Pada Suatu Misa di Kampung Sawah

Kabar teror di tiga gereja di Surabaya terus mengiang di kepala saya. Itu sangat menganggu saya. Menganggu pengalaman mengikuti misa yang sudah saya nantikan sejak lama. Saya berdoa di antara saudara saya yang beragama Katolik. Mereka berdoa dengan bersimbah sujud. Tampak sangat khusyuk dibimbing Romo di altar. Saya berdoa untuk damai dan keadilan umat di dunia. Tentu dengan tata-cara Islam. Karena saya beragama Islam. Saya mengirim Al-Fatihah, sebagaimana saya lakukan saat tahlil atau sesudah sembahyang.

Perihal Pwissie Jelek Sukmawati Soekarnoputri

Sebab, sebagaimana Jassin dalam kasus cerpen "Langit Makin Mendung", bagi saya kasus pwissie "Ibu Indonesia" kiranya akan lebih menarik bila sejumlah kritikus sastra mengulas pwissie tersebut dalam kanal sastra. Karena "imajinasi tidak bisa diadili", sekalipun itu imajinasi (baca: pwissie) yang jelek.

Dua Kisah Kecil di Kios Buku Bekas

Kania termenung. Dia mencoba membayangkan apa yang Irvin rasakan. Tapi dia tak mampu melanjutkan. Karena dia tahu itu sangat menyakitkan. Diserang oleh dunia dan manusia di dalamnya. Itu sering kali dia rasakan, walau dengan tikaman yang berbeda. Namun yang namanya tikaman, bagaimanapun caranya dan siapa yang melakukannya, akan tetap terasa sama sakitnya.

Menuju Bilik Kakus

Setelah empat puluh lima menit berlalu untuk memperhatikan hasil penggandaan tubuhmu yang cuma diam itu, kau kembali berjalan memenuhi kepentinganmu dan baru akan berhenti tepat di depan sebuah bangunan besar setelah dua kilometer perjalanan. Lalu kau memasukinya, memperhatikan sekelilingmu, kemudian kembali berjalan melewati lorong remang-remang, dan berhenti di antara banyak bilik kakus.

Tentang Perempuan di Depan Kamar

Aku sendiri tidak pernah berbicara dengan perempuan itu. Kami hanya saling bertukar senyum jika kebetulan berpapasan dan perempuan itu sedang sendirian. Jika aku kebetulan berpapasan dengan perempuan itu ketika ia sedang bersama laki-laki yang kemungkinan besar adalah suaminya maka aku akan tersenyum kepada laki-laki itu. Rasanya bukan pilihan bijak jika aku tetap melempar senyum ke arah perempuan itu meskipun laki-laki yang terlihat lebih tua itu bukan benar-benar suaminya.