini hampir membuat saya meneteskan air mata. Niko menjadi orang terakhir yang ditemui si kakek tak dikenal itu.

Niko adalah sebuah representasi dari pria sederhana yang hanya inginmenjalankan hidup dengan tenang tanpa banyak gaya. Tidak seperti pria-pria zaman sekarang yang berlomba-lomba menarik perhatian lawan jenis dengan harta yang jelas-jelas bukan milik mereka (milik orang tua).

Setelah kejadian menyentuh itu, Gerster membasuh hati dan pikiran kita dengan beberapa potongan lanskap dari kota Berlin yang sepi dan sendu, seolah-olah dia ingin mendeskripsikan atau menginterpretasikan tentang apa yang dirasakan oleh Niko itu sendiri. Kita diajak untuk merenungi hidup, bahwa apapun yang nantinya kita dapat, berbuat baik itu tidak pernah salah. Berbuat baik itu seperti sebuah oase di tengah padang pasir. Kita akan menemukan kebahagiaan dan ketenangan tersendiri setelah melakukannya. Setidaknya, menurut saya pribadi. Gagalnya Niko ketika ingin minum secangkir kopi itu menjadi semacam simbol kemalangan-kemalangan yang diterimanya setelah berbuat baik. Secangkir kopi itu sendiri melambangkan kesederhanaan dari berbuat baik.

Apa, sih, susahnya berbuat baik?

Dan pada akhirnya, Niko menemukan oase pribadinya itu, dengan berhasil menikmati secangkir kopi pagi hari di dinginnya kota Berlin.

Sutradara: Jan Ole Gerster / penulis: Jan Ole Gerster/ genre: drama / rilis: 2014 / durasi: 80 menit / negara: Jerman / bahasa: Jerman

About the author

Enthusiastic Film Nerd. Penggemar berat karya-karya awal R.L Stine dan Hilman Hariwijaya. Terobsesi ingin menjadi detektif partikelir.
Bisa diganggu di: dimasatpermadi (LINE) & dimasrimbaud (Instagram)

Related Posts