Kuperingati kau: cerita yang kutulis ini benar-benar pernah terjadi.

Aku tergerak menulis ini selepas menyelesaikan tulisan di blog pribadiku beberapa malam silam. Lamunan membawaku ke peristiwa tragis ini, yang kupikir patut kuceritakan kepada orang-orang.

Demi etika, aku mengubah nama-nama orang yang terlibat. Peristiwa, dialog, tempat, serta waktu, kutulis dengan modal ingatan tanpa kuubah secuil pun. Ingatanku cukup kuat mengenai kisah ini karena aku terlibat lumayan dalam.

Ini kisah tentang seorang gadis, yang begitu kucintai tapi tak pernah berhasrat untuk kumiliki dalam konvensi umum, misalnya berpacaran. Aku takut, baik bila ditolak ataupun diterima, hubungan kami akan berakhir begitu saja seperti asap sisa pembakaran sampah.

Memangnya bila sudah berpacaran mesra, kau akan selalu mendapati nasib baik? Kau mungkin bisa menikahi orang itu, tapi cepat atau lambat kematian akan memisahkan kalian berdua. Dengan menjadi sahabatnya, aku akan selalu bisa memiliki gadis ini. Aku juga selalu bisa merestui hubungannya dengan pria mana pun. Toh, kami telah memiliki ikatan yang cukup kuat. Fakta-fakta itu sudah membuatku bahagia.

Hubunganku dengannya mengalami pasang-surut. Apa lagi sejak aku diterima kuliah di Jogja. Walau begitu, kami selalu bertukar kabar, merawat hubungan kami. Tiap libur semester aku lumayan sering menghampirinya. Rumahku di Pondok Bambu, rumahnya di Jatiwaringin. Tak sampai sepuluh menit aku sudah bisa menghampirinya.

Ia selalu antusias mendengar kisahku di Jogja. Ia salah satu orang yang begitu tulus mendukung apa pun yang aku lakukan. Ia sering menerima keluh kesahku tentang perempuan-perempuan yang kupacari. Di sela-sela itu, kami juga masih membicarakan musik, topik perbincangan favorit kami.

Karena kisah ini pula, untuk pertama kali aku menjadi paham betapa laki-laki dan penisnya bisa begitu jahat — sampai-sampai merenggut nyawa gadis yang sebenarnya memiliki masa depan teramat cerah.

Ini bukan cerita cinta, bukan pula wiracarita. Kisah ini nyata dan tragis. Inka nama sang gadis.

Dia mati dua kali.

***

Bandung, 2009

“Ya kamu tahu lah, gimana sih orang-orang pacaran? Tahu, kan? Yang gak sekadar jalan atau nonton? Pake seeeeeks! S.E.K.S.,” Inka nyerocos dengan cepat, mengatakan hal yang menurutku tidak patut dibicarakan di tengah kerumunan. Apa lagi dialog ini kami lakukan di Paris van Java, mal di Bandung yang selalu ramai.

“Maksudnya apa ya Ka?”

“Ah, gitu aja butuh diperjelas,” kata Inka sambil terus menuntunku menuju Carrefour yang terletak di bawah. Aku mengenalnya lumayan lama, sejak Inka masih duduk di kelas 2 SMP. Tiba-tiba gadis kecil itu telah menjelma dewasa, dan tanpa ragu mengajak berbincang soal seks.

Malam itu malam yang indah. Paris van Java sedang basah karena hujan baru saja mengguyur Bandung. Bintik air berpadu dengan gemintang lampu-lampu yang berpendar temaram di pelataran mal.

Aku berada di Bandung karena kawan-kawan sepermainanku di Jogja sedang mengadakan tur musik antarkota. Mereka tur atas nama sebuah label musik independen yang memiliki reputasi cukup oke. Saat itu libur semester tahun 2009. Aku diberitugas untuk mengatur tetek bengek konser kecil kami di Jakarta, yang dihelat di sebuah distro kecil namun menyenangkan di Jl. Bumi, Mayestik.

Kota kedua tur ini adalah Bandung. Aku diperkenankan ikut bus rombongan. Tugasku di Bandung semata penggembira. Inka waktu itu baru diterima kuliah di FSRD ITB. Impian besarnya terwujud. Ia menyetujui ajakan dariku untuk bertemu di Paris van Java, tempat gig itu dilaksanakan.

Mana kala kawan-kawanku menikmati jalannya acara, aku dan Inka memilih duduk di lantai dua. Aku begitu merindunya dan dari sorot mata yang ia beri, Inka seperti memiliki segudang kisah untuk diceritakan.

“Aku berhubungan dengan suami orang.”

Bang!

Aku sontak membisu dan langsung menggenggam jemari tangannya yang ringkih.

