Oleh: Ras Tafari*

Dengan mantapnya Limba menyeruput es teh manis buatan Mang Cecep. Rasa dahaga yang dia tahan sedari siang habis terguyur oleh deburan es batu bercampur teh manis yang menggulung di dalam tenggorokannya.

Limba bekerja sebagai tukang fotokopi. Itu bukan keinginannya, tapi nasibnya lah yang membawanya ke sini. Bagi Limba, di zaman yang sekiranya sudah maju ini sudah tidak butuh yang namanya kertas ataupun sejenisnya. Sudah merusak pohon-pohon yang menaungi kita dari sengatan panas, jadi pula sampah di pinggiran ibu kota. Tapi apa dayanya Limba, dia hanya orang apes yang terjebak dalam lika-liku ibu kota, Dan lagi pula siapa yang mau mendengarkan opini seorang petugas fotokopi? Apalagi beropini sudah dilarang dari jauh-jauh hari. Bisa dipidana, atau yang paling ekstrem dilenyapkan. Walau pemerintah masih menutup-nutupi perihal “pelenyapan” itu.

Diseruputnya lagi es teh manis itu, tapi kali ini es teh yang ditenggaknya berbaur dengan Fluoxetine yang dia beli dengan berhutang di apotek langganannya. Bukan karena pelit atau irit, tapi memang Limba tidak punya duit. Diintipnya dari balik kaca loket. Petugas apotek mencatat berapa kali Limba berhutang di apotek ini. Petugas itu mencatat dengan mencorengkan garis tegak lurus sedemikian banyak seperti sedang menghitung suara pemilu.

Sudah lebih dari sembilan tahun Limba berteman akrab dengan obat antidepresan ini, karena di masa mudanya semua orang mengucilkannya. Tidak ada yang mau berteman dengan Limba. Padahal tidak ada yang ganjil dari perawakan Limba, hanya saja terkadang Limba sangat suka mengeluarkan celetukan-celetukan spontan yang membuat orang merasa tidak nyaman. Terlebih lagi dia bernama Limba, dari namanya saja sudah membuat orang mengernyitkan dahi mereka sehingga membentuk lekukan-lekukan sinis. Mereka cuma tidak habis pikir, orang tua mana yang memberikan nama anaknya menyerupai kata limbah. Hanya satu huruf yang memisahkan Limba dengan limbah, dan kebetulan nasib dia dengan Limbah sangatlah serupa. Memang nama adalah doa, dan untuk Limba doa itu terkabul.

Limba dan limbah sama-sama menjadi entitas yang terbuang, sama-sama menjadi suatu potret buruk yang diwariskan manusia di zaman yang sekiranya sudah maju ini. Mereka menjadi komoditas sekali pakai yang setelahnya hanya mengambang di lautan dan dihantam gulungan ombak hingga melebur bersama plankton-plankton. Lalu tanpa sengaja dimakan oleh makhluk laut. Alhasil makhluk-makhluk laut itu terseret ombak yang memberondong, tak kuasa menahan rasa gaduh yang berdenyut di dalam perut mereka.

Sampai detik ini Limba masih dirundung sepi di tengah-tengah zaman yang sekiranya sudah maju ini. Hanya mesin fotokopi tua yang menemani dan guratan kecil di tiap sudut meja yang kadang serpihannya lesap ditelan angin panas yang bertiup dari arah timur. Waktu menunjukkan pukul 12 malam, jam dinding pun berdentang. Dentangannya meraba ke seluruh penjuru ruko yang sudah berumur satu abad itu. Limba pun terbangun dari tidur ayamnya. Diusapnya liur yang tumpah ruah di sekitar pipi kirinya, lalu dia pun bergegas untuk pulang. Entah takdir atau hanya kebetulan semata, badan Limba oleng dan menyeruduk lemari tua yang tidak pernah dihiraukannya. Pintu lemari itu bolong sejadi-jadinya.

