“Manusia miskin seperti Rojak itu pantas untuk diisap darahnya sampai kering!” ucap Maria.

Maria yang merupakan seekor nyamuk betina itu pun merasa geram kepada Rosana, saudara seperanakannya, karena merasa takut untuk mengisap darah manusia. Baru kali ini Maria melihat seekor nyamuk yang memiliki rasa iba terhadap manusia. Sungguh bodoh sekali Rosana. Terlebih persaingan untuk mengisap darah manusia di antara para nyamuk semakin ketat.

“Tidak, Mar. Melihat tubuhnya yang kurus itu saja aku tidak tega, apalagi untuk mengisap darahnya,” jawab Rosana.

Maria dan Rosana yang tengah bertengger di tirai jendela gubuk Rojak itu terus berdebat panjang. Walau begitu, di balik itu sebenarnya Maria begitu menyayangi Rosana, sebab mereka berdua selalu bersama-sama sejak hidupnya mulai dari jentik hingga encu.

Beruntungnya, pada perdebatan kali ini Maria-lah yang memenangkannya. Ia terus mendesak Rosana agar mau mengikuti keinginannya untuk mengisap darah Rojak. Karena sudah berkali-kali percobaan yang dilakukan Maria untuk meyakinkan Rosana, dengan terpaksa Rosana akhirnya pun menuruti kemauannya.

Gubuk berukuran 5 x 5 meter yang terbuat terdari anyaman bambu itu, mempermudah para nyamuk untuk memantau aktivitas si Rojak. Terlebih di dalam gubuk Rojak tidak terlalu banyak perabotan. Di sana hanya terdapat sebuah kasur lusuh, dispenser bekas, kompor, dan mesin jahit saja. Sehingga para nyamuk dapat dengan leluasa terbang bebas di sekelilingnya.

“Di bumi ini, banyak sekali manusia-manusia tolol yang masih menganggap bahwa bangsa nyamuk itu memakan darah. Padahal darah yang kita isap itu hanya untuk menambah protein, agar bisa menjamin telur-telur yang kita hasilkan nanti,” tiba-tiba Maria kembali meyakinkan Rosana.

“Ah, tapi kan tidak semuanya manusia itu tolol?!” sergah Rosana.

“Ya, memang tidak semuanya, tapi tetap saja lebih banyak yang tolol, ya contohlah si Rojak itu! Bagaimana bangsa manusia mau mengubah dunia seperti yang mereka sering katakan, kalau tentang nyamuk saja mereka tidak mengerti, itu kan tolol.”

Lagi-lagi Rosana tak sependapat. “Lho, apa hubungannya mengubah dunia dan mengetahui tentang nyamuk? Jangan menilai manusia setolol itu. Mereka tidak setolol seperti yang kamu kira. Buktinya mereka sudah dapat membuat obat anti nyamuk sekarang ini untuk dapat membasmi kita.”

Maria tertawa pelan. “Tentu saja ada hubungannya, Rosana. Kalau tidak percaya, lihat sendiri bahwa nyamuk itu merupakan daftar hewan yang cukup tinggi sebagai penyebab kematian manusia. Bahkan prestasi bangsa kita ini dapat melampaui bangsa ular. Jadi bagaimana mereka mau mengubah dunia, kalau baru sama nyamuk saja mereka sudah mati? Oh, ya, satu hal lagi, prestasi nyamuk juga sudah pernah diraih sejak dari zaman nenek moyang dulu. Apakah kamu masih ingat kisah nenek moyang kita yang telah membunuh Raja Namrud?”

“Ya, aku tahu kisah itu.”

“Nah, kurasa kita tak perlu menakuti bangsa manusia lagi yang kebanyakan tolol itu. Malah seharusnya kita mesti bangga kepada bangsa kita sendiri yang sudah berjaya dari zaman nenek moyang hingga sekarang. Dan kalau kamu tadi berbicara mengenai obat anti nyamuk yang dibuat manusia itu, kurasa hanya manusia dari kalangan menengah dan atas saja yang sanggup membeli obat anti nyamuk yang ampuh. Kalau si gembel seperti Rojak sih, paling-paling juga hanya sanggup membeli obat nyamuk oles. Itu pun kalau lagi ada uang lebih,” ucap Maria kini disertai dengan ledakan tawanya yang cukup keras. “Padahal orang-orang miskin seperti inilah yang biasanya menjadi incaran kita, lantaran mereka sering tinggal di pinggiran sungai atau dekat kubangan sampah, yang tentu saja dekat dengan habitat kita. Bagaimana? Masih tidak percaya bahwa manusia itu tolol-tolol dan tidak bisa memakai akalnya?! Rosana, mulai sekarang kamu tak perlu ragu-ragu lagi untuk menghabiskan darah si gembel Rojak sampai kering,” tambahnya.