“Ada suatu kejadian di mana istrinya menghampiri rumahku, berteriak memaki-makiku, dan menggampar pipiku. Itu terjadi di depan ibuku.”

Bangsat, kok langsung rumit begini?! Aku menyodorkan gestur simpati, seraya menyilakan Inka untuk terus melanjutkan cerita. Kepala kami berjarak begitu dekat. Aku bisa mendengar dengus napasnya, juga mencium ruap mulutnya yang harum. Seingatku baunya seperti permen karet yang bercampur anyirnya ludah.

Ia nyerocos terus. Tidak seperti biasa, ia sekarang justru sering tersenyum. Ia tipe gadis yang terlalu dalam ketika memikirkan sesuatu. Ia pernah menghujaniku dengan cerita betapa ia mengagumi model asal Brasil, Adriana Lima. Kekagumannya itu ia limpahkan kepadaku berminggu-minggu, dan sering ia menjadi murung karena itu.

Selubung itu tersingkap sudah. Ini mungkin pertama kalinya Inka bisa menceritakan beban hidup yang menurutku terlalu berat untuk dipikul seorang gadis berumur 17, usianya kala pertama kali menjalin hubungan dengan pria itu.

Perkenalan Inka dengan Ivan, nama pria itu, bermula dari hubungan guru-murid. Inka gadis yang berbakat dalam urusan musik. Selain menjadi vokalis sebuah band jaz sejak masih duduk di bangku SMP, Inka juga belajar bass dan bisa memainkannya dengan apik. Ivan salah satu gurunya.

Seiring berlalunya waktu, hubungan itu berjalan semakin jauh. Arahnya semakin dekat dengan prahara karena Ivan telah memiliki keluarga.

Asumsiku, Inka tak kuasa menolak Ivan karena relasi kekuasaan yang timpang. Ivan juga berprofesi di bidang hukum, tentu saja pria itu pandai berbicara. Harus kuakui, untuk ukuran pria beristri, Ivan masih memancarkan kegantengan dari masa muda. Ia pria keturunan Aceh yang aku pikir juga dialiri darah Arab.

Malam itu, sebelum ia berteriak di pelataran mal, aku telah tahu bahwa Inka dan Ivan juga menjalani hubungan dengan bumbu seks. Inka tidak secara eksplisit mengutarakannya, tapi aku tahu. Aku tahu karena aku selalu tahu. Aku selalu tahu karena aku percaya pada kekuatan sinar mata. Mata, asal kau tahu, adalah jendela hati manusia.

Kejujuran Inka, ditambah suasana Bandung, membuatku ingin secepatnya minggat dari Paris van Java, lalu menghabiskan waktu berdua saja dengannya.

“Oke, tapi temani aku membeli gembok sepeda, ya. Kita belinya di Carrefour aja di bawah. Aku baru beli sepeda lipat!” ajaknya dengan mata berbinar.

Padahal baru tiga menit yang lalu ibunya menelepon Inka. Diterimanya Inka kuliah di ITB masih mengkhawatirkan sang ibu. Rumah Ivan dan Inka di Jatiwaringin berdekatan. Kepergian Inka di Bandung hanya menyelesaikan setengah masalah karena toh Ivan bisa sewaktu-waktu menghampiri Inka. Inka, waktu itu telah berkeputusan untuk menjauhi Ivan dan menenggelamkan diri dalam dunia perkuliahan.

Sang ibu juga mengajakku berbicara, memintaku untuk menjaga Inka. Aku memberitahu jati diriku, mengatakan bahwa aku dan puterinya telah berkenalan cukup lama.

“Aku pernah ke rumah, tante. Sekali. Mungkin tante lupa,” itu yang kukatakan padanya.

Waktu seolah berhenti. Aku begitu menikmati peristiwa bersama Inka malam itu. Aku mencandainya dengan lelucon-lelucon sederhana, yang ia timpali dengan tawa genit serta beberapa cubitan. Aku berandai-andai: andai saja aku bisa menghentikan waktu. Betapa nikmat!

Kami menelusuri Bandung menggunakan angkot biru. Di antara canda, Inka juga sempat kembali mengutarakan gelisah. Ia sedang menjalani masa-masa menyenangkan sebagai mahasiswa baru ITB. Tetapi bayang-bayang Ivan selalu bisa hadir dan mengancam. Inka sebenarnya ketakutan. Ia gadis Batak yang di balik sikap tegar yang ia pampangkan, menyimpan kesedihan.

Aku memeluk pundaknya. Berharap itu bisa sedikit menguatkan hati seorang gadis yang bahkan belum menginjak usia dua puluh. Aku tak mau berjanji. Aku sudah memberitahu kau: aku mencintainya dengan cara yang ganjil. Ada satu keinginan untuk menjadi pria yang bisa menjaga Inka, tetapi dengan cara apa? Jarak Bandung-Yogyakarta terlampau jauh dan aku masih memiliki kewajiban kuliah. Aku juga belum memiliki penghasilan tambahan.

Dari Paris van Java, Carrefour, angkot biru, sampai juga kami berdua di depan kampus ITB. Inka memilih kos tak jauh dari gerbang kampus. Gang menuju kosnya berada di depan ITB, di situ lah angkot biru memberhentikan kami berdua.

Aku menggandengnya. Inka merebahkan kepalanya di dadaku. Aku mendengar ia menghela napas dalam-dalam berulangkali. Duh, Inka, malang benar nasibmu.

Kau bisa membayangkan peristiwa ini? Ini betul-betul sulit untuk diutarakan. Perasaanku waktu itu dan saat menulis ini begitu campur aduk. Kehidupan kami telah begitu berseberangan. Tatkala kemesraan itu datang, Inka menyertainya dengan masalah. Ia seperti menyerahkan diri seutuhnya kepadaku, di saat aku sudah hampir tidak peduli lagi kepadanya.

Aku masih menyimpan rasa, Inka.

Tapi itu tak kuucapkan.

Aku memilih untuk terus mendengar ceritanya, menjadi penyimak yang baik. Gadis ini sedang betul-betul butuh cerita demi melepas beban di jiwa.

Sesampainya di kos, kami masih saja melanjutkan perbincangan. Kedua kaki kami sama-sama kami tekuk, mengerut akibat udara sejuk Bandung. Malam itu sudah hening, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas.

“Kosku ini lucu. Kosan khusus perempuan. Kami dilarang keras membawa teman pria ke dalam kamar. Tapi yang jaga kos cuma bocah SMP. Terang aja banyak temen-temenku yang nginepin cowoknya.”

Bang!

Perkataannya itu membuatku seolah berada di tepi jurang. Aku sangat ingin memeluknya sampai esok pagi, lalu menemaninya menjalani ospek. Aku ingin mendekap tubuh mungilnya, seraya berharap itu membuatnya sedikit kuat. Kalau itu tidak tercapai, setidaknya kami berdua bisa sama-sama berbagi kehangatan.

Tetapi aku tidak bisa. Bukan aku tidak mau, aku tidak bisa.

Aku kadung berjanji untuk menemui temanku Rindra. Rindra sudah kuanggap seperti saudara. Ayahku dan ayahnya adalah sepasang sahabat yang begitu dekat, sampai-sampai ayah Rindra, oom Wicko, sudah dianggap anak oleh nenekku. Aku berjanji untuk menemui Rindra dan bersama-sama mengunjungi nenek Rindra di Garut. Nenek Rindra konon merindukanku. Di saat Inka menyemburkan undangan untuk bermalam, SMS datang dari Rindra, mengabarkan ia telah berada dekat ITB, siap menjemputku.

“Rindra sedang menjalani fase buruk dalam hidupnya, Inka. Sepertimu. Bisnis bapaknya hancur lebur, ibunya bertahun-tahun sakit keras dan baru saja mati. Ia terpaksa berhenti kuliah dan bekerja demi menambal kebutuhan rumah tangga. Maaf, ya,” kataku lirih.

“Ih, gak apa. Kamu mau ke Bandung lagi, nggak, habis itu? Kan kamu masih libur,” Inka berkata sambil mengulum senyum.

Krompyang!

Undangan kedua datang setelah yang pertama tak kuterima. Undangan itu langsung kusanggupi.

Aku menemui Rindra, bermalam di kediamannya. Di situ Rindra menyatakan berkenan untuk meminjamkan motornya, untuk kupakai menemani Inka. Pas! Cocok! Esoknya, kami melaju ke Garut, mengunjungi nenek dan adik Rindra. Tugas menyambung silaturahmi kutunaikan dengan baik.

Kabut petaka datang di malam aku menginap di Garut. Inka tak juga membalas SMS-ku! Inka memang bilang bahwa ia tidak diperbolehkan menggunakan ponsel saat ospek. Tapi ospek kan tidak sampai malam. Atau mungkin ponselnya hilang? Rusak? Ah, saat nomornya kutelepon mesin penjawab menyatakan bahwa ponselnya sedang tidak aktif. Duh, kalut aku.

Sesampainya di Bandung, Rindra menepati janjinya untuk meminjamkan motor selepas sampai di tempat kerja. Tapi tidak dengan Inka. Janji untuk kembali bertemu ia tak tepati. Ponselnya tak kunjung bisa kuhubungi. Sial! Di mana kau, Inka?

