Perjumpaan dengan Sapto, Temanku yang Baik, di Bekasi

Pemuda itu memakai kaos Persija yang tampak kebesaran di tubuhnya yang tipis. Seakan tak ingin berhenti mengejutkan kami, ia lebih senang menggunakan kosakata bahasa Jawa. Saya pun mengajaknya berkenalan. Pemuda ceking itu bernama Sapto, lahir dan besar di kampung Rawabacang, Bekasi. Saat itu lapaknya juga dikunjungi satu keluarga yang asyik membacai buku-buku bertema agama. Ada pula dua bocah yang melihat-lihat koleksi buku yang Sapto jajakan. Tiba-tiba saja saya merasa cuaca Bekasi beralih sejuk.

Merayakan Sakit Hati lewat Cidro

Di balik popularitas lagu-lagu berbahasa Jawa ini lah sosok Didi Kempot “kembali” menyeruak ke permukaan. Padahal, karya-karya seniman yang telah puluhan tahun berkarier ini banyak dinyanyikan ulang oleh penyanyi-penyanyi dangdut koplo di Indonesia. Bahkan, Gofar Hilman, penyiar radio yang sekarang menjadi influencer di media sosial, tertarik untuk menjadikan Didi Kempot bintang tamu di kanal YouTube-nya.

Pada Suatu Misa di Kampung Sawah

Kabar teror di tiga gereja di Surabaya terus mengiang di kepala saya. Itu sangat menganggu saya. Menganggu pengalaman mengikuti misa yang sudah saya nantikan sejak lama. Saya berdoa di antara saudara saya yang beragama Katolik. Mereka berdoa dengan bersimbah sujud. Tampak sangat khusyuk dibimbing Romo di altar. Saya berdoa untuk damai dan keadilan umat di dunia. Tentu dengan tata-cara Islam. Karena saya beragama Islam. Saya mengirim Al-Fatihah, sebagaimana saya lakukan saat tahlil atau sesudah sembahyang.

Perihal Pwissie Jelek Sukmawati Soekarnoputri

Sebab, sebagaimana Jassin dalam kasus cerpen "Langit Makin Mendung", bagi saya kasus pwissie "Ibu Indonesia" kiranya akan lebih menarik bila sejumlah kritikus sastra mengulas pwissie tersebut dalam kanal sastra. Karena "imajinasi tidak bisa diadili", sekalipun itu imajinasi (baca: pwissie) yang jelek.