Percakapan Bekas Kekasih di Ambang Petang

Petang merembang, bersiap menjadi malam. Dari spion mobil, bayangan hotel telah tertelan gedung-gedung, juga pohon-pohon dan baliho usang berkarat. O, betapa petang hanyalah isyarat dan persinggahan, dan betapa rentan ia mengakrabi perpisahan.

Babad Ilalang

“Tak peduli. Kamu telah menjanda atau jadi nenek-nenek pun akan selalu saya kejar. Selalu ingat-ingat hari ini. 20 Oktober 2002. Beberapa tahun nanti, percayalah, saya akan sangat pantas untukmu. Saat itu mungkin kamu sudah menginjak usia empat puluh, atau bahkan lima puluh. Tetapi saya tahu umur sekadar angka yang takkan sanggup melunturkan kecantikanmu. Sudah, ya. Saya main bola dulu.”

Selebrasi Terindah

Tanpa diketahui sang bapak, anak lelaki bertubuh ceking terus merawat harapan terhadap sepakbola. Bukan, bukan berarti ia ingin menjadi pesepakbola. Permainan itu ia jadikan sebagai wahana pemberontakannya terhadap apa saja.