***

Sudah hampir sebulan lamanya Rojak tak lagi bekerja. Sebelumnya, ia telah bekerja selama sebelas tahun menjadi buruh home industry, lalu kemudian ia memustuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Ia memulai menjadi pekerja rumahan bermula ketika sang ibunya wafat. Rojak yang hanya hidup berdua dengan sang ibu di gubuk kecilnya itu, harus merasakan kehilangan orang yang paling dicintai untuk selama-lamanya. Sang ayah yang sebelumnya selalu bertengkar pada saat ibunya masih hidup, akhirnya memutuskan untuk kabur saat usia Rojak menginjak enam belas tahun. Bertahun-tahun lamanya hingga saat ini Rojak tak pernah sekalipun melihat kembali batang hidung sang ayah. Pasca dua tahun setelah ayahnya kabur, ibunya tiba-tiba terserang sakit keras dan akhirnya meninggal dunia.

Di usia delapan belas tahun itulah Rojak memulai melanjutkan pekerjaan ibunya sebagai penjahit kaos kaki. Untungnya, saat ibunya masih hidup, ia sering membantu pekerjaan ibu dan mengamati caranya menjahit. Dari sana, ia mendapatkan sedikit keahlian dan dapat melanjutkan hidupnya sebagai buruh home industry, meskipun ia hanya tinggal seorang diri.

Sebelas tahun berlalu, Rojak menjalani kehidupan penuh dengan kekosongan. Hari-harinya berlalu tanpa arti. Tidak ada cinta dari orangtua. Tidak ada cinta dari kekasih. Ia hanya sibuk menjahit kaos kaki demi kaos kaki yang begitu menggunung jumlahnya.

Hingga di suatu hari, ia benar-benar merenung tentang kehidupan yang sedang dijalaninya. Ia merasa hidupnya seperti dipermainkan. Bayangkan saja, ia harus menjahit sekitar sepuluh lusin kaos kaki setiap harinya, dan hanya diupah sebesar dua puluh lima ribu rupiah. Belum lagi bila ia tak sengaja melakukan kerusakan pada kaos kaki tersebut, maka ia harus menggantinya sebesar tujuh ribu rupiah per-kaos kaki.

Penindasan yang dialami buruh-buruh di pabrik, menurutnya masih kalah kejam dengan apa yang dirasakan oleh buruh home industri. Sebagai buruh home industry, Rojak tentu tidak memiliki jaminan kesehatan yang diberikan untuknya, berbeda dari buruh pabrik yang bekerja formal. Selain itu, alat produksi seperti mesin jahit itu juga harus ia beli sendiri. Dan apabila alat produksi itu rusak, tentu pengepul kaos kaki itu tidak mau tahu, Rojak harus memperbaikinya dengan uang pribadinya sendiri. Belum lagi kalau bicara masalah pembayaran upah yang tidak layak, apalagi menyinggung mengenai jenjang karir. Sampai mampus, ya aku akan tetap begini!, pikir Rojak di dalam renungannya tersebut.

Karena itu, sebulan yang lalu ia bertekad untuk berhenti bekerja. Tapi sekarang yang menjadi permasalahan yaitu Rojak sudah tidak mendapatkan lagi penghasilan untuk dapat melanjutkan kehidupannya. Di masa-masa ini, ia merasa hidupnya penuh dengan tekanan. Terlebih tidak ada orang yang bisa diajak berbincang seperti ibunya dulu, sehingga suasana hatinya makin gelap tak keruan.

Hingga pada suatu malam, ketika Rojak sedang asyik istirahat dengan nyenyak dari pikiran yang memuakkan, tiba-tiba ia harus terbangun dari suntikan nyamuk-nyamuk biadab yang mengganggu tidur pulasnya.

Bangsaaatttt, amuknya dalam hati.

***

Setelah Maria dan Rosana berbincang panjang lebar, Maria pun langsung mengajak Rosana untuk mengisap darah Rojak. Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah mengepakan sayapnya dan terbang menuju ke arah tubuh Rojak yang tengah berbaring di kasur lusuhnya.

Sekitar dua meter sebelum sampai ke arah tubuh Rojak, mereka dapat melihat beberapa nyamuk lain yang sudah hinggap di sana. Ada tujuh nyamuk yang sudah menempati lengan kiri, sembilan nyamuk di betis kanan, empat nyamuk di paha kiri, dan dua nyamuk di jempol kaki kanan Rojak.

“Kita hinggap di mana, Mar?” tanya Rosana.

“Aku paling suka di bagian dekat jambangnya,” jawab Maria.

“Lho, mengapa di dekat jambang?”

“Ya, karena kalau si gembel Rojak itu terbangun dan ingin menepak kita berdua, ia tak akan bisa dengan jelas melihat kita karena manusia tak bisa melihat ke arah telinganya sendiri, sehingga pukulan tangannya nanti akan mengenai telinganya sendiri, itu tentu malah jadi senjata makan tuan buatnya.”

Akhirnya mereka berdua pun mendarat di bagian antara jambang dan telinga Rojak. Setelah mereka tiba di sana, Maria langsung menyuruh Rosana dengan cepat untuk mengeluarkan jarumnya agar segera ditancapkan di tubuh Rojak.

Cuussss…

Jarum mereka berdua pun akhirnya menancap di bagian tubuh Rojak. Awalnya Rosana masih ragu saat hendak mengisap darah, tapi karena Maria terus memberi isyarat untuk segera mengisap darah Rojak dengan cepat, akhirnya Rosana pun mengisapnya.

Perlahan demi perlahan badan Maria dan Rosana mulai membesar, karena semakin banyaknya darah milik Rojak yang diisapnya. Setelah beberapa menit mereka tengah asyik mengisap itu, tiba-tiba saja mata Rojak terbuka. Rojak pun terbangun dari tidur pulasnya.

Maria yang telah menyadari Rojak sudah terbangun, kemudian dengan cepat langsung mencabut jarumnya. “Ayo, Rosana, mari kita kabur secepatnya sebelum si gembel Rojak menepak kita!” seru Maria kepada Rosana dengan nada tergesa-gesa.

Benar saja, setelah beberapa detik mereka berdua telah terbang dari tempat singgahnya, Rojak langsung memberikan tepakan yang keras ke arah jambangnya sendiri.

Ploookkk!!!

Pukulan keras Rojak itu mengenai telinganya sendiri. Sehingga telinganya pun berdenging cukup kencang dan membuatnya cukup pusing.

Rojak merasa kehilangan kesabarannya. Setelah banyaknya tekanan dalam hidup, ditambah lagi mimpinya pun dirusak oleh nyamuk-nyamuk biadab. Dengan perasaan kalap, ia langsung berdiri dari kasurnya dan berjalan menuju ke arah kompor. Di sana ia temukan sebuah minyak tanah yang terisi di dalam botol jeriken. Tanpa dipikir panjang lagi, Rojak langsung mengambilnya dan menyirami seisi ruangannya dengan minyak tanah. Setelah itu, ia bergegas pergi keluar.

Di depan gubuknya, Rojak mengeluarkan korek api dari balik kantong celananya. Ia menyalakannya, lalu menyulutkannya begitu saja. Dengan cepat, gubuknya itu pun akhirnya dilalap si jago merah. Semuanya terbakar.

Maria dan Rosana yang terjebak di dalam gubuk, kebingungan setengah mati. Tak ada jalan keluar bagi mereka berdua. Di sekeliling mereka telah dipenuhi oleh api yang telah melahap seluruh bilik bambu. Perlahan, kobaran api pun semakin lama semakin membesar dan menuju tepat ke arah mereka berdua.

Tanpa sadar, sayap Rosana ternyata sudah terbakar oleh api yang perlahan-lahan memakan sekujur tubuhnya sampai hangus. Maria hanya bisa menatap saudaranya mati dimakan api terlebih dahulu di depan matanya. Sekejap, terbesit dalam benak Maria, bahwa semiskin apapun seorang manusia, mereka masih dapat menggunakan akalnya untuk berpikir, dan setidaknya mereka telah diberkahi keberanian yang tak kalah juga pentingnya.

About the author

Alumni sosiologi Universitas Nasional. Dapat dihubungi di line: revinmangaloksa