Oleh: Teuku Ramzy Farrazy

LGBT? Yang pasti tulisan ini tidak akan membahas mengenai equal marriage, karena kenyataannya nggak semua orang LGBT ngoyo mau kawin nikah, wong kawan-kawan hetero aja banyak yang ujung-ujungnya cerai! Namun dalam menanggapi serbuan berita tentang LGBT, saya telah menyaksikan betapa  para awak media gencar mengejar rating dengan menayangkan berita yang tidak sesuai fakta, tanpa melalui riset dan tentunya dengan editing yang berkualitas buruk!

Di balik semua itu, ada beberapa hal lebih buruk yang membuat saya berpikir bahwa benar ternyata negara kita dipimpin oleh orang-orang yang tidak mendapat kuota saat Tuhan bagi-bagi otak. Ada satu hal yang pasti: kesalahan fatal dalam komentar dan statement para pejabat yang semakin menunjukkan sisi mbahluli mereka. Adapun berikut tujuh komentar mbahluli mereka (bukan versi On the Spot yaa):

  1. Mensos Khofifah Indar Parawansa: LGBT Bagi-Bagi Gift.

“Sebulan lalu saya datang ke Lombok dan ada yang mensasar anakanak SMP kurang mampu, dikasih gift (hadiah).” (Statement bu Khofifah, 16 Februari 2016 di Gedung DPR).

Dalam pernyataan tersebut terlihat bahwa kelompok LGBT seakan melakukan sebuah perekrutan atau open membership kepada anak-anak di bawah umur dengan iming-iming hadiah. FYI, hingga hari ini Ibu Mensos tidak dapat membuktikan pernyataannya tersebut, tidak ada bukti nyata pula mengenai perekrutan itu dilakukan oleh siapa, dari organisasi mana, tanggal berapa, bertempat di mana. Fitnah ini seolah-olah di Lombok sedang diadakan suatu ajang pemilihan ‘LGBT Kids’ dengan hadiah permen-permen lucu setelah itu mereka dibaptis menjadi LGBT.

Dalam kenyataannya, organisasi-organisasi pergerakan LGBT di Indonesia selalu memiliki batasan minimal umur dalam keanggotaan. Sepengetahuan saya, tidak ada yang namanya LGBT bisa ‘ditularkan’ melalui membership.

Oh iya. Ibu Khofifah, kemarin saya masih melihat banyak sekali warga yang tinggal di pemukiman kumuh dekat rel kereta Kalibata yang menunggu untuk diurus Ibu. Segera.

  1. Fahira Idris: Gerakan LGBT Dunia Targetkan Negara Muslim Terbesar

“Kini merekapun hendak merambah ke negerinegeri muslim setelah sukses di Eropa dan Amerika”. (Disampaikan dengan semangat jihad fisabilillah dalam diskusi “Bahaya LGBT Bagi Tatanan Sosial Budaya Bangsa Indonesia”, 24 Februari 2016 di Komplek Parlemen).

Uni Fahira sangat-sangat bertotalitas apabila menyuarakan permasalahan akidah dan akhlak. Lebih bersemangat lagi ketika membahas selangkangan seksualitas rakyatnya. Jelas sekali bahwa Uni berpendapat bahwa LGBT itu murni kreasi orang Barat. Sayang, Uni lupa bahwasanya jauuuuuhh sebelum tragedi Stonewall (awal mula gerakan LGBT dunia) meletus di Amerika sono, beberapa kalangan santri di Jawa sudah memiliki tradisi bromance antara akhi yang dikenal dengan istilah ‘mairil’ dan ‘dalaq’. Atau jangan-jangan Uni belum pernah membaca Abu Nawas yang dipenuhi kisah romantis ala-ala gay love ya? Uni pasti tidak tahu. Coba Uni perluas referensi bacaan Uni, sekarang!

Tapi memang Uni kita yang satu ini adalah seorang jihadis yang aktif dalam aktifitas dakwah fesbukiyah sejati sih. Coba lihat saja hate speech nya yang di-like ratusan lebih pengikutnya. Oh, maaf, beberapa sudah diblok oleh Facebook. YES, PLEASE! Uni diblok karena senator kita yang satu ini mengungkapkan hate speech melalui akun media sosial yang pro terhadap kemanusiaan! Thank you, Zuckerberg!

Saya sebenarnya cukup prihatin dengan salah satu curahan hati sang Uni berikut, cukup prihatin sampai-sampai saya menitikkan air mata!

“Unggahan Anti LGBT saya juga dihapus Facebook,” begitulah kira-kira curhat penting sang Uni kepada Republika Online. Ini penting, loh!!

  1. Tifatul Sembiring: #RenunganJumat yang Kontroversial

Mantan menteri yang satu ini memang tidak ada habisnya menuai kontroversi. Melalui akun Twitternya, Tifatul Sembiring mengutip hadits Nabi SAW yang yang bersabda: “Siapa yang kalian dapati mengerjakan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah.” – HR. Ahmad. Twit ini disertai tagar #RenunganJumat. Well, renungan Tiffy ini menuai kontroversi dan twitwar dengan netizen lainnya.

Tiffy mungkin lupa bahwa ia sedang tidak berada di Arab Saudi yang menerapkan hukum syariat. Mungkin ia juga lupa bahwa sedang memposting hate speech melalui Twitter, yang sangat LGBT-friendly.

Dear Tiffy, mungkin Tiffy lupa bahwa hadits yang digunakannya dalam twit tersebut adalah hadits dhaif (non shahih). Dalam hukum Islam, kedudukan hadits sekelas hadits Shahih saja bisa ditolak lho, jika bertentangan dengan Alquran sebagai hukum tertinggi. Karena tidak mungkin kan Kanjeng Rasulullah bersabda sesuatu yang kontra dengan Alquran? Sedangkan di Alquran sendiri tidak ada satu ayat pun yang menyerukan pembunuhan terhadap LGBT.

Dear, Tiffy. Bagaimana jika hukuman matinya diterapkan saja kepada mereka yang melakukan tindak korupsi terhadap uang rakyat (terutama yang terkait pengadaan daging sapi dan sejenisnya)? It’s a faux pas, Tiffy!

  1. Walikota Tangerang: Mie Instan Sebabkan LGBT

Menanggapi kebahlulan yang satu ini, sebenarnya saya antara ingin menangis, gigit-gigit kardus, sembari rolling-rolling cantik di sepanjang selasar UNAS.  Ya, walikota – yang entah kok bisa dipilih ini – menyatakan mie instan dan susu formula sebagai tersangka utama penyebab paham ideologi LGBT wahyudi amriki yang lagi sesat membahayakan tersebut! Yuk, kita simak:

“Ini kan trennya karena orangtua sibuk kerja akhirnya anak dikasih susu kaleng dan mie instan. Makanya tidak heran jika akhirakhir ini banyak terjadi penyimpangan LGBT, tandasnya dengan pede nan brilian pada Selasa (23/2).

Oke, mari kita bahas. Apakah prajurit-prajurit gay spartan yang gagah berani  yang hidup beribu tahun lalu sudah mengenal Indomie, Mie Sedap, Sarimie dan Pop Mie? Saya rasa boroboro, ya. Mungkin kalau mereka sudah kenal Indomie mereka nggak akan bisa berperang karena jelas kualitas gizi indomie diragukan.

Saya rasa pernyataan tersebut melecehkan warga Indonesia terutama kaum ibu yang belum mampu secara finansial memberikan makanan yang sehat untuk anaknya, jika menurut standar pak walikota yang terhormat, makanan sehat itu misalnya yaaa daginglah, atau ayam, kaviar, sirloin steak, susu murni yang sebotol Rp 26.000-Rp 30.000. Ngomong-ngomong, Pak Walikota sudah berani tuntut Indofood-nya pak Franky Welirang belum?

  1. Erlinda: Propaganda LGBT dilarang keras masuk ke anak-anak!

“Mereka salah karena mengkampanyekan propaganda LGBT kepada anakanak. Padahal anakanak itu sama sekali enggak boleh diberitahukan halhal yang buruk yang bertentangan dengan usia dan masa pertumbuhan.

Bu Erlinda Komisioner KPAI yang cantik  mungkin harus join satu tim dengan Bu Mensos yang berkomentar mengenai perekrutan anak-anak (yang sebenarnya enggak ada!) dalam kelompok LGBT. Namanya #TeamKurangPiknik. Lebih lanjut lagi Erlinda menjelaskan masalah pencabulan anak dan hukumnya menurut KUHP.

Oke sekarang kita bahas. Jika yang diacu oleh Bu Erlinda adalah kasus Saipul Jamil misalnya, Ibu Erlinda harus belajar ilmu psikologi atau minimal cari di Google mengenai bedanya homoseksual dengan pedofilia. Apa itu child molestry dan pelecehan seksual. Pedofilia banyak terjadi bukan hanya di kalangan homoseksual, tapi juga di kalangan heteroseksual. Jadi misalnya jika ada kasus pelecehan dari seorang perempuan dewasa terhadap anak kecil laki-laki, itu juga namanya pedofilia. Kasus seperti ini banyak. Coba periksa data kepolisian.

Saya tidak akan jelaskan panjang lebar mengenai bedanya homoseksual dengan pedofilia karena makan tempat bukan bidang keilmuan saya dan saya juga mengetahui dasar-dasarnya saja. