Seyogianya, laki-laki dan perempuan berhak sama rata untuk meraih setiap kesempatan yang ada di depan matanya. Namun di Indonesia kata-kata tersebut sebatas gula-gula semata. Meski wacana mengenai gender terus diproduksi, logika patriarkis terus saja memaksakan manusia untuk menempati posisi sesuai ‘kodratnya’. Dengan logika ini maka ruang-ruang sosial menjadi tergenderkan. Kuasa patriarki terus menentukan peran apa yang sebaiknya kita jalankan.

Beberapa tahun belakangan, kita dijejali oleh pemberitaan (serta perbincangan) mengenai polwan cantik. Entah pihak Kepolisian memang mengagendakan wacana ini sebagai suatu upaya pencitra-ulangan, atau mereka sekadar memanfaatkan riuhnya perbincangan publik untuk mendongkrak citra, yang jelas term ini berhasil menciptakan gegar baru. Imaji tentang figur polisi yang garang dan sebaiknya dihindari – terkhusus di mata para pengendara motor – berhasil berubah sedikit. Melihat pramugari atau dokter yang cantik adalah hal biasa, kalau polisi? Wah, luar biasa betul dan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Apalagi jumlah sosok polwan yang ‘ditonjolkan’ juga banyak.

Mengikuti gegar publik ini, suatu artikel di Midjournal pun tak mau ketinggalan. Di situs yang memiliki semboyan “Middle Class for Dummies” ini, sang penulis Aditya Sani menceritakan sosok sosiolog perempuan muda yang bekerja di Korea Selatan. Penulis seperti ingin menawarkan gegar kekinian alternatif terhadap polwan cantik yang lebih dulu populer.

Sampai di sini mungkin Anda merasa tidak ada yang salah, tetapi jika membaca penceritaan yang dinarasikan penulis, serta bagaimana Midjournal membagikan tulisan ini di Twitter, maka tampaklah apa yang ternyata tidak baik-baik saja.

Judul Menyesatkan Penuh Ruap Testosteron

Artikel yang tayang pada 2 April 215 ini berjudul “Gemilang Sinatrya, Si Sosiolog Muda di Korea Selatan”. Namun di cuitan Twitter Midjournal menjadi, “#PeopleWomen Kisah @gemsinatrya , seorang Sosiolog muda dan cantik dari Indonesia”. Mereka seperti ingin merayu, saya rasa sebagai senjata untuk menggoda pembaca untuk mengklik artikel, sehingga bila dibayangkan berbunyi begini, ‘baca, nih, cuy. Ada sosiolog Indonesia yang muda dan cantik plus berkarier di Korea Selatan, lho.’

Artikel ini memang artikel lama, namun saya masih ingat reaksi saya saat baru membaca judulnya saja: berjengit kaget. Dalam satu helaan napas saya langsung tahu ada sesuatu yang janggal. Mengapa? Sosiologi, sebagaimana filsafat, masih didominasi figur lelaki. Jangankan sosiolog perempuan Indonesia, banyak dari mahasiswa sosiologi yang gelagapan bila ditanya ilmuwan-ilmuwan sosiologi perempuan. Max Weber adalah salah satu triumvirate sosiologi klasik, tetapi kita jarang membicarakan istrinya, Marianne yang juga seorang sosiolog cum tokoh gerakan perempuan.

Lha kok ini tiba-tiba ada sosiolog perempuan, berkarier di negeri Ginseng pula?

Ketika saya baca artikel ini, tidak ada sama sekali kalimat yang berbau sosiologi. Satu-satunya yang muncul adalah nama Erving Goffman, itu pun hanya sekilas dan berasal dari jawaban pihak yang diwawancara. Sudah begitu, konsep dramaturgi milik Goffman tidak dielaborasikan lebih jelas dan terkesan digampangkan dengan meletakkannya di satu kalimat dengan Shakespeare dan Nicky Astria (!).

Di artikel yang merupakan kombinasi antara wawancara dengan tulisan pendek ini, sosok yang dimaksud ternyata bukanlah sosiolog. Tidak disebutkan di mana Gemilang kuliah. Tidak dibahas satu pun riset-riset yang telah atau sedang ia kerjakan. Ini kejanggalan pertama.

Sosiologi adalah ilmu sosial murni sebagaimana filsafat. Mentang-mentang kamu sarjana sosiologi (apapun almamatermu), tidak serta merta membuatmu secara haqqul yaqin bisa menobatkan diri sebagai sosiolog. Seorang lulusan strata satu ilmu komunikasi pun belum bisa kita nilai sebagai ahli komunikasi. Ada ‘laku tapa’ yang mesti dijalani untuk mendapat predikat tersebut. Laku tapa yang dijalani sosiolog adalah mengikuti serangkaian proses pendidikan yang berjenjang dan linier. Ini jalan yang sunyi.

Setelah membaca artikel, ternyata ‘kesuksesan’ yang dimaksud penulis adalah penggambaran sosok perempuan sarjana sosiologi yang bisa berkarier di negeri orang sambil tetap bergaya chic dan tanggap terhadap tren kekinian. Ada memang, beberapa pertanyaan yang menyangkut profesi yang ia jalani, namun itu semua bersifat normatif. Kariernya pun saya kira tidak berhubungan dengan dunia sosiologi. Lebih parah, penulis menutup wawancara dengan pertanyaan yang begitu bias gender,

“Apa di rumah kamu memasak? Makanan macam apa yang biasanya kamu bikin?”

Dor! Ini kejanggalan kedua.

Jadi setelah dengan singkat menguak betapa aktif dan suksesnya Gemilang, tentang bagaimana perspektifnya soal Masyarakat Ekonomi Asean, atau pendapatnya mengenai kondisi pemuda Indonesia kontemporer, penulis ‘menjatuhkan’ Gemilang ke jebakan struktur patriarki. Bahwa kodrat perempuan adalah di dapur dan, ya, kamu boleh berprospek karier cerah, tapi kami tetap ingin tahu apa kamu bisa memasak.

Artikel ini, saya tegaskan, tidak menawarkan apa-apa kecuali menampilkan sosok perempuan idaman yang paling tidak bisa lelaki ikuti di Instagram. Syukur-syukur di-folbek, eh?

Bias selanjutnya adalah tulisan ini begitu bias kelas. Kita tidak diberitahu mengapa Gemilang bisa berkarier di negerinya Kim Ki-Duk. Artikel pun ditulis dengan bahasa Inggris (padahal artikel lain di situs yang sama menggunakan bahasa Indonesia). Tidak ada penggambaran bagaimana Gemilang mampu meraih semua yang diceritakan itu. Maka jangan salahkan saya jika saya anggap tulisan ini seperti menegaskan bahwa dengan kecantikan dan keberuntungan lahir di keluarga kaya, semua hal yang mereka idamkan bisa perempuan raih.

Penulis tidak bisa disalahkan seutuhnya. Ia adalah ‘produk’ dari wacana publik yang sarat akan nilai-nilai patriarki, maskulinitas, dan heteronormatifitas. Apalagi kini kita terlibat dalam pusaran internet 3.0, sebuah lanjutan fase internet yang Christian Fuchs sebut sebagai teknologi digital terkoneksi yang mendukung kooperasi antar-manusia (2008: 127).

Perempuan dalam Perbincangan Publik Terkini

Internet yang konon ruang publik satu-satunya yang bebas kekangan ternyata tak lekang dari terkaman patriarki. Internet 3.0 (baca: laju bergegas media sosial) digadang-gadang mampu dijadikan seseorang sebagai sarana lompatan mobilitas vertikal.

Kita telah menyaksikan nama-nama seperti Raditya Dika, Young Lex, Arief Muhammad, atau Awkarin yang mampu memanfaatkan media sosial dengan cerdik sehingga mampu mendulang rupiah dari situ. Namun Awkarin berada di posisi yang berbeda dengan tiga nama sebelumnya.

Yang membedakan Awkarin dengan tiga orang lainnya bukanlah Awkarin tidak kencing berdiri. Bila kita lihat secara saksama, Awkarin tetap menonjolkan sensualitas dalam bermedsos sehingga logika kapital di dunia nyata tetap bekerja di dunia siber. Ini tidak berlaku buat gadis yang bernama asli Karin Novilda itu saja, silakan sebut selebriti internet perempuan yang tidak semata mengandalkan kecantikan (seksualitas maupun sensualitas). Tentu Anda kesulitan menyebutnya.

Ada mungkin, tapi sedikit. Mencari figur selebriti internet perempuan yang tidak mengandalkan kecantikan laksana mencari jarum di tumpukan jerami.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa patriarki dan kapitalisme bersenyawa dan menjadi opresif terhadap perempuan, di dunia nyata dan maya. Secanggih apapun algoritma menentukan pilihan-pilihan, ia tetap terkait dengan ‘gerak jari’ manusia yang masih didominasi kungkungan patriarki.

Apa, coba, hubungan antara avatar gadis seksi dengan situs judi?

Tubuh adalah objek sosial, gender adalah kenyataan yang dikonstruksi secara sosial atau socially constructed dan ia merupakan entitas budaya (Turner, 2006: 408). Maka pemaknaan manusia terhadap konsep gender selalu berubah.

Budayalah yang membuat laki-laki dengan enteng mendakwa perempuan berbaju minim yang ia lihat di internet sebagai pecun lalu berkata, ‘bisa dipake, nih.’ Budayalah yang membuat perempuan menganggap kecantikannya bisa dipertontonkan di internet — untuk kemudian — di-monetize, umumnya lewat endorsement.

Internet 3.0 memang menggoda dan kita yang terlibat seperti tidak diberi kesempatan untuk hidup secara ugahari. Ia merayu agar kita selalu menunjukkan apa yang bisa kita tunjukkan kepada ‘dunia’.

Pola pikir seperti itu sepertinya juga menjangkiti Aditya Sani, meski kadarnya tidak terlalu parah. Ia menganggap sosok Gemilang sebagai figur ‘ideal’ (ideal menurut mata lelaki) sehingga bisa menarik minat orang untuk membaca tulisannya.

Seharusnya, tidak boleh tersemat kata ‘cantik’ di belakang para perempuan dan profesinya. Tidak boleh ada tayangan yang memberi judul ‘jaksa cantik’, ‘dokter cantik’, ‘dosen cantik’,  dst.

Lalu sampai kapan logika seperti ini berlangsung?

Pertanyaan yang sulit. Mengapa? Pertama, kita tahu rezim babe Harto yang militeristik dan maskulin itu telah lama tumbang, ternyata hal yang sama tidak berlaku untuk pola pikirnya. Kedua, bersamaan dengan terbukanya keran kebebasan informasi, kosakata-kosakata penanding wacana dominan seperti keadilan gender menemukan ‘musuhnya’ yang baru, yakni agama. Lebih tepatnya, pengekspresian agama di ruang-ruang publik sehingga lagi-lagi minoritas – dalam hal ini kaum perempuan – tetap termarjinalkan.

Mengamini tesis Robert Hefner (1998), agama – yang ia lihat dalam wujud pasar di negara-negara Asia Tenggara yang relijius – ternyata kompatibel dengan kapitalisme, pasar, serta demokrasi neoliberal.

Meski begitu kita tidak boleh pesimis. Wacana-wacana tandingan (produksi ilmu maupun agenda gerakan) mesti terus diupayakan. Situsweb, sebagai salah satu arena penting internet 3.0 bisa menjadi pemroduksi wacana-wacana tandingan ini. Sayangnya, tulisan Aditya Sani di situs yang katanya panduan bagi kelas menengah ini masih melestarikan konsep perempuan yang berada di bawah laki-laki. ♦

About the author

"Even if socialism is off the historical agenda, the idea of countering the exploitative logic of capitalism is not.” ― Erik Olin Wright.

Related Posts