Demi membunuh waktu, aku mampir ke warnet di bilangan Dipati Ukur, sambil terus mengontak ponselnya. Nada di seberang sana masih juga memberi sinyal negatif. Untuk kali pertama, Inka membuatku merana. Sore itu kuputuskan pulang ke Jakarta, menumpang bapakku yang kebetulan sedang ada acara di kota terkutuk itu.

***

Pondok Indah Mall, 2008

“Bisa nggak, sih, jalannya tanpa membuntutiku di belakang seperti itu terus?!” Inka menghardik, di dalam sebuah toko action figure. Aku bertanya-tanya, apa yang membuatnya sedemikian ketus?

Inka memang gadis yang blak-blakan, tetapi tabiatnya itu ia lakukan bukan untuk menyerang lawan bicara. Murni karena kejujuran dan keterusterangannya.

Tak cuma itu, saat kami berdua makan siang, ia menodongku dengan pertanyaan aneh, “Kita ini sebenarnya apa, deh? Mau kamu bawa ke mana hubungan ini?”

Aku hanya menjawab sekenanya. Berkata bahwa memang seperti ini lah hubungan kita sejak dulu. Maksudku, harusnya ia tahu bahwa aku terlalu takut untuk membulatkan perasaan kepadanya, murni karena aku terlalu menyayangi Inka. Aku mengunyah burger dengan mangkel. Pilihan tempat ‘kencan’ yang jauh ini juga Inka yang buat. Mungkin ia memang berniat merajuk sejak awal.

Kami menghabiskan sisa waktu dalam sunyi. Aku seperti ingin hari itu segera berakhir. Dalam perjalanan menuju tempat parkir, ia memintaku untuk menyalakan bluetooth di ponsel.

“Ada beberapa lagu yang ingin aku kasih. Nanti kamu dengerin, ya,” tukasnya.

Aku memperhatikan layar ponsel, dua lagu itu adalah “Violet Hill” dari Coldplay dan “Virginia Moon”-nya Foo Fighters. Perjalanan menuju Jatiwaringin kulalui dengan senewen.

Kampret.

Jika ingatan tidak berkhianat, aku tidak pernah memberinya rayuan atau pujian tendensius selama lebih dari tiga tahun hubungan kami. Kami berdua selalu bisa jujur mengutarakan maksud, tanpa khawatir akan menyinggung perasaan satu sama lain.

Setelah kejadian itu hubunganku dengannya sedikit berubah. Inka makin serius mengejar mimpi  kuliah di ITB. Hari-harinya sibuk dengan kursus tambahan. Pertukaran pesan singkat pun terasa datar. Tak ada lagi pembicaraan via telepon.

Pondok Bambu, sepulang dari Bandung

Tring! Ponselku berbunyi. Di layar tertera nama Inka! Aku baru saja tiba di rumah, merebahkan diri, mencoba menerka arah peristiwa nahas yang kualami. Ke mana Inka menghilang, mengapa ia seperti ditelan bumi?

Dengan harapan membuncah, kubuka pesan yang masuk. Sialnya, isinya gawat:

Tolong jangan ganggu aku lagi. Aku baru aja sampe di Bali, sama calon suamiku.

Demi seribu naga! Mengapa bisa begini? Aku langsung bisa menebak bahwa ‘calon suami’ yang Inka maksud adalah Ivan, si bedebah itu. Cuma dia laki-laki yang bisa memaksa dan menculik Inka, di saat Inka sedang asyik menikmati masa-masa awal sebagai mahasiswa. Apa lagi, baru tiga malam yang lalu Inka mencurahkan segenap beban yang telah Ivan timpa kepadanya.

Setan alas!

Aku menghubungi kontaknya, tersambung, tapi tak diangkat. Di percobaan kelima teleponku akhirnya diangkat. Aku menunggu suara Ivan. Kalau memang ingin bertempur sebagai sesama lelaki, ya mari! Tapi ternyata Inka sendiri yang menjawab. Aku tahu dari nada suaranya ia sedang berada dalam tekanan. Ia berkata datar bahwa memang betul ia dan Ivan baru saja tiba di Bali, seolah-olah hal itu telah mereka rencanakan sebelumnya.

Aku seperti berbicara dengan orang asing. Padahal aku mengenal gadis ini bahkan saat ia baru menapaki masa puber. Tidak terdengar suara Inka yang telah aku kenal sejak lama.

Inka telah mati.

Raganya mungkin masih hidup, tapi di mataku, dengan hati remuk aku nyatakan Inka telah mati.

Inka mati untuk kali kedua, satu tahun setelah peristiwa ini. ♦

(bersambung)

About the author

"Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.