Sekonyong-konyong Limba memekik kesakitan. Walaupun lemari tua itu sudah lapuk termakan rayap, tapi masih cukup nyeri bila menyambar kepala. Di balik serpihan kayu yang berantakan, Limba menemukan satu kardus yang tidak disegel dengan lakban, seakan-akan kardus itu bercokol di situ semata-mata hanya untuk dibuka. Untuk kardus seukuran TV rumahan memang sangatlah lengang. Bagaimana tidak, isinya hanya satu amplop yang bertuliskan “Untuk yang mau membaca dan mengerti” dan satu keping CD yang bertuliskan “Tontonlah aku dengan segala risikomu”.

Waktu menunjukkan pukul 12 lewat seperempat. Iktikad Limba untuk pulang ke rumah terbendung oleh dua barang yang dia sendiri tidak tahu dari mana asalnya. Di tengah pekerjaan yang sangat merepotkan ini dia malah menemukan kesibukan lain selain harus memijit-mijit tombol mesin fotokopi yang kadang harus dihentak oleh kaki agar berjalan seperti sedia kala. Dibacanyalah surat itu secara perlahan, ditontonnya CD itu dengan seksama. Sedikit yang Limba tahu bahwa setelah ini nasibnya tidak akan segetir dulu. Tapi siapa yang tahu?

***

 

 

 

Aku baru saja selesai membunuh kedua orang tuaku. Loh, kenapa? Kau kaget? Atau keberatan?

Baik, jadi begini. Aku sangat sayang dengan kedua orang tuaku, mereka adalah segalanya bagiku. Layaknya anak zaman sekarang yang selalu berswafoto dengan ayah atau ibunya untuk mengekspresikan rasa sayang yang mereka miliki, aku mengekspresikannya dengan cara menyatukan mereka kembali. Tenang, aku tidak memutilasi mereka lalu kusambung mereka menjadi satu kok. Yang kumaksud adalah aku menyatukan mereka di atas sana, di surga.

Karena begini temanku yang budiman, tepat di hari ulang tahunku yang keenam, mereka bertengkar hebat. Aku tidak ingat persis dengan apa yang mereka bahas, yang kuingat hanya saat ayah menahan tangan ibu agar tidak menusuk dirinya sendiri. Ibuku berteriak “Aku ingin mati saja!” lalu ayah menjawab “Jangan! Aku masih menyayangimu!” Tapi setelahnya aku tahu kalau ayah mengatakan itu hanya untuk sekedar pemanis saja, agar ibu tidak melakukan hal yang ceroboh. Hahaha, omong kosong memang selalu menjadi penyelamat.

Kalau memang ayah sangat menyayangi ibu, kenapa mereka harus berpisah? Tapi setiap aku menanyakan hal itu berulang kali kepada sahabatku, jawaban mereka selalu saja sama, mereka bilang “Cinta tak harus memiliki, bro” Jawaban yang jenaka. Persetan lah dengan kutipan klise yang kau dapatkan dari film-film cengeng itu. Kalau cinta ya harus terus bersama, dan yang boleh memisahkan adalah maut itu sendiri.

Aku rasa kau akan sadar bahwa maut adalah langkah awal dari pertemuan yang dinanti-nanti bukan? Persis seperti pribahasa Bersakit-sakit Dahulu, Bersenang-senang Kemudian, kita harus menempuh rasa sakit itu terlebih dahulu dan nantinya akan mendapatkan kebahagiaan. Tapi kau harus ingat dengan rasa takut itu, rasa takut yang melanda di saat kau menyadari bahwa ini adalah napas terakhir yang akan kau embuskan. Lalu jangan lupa dengan kegelisahan yang mendobrak akal sehatmu, gelisah di saat membayangkan dosa-dosa yang pernah kau perbuat, dan pada detik itu pula kau juga sadar bahwa tidak ada waktu untuk membenahi itu semua. Kau hanya bisa bergumam harusnya aku lakukan ini sedari dulu. Tapi itu semua telat, karena malaikat sudah selesai mencatat. Lagi pula, renungan itu terjadi sekelebat saja, jadi cukupkanlah itu semua, karena dalam hitungan detik kalian akan memasuki alam yang berbeda, yang kita sendiri tidak tahu bagaimana rupanya.

Bila kau tidak setuju dengan apa yang kukatakan barusan aku tidak peduli. Setidaknya imi adalah wejangan terakhir kepada kedua orang tuaku sebelum aku menyayat leher mereka satu per satu. Tapi lagi-lagi aku ingin memintamu untuk tidak menganggapku sebagai anak durhaka, karena poin penting yang ingin aku sampaikan di sini adalah, kita sebagai seorang anak, tidak selamanya harus setuju dengan apa yang orang tua kita nasihatkan, karena pada dasarnya orang tua kita hanyalah manusia biasa, dan sebagaimana mestinya manusia, mereka tidak luput dari kesalahan. Selama kita selalu berpikir secara rasional, kebenaran akan selalu kau genggam.

Aku sungguh berterimakasih kau telah berkenan untuk mendengarkan penjelasanku sampai akhir, tapi perlu kutekankan, aku tidak ingin kalian memuliakan apa yang telah kuperbuat, tidak ada hal mulia yang bisa kalian ambil dari sini. Tetapi kalian mesti ingat, kebenaran itu mutlak adanya.

Titipkan salam ini pada saudara-saudaraku yang selalu memandang diriku sebelah mata. Kalau sempat, aku akan mengunjungimu dan menceritakan betapa hebatnya di sana, betapa bahagianya aku berkumpul bersama orang tuaku lagi. Sampaikan juga salam ini kepada teman-temanku, katakan kepada mereka bahwa kalian tidak akan lagi melihatku merenung di saat jam istirahat sekolah. Kau tidak usah mengkhawatirkanku, aku di sana akan menjadi manusia yang tenteram, yang paling beruntung dan selalu bahagia, karena di sana tidak akan ada yang bisa merenggut kebahagiaanku lagi.

 

Salam,

Daniel Bartlam

***

 

Kamera merekam. .

 

Seorang pria kurus berkepala gundul berusia sekitar 20-an duduk di sebuah kursi kayu, menatap ke arah kamera yang mulai merekam. Dia hanya mengenakan kaus kutang kumal dan celana dalam. Wajahnya sayu. Ada lebam berwarna keunguan di bawah mata kirinya. Rekaman video menunjukkan tanggal 17 Februari 2019

Apa kita perlu ber-Tuhan? Aku rasa tidak. Lagi pula apa semua orang di sekitarmu peduli tanpa terkecuali jika kita ber-Tuhan atau tidak? Yang paling peduli hanyalah orang-orang yang sekiranya sayang dan acuh terhadapmu, walaupun pasti di antara mereka ada yang berpura-pura simpati kepadamu. Meskipun demikian, kurang lebihnya kau bisa mendapatkan iba dari mereka nantinya di saat kau telah tiada. Mereka akan terus mengenangmu untuk beberapa bulan ke depan. Akan ada perbincangan kecil di antara mereka, pembicaraan yang mengenang apa saja yang kau telah perbuat semasa dirimu hidup. Bila kau memilih menjadi orang yang baik, maka mereka akan tertawa dan terharu karena sudah kehilangan sosok yang mereka cintai dan mereka sayangi. Tapi bagaimana kalau kau memilih jalan yang salah? Bagaimana kalau kau malah memilih menjadi orang jahat atau bengis sekalian. Ya mereka akan tertawa pula, tapi tertawa bahagia karena kau telah tiada.

Lagi pula siapa sebenarnya yang mengatur itu semua? Siapa yang mengatur dan memberikan kaidah bahwa ini benar itu salah, siapa? Hampir semua orang yang kutanya pasti menjawab, “Masyarakat, negara, dan agama”. Masyarakat dengan kebudayaannya, negara dengan undang-undangnya, dan agama dengan kitabnya. Tapi semuanya itu adalah omong kosong. Masyarakat merembukkan suatu kaidah saja sudah asing bagi telingaku bila mendengarnya. Mereka ini hanya manusia biasa yang punya ego, dan kalian kira mereka mengikutsertakan semua orang yang ada? Ya tentu tidak, janganlah terlalu naif. Yang perlu kalian pahami ialah, budaya itu adalah sebuah kebiasaan yang kita sepakati bersama, dan kebiasaan itu pasti datangnya dari banyak orang. Jadi para minoritas dan tetek bengeknya ini terpaksa untuk membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar. Hahaha, sungguh kasihan kaum marjinal ini.

Negara membuat kaidah yang absolut, yang mutlak hukumnya untuk kita patuhi. Tapi lagi-lagi itu semua datangnya dari seorang manusia biasa, bukan rasul, apalagi Tuhan. Bahkan, kali ini bukan hanya egonya saja yang tercampur ke dalam kubangan kaidah itu, tapi kepentingan mereka juga ikut teraduk di dalamnya. Kepentingan politik dan kekuasaan, keinginan untuk kaya, keinginan untuk menindas sesama. Siapa korbannya? Lagi- lagi ya kaum minoritas, kaum-kaum yang terpinggirkan ini akan selalu jadi korban kalau kita bicara tentang kaidah-kaidah yang dibuat oleh para elit politik.

Jangan anggap apa yang aku katakan barusan itu hanyalah bualan belaka. Jadi manusia itu mbok ya jangan terlalu lugu, karena itu membuatmu mudah tertipu, apalagi ditipu oleh agama, hehehe. Ya sangatlah mudah. Boleh jadi selama ini kalian menganggap norma-norma agama itu benar adanya ya? Tanpa celah, ya? Banyolan kalian sungguh jitu memang.

Apakah kalian tahu bahwa satu agama yang dianut oleh beberapa orang bisa mengakibatkan hasil yang berbeda? Banyak orang belajar kitab-kitab agama lalu bertransformasi menjadi pemuka agama tetapi banyak juga orang-orang yang mendalami ilmu agama sedalam-dalamnya, tapi malah berakhir menjadi seorang martir. Padahal apa yang mereka baca, dan apa yang mereka terapkan itu sama persis dengan yang kalian lakukan. Mereka rajin beribadah, mereka juga rajin mengamalkan apa yang ada di dalam kitabnya, tapi kenapa mereka berubah menjadi manusia yang selalu dikecam oleh sesamanya?

Aku pernah bertemu dengan salah satu dari mereka. Aku disuguhi teh, disambut hangat dengan senyuman yang melintang dari pipi ke pipi. Dia menyapaku dengan tepukan lembut di pundak dan mempersilahkan aku untuk duduk. Di situ dia bercerita, betapa tidak adilnya dunia ini walaupun ia sudah taat beribadah dan menjalankan perintah-perintah yang ada dalam kitabnya, tapi skenario hidup yang diberikan Tuhan kepadanya hanyalah penderitaan belaka. Tidak ada yang membuatnya bahagia. Tak kuasanya dia menahan tangis itu di tengah ia bercerita, tangannya menggenggam erat celana pendeknya sampai terlihat kusut, mukanya pun ikut kusut, semerawut. Lalu dengan muka sendu itu dia menyuruhku untuk menunggu di luar.

Selang beberapa menit dia kembali menghampiriku dengan tatapan kosong, tapi entah kenapa senyumnya masih merekah seperti saat menyambutku tadi. Setelah dia mengusap darah yang ada di pelipisnya, yang aku tak tahu karena apa, akhirnya dia mengatakan sesuatu kepadaku. Kalimat-kalimat itu membuatku termangu dan berpikir bahwa kita sebagai manusia itu hanya hidup sendiri. Kita yang memutuskan apa langkah selanjutnya. Jangan jadikan semua norma-norma yang ada menjadi batasan, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan, dobrak cakrawala itu. Semua keputusan itu ada di tanganmu.

Ambisiku memang selalu ingin menjadi yang terdepan dalam sebuah pergerakan, apapun caranya aku harus menegakkan apa yang menurutku benar. Aku tidak ingin hidup lebih lama lagi hanya untuk menjadi orang jahat. Aku hanya ingin mati cepat dan dikenang sebagai orang yang membela apa yang tepat. Tetapi kalian jangan salah dalam memahami ini. Ini semua semata-mata hanya untuk menyelaraskan apa yang melenceng dari kepercayaanku. Aku percaya bahwa manusia sejatinya punya hak untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan selama memegang teguh kebenaran. Bukan malah menjadi penunggang norma-norma yang ada, menunggangi apa yang leluhur mereka wariskan. .

Jika kalian menonton rekaman ini, berarti aku sudah mati. Sebentar lagi mereka datang. Mereka sudah jauh-jauh hari mengamati tindak-tandukku. Selamat tinggal. .

Kamera mati. . .

***

Wajahnya gusar sekaligus ketakutan. Jantungnya berdegup kencang. Matanya terbelalak tak berkesudahan. Tangannya masih meremas celana pendeknya yang sudah terlihat lusuh itu. Tidak ada celetukan-celetukan khas yang keluar dari mulutnya, bibirnya kering kerontang. Kali ini tidak ada es teh manis buatan Mang Cecep yang bisa membasahi sekeliling bibirnya. Limba tidak menyangka akan menyaksikan apa yang dia saksikan tadi.

Bagaimana tidak, di zaman yang sekiranya sudah maju ini semua orang memang takut beropini. Mereka takut dipenjara atau hilang ditelan bumi. Limba termasuk salah satu dari orang-orang itu. Limba sangatlah yakin bahwa dirinya bukan seperti orang yang ada di dalam video itu. Limba hanyalah manusia yang apatis, manusia yang hanya ingin mengikuti ke mana arus ini akan membawanya. Tapi tidak dengan mereka, mereka masih mau melawan arus itu. Mereka tidak peduli bila semua kaum yang ada di muka bumi ini akan menganggapnya asing.

Limba memang tidak pernah sanggup untuk memperjuangkan apa yang benar, dia hanya bisa merepresikan emosinya. Banyak kejadian yang terjadi di depan matanya tapi dia tak sanggup untuk menyudahinya. Seperti di saat dia hampir terlibat di dalam pertengkaran dua orang yang memperebutkan perempuan di tengah jalan. Limba mendengar jelas bahwa perempuan itu berteriak minta tolong, tapi dia enggan berdiri dari ruko yang berumur satu abad itu. Matanya hanya mengintip dari sela-sela etalase yang sedikit tertutup oleh tumpukan-tumpukan buku. Dia menyaksikannya dengan jantung yang berdegup kencang dan mata terbelalak tak berkesudahan, tapi ya hanya sebatas itu saja, tidak ada keinginan untuk lompat keluar dan bergegas membantu perempuan celaka itu. Karena bagi Limba semua sudah ada yang mengatur, kita tidak diperkenankan untuk mengganggu kuasa-Nya.

Memang Limba tidak tergolong sebagai agen-agen perubahan. Lagi pula bagaimana mau melakukan perubahan? Bila hasrat untuk menolong sesamanya saja sudah tidak ada. Tetapi entah Limba sadar atau tidak, di balik ketakutan yang dia rasa, masih ada terselip anggapan bahwa peristiwa yang dia rasakan sekarang ini adalah intervensi dari-Nya, walaupun selama ini orang-orang hanya menganggap Limba sebagai entitas yang terlupakan, dan manusia tidak berguna, tetapi takdir ini entah kenapa mengerucut kepadanya.

Hatinya pun kalang kabut. Pikirannya gaduh. Detik jam terdengar jelas di telinganya. Limba terperangkap dalam kesunyian. Setelah beradu dengan argumennya sendiri, Limba dengan mantap memutuskan untuk lari dari ruko yang berumur satu abad itu. Dia tidak peduli dengan tasnya yang tertinggal di ruko yang berumur satu abad itu, dia tidak peduli bila Pak Gema memarahinya esok pagi, dia juga tidak peduli dengan sampah-sampah serpihan kayu yang berasal dari lemari tua yang tidak pernah dihiraukannya itu. Yang sekarang Limba ingin lakukan hanyalah ke tempat perempuan celaka itu mati.

Sesampainya di sana, Limba menangis sejadi-jadinya. Dia meratapi tiang listrik yang di mana adalah tempat terakhir si perempuan celaka itu menghembuskan napas terakhirnya. Di situ dia berduka.

***

*Lulusan Sastra Inggris Universitas Nasional angkatan 2013. Bercita-cita menjadi penyiar radio. Menggemari tokoh Batman meski usia sudah berkepala dua. Dapat dihubungi di @raaaasta (Twitter, Instagram & Line)

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.

Related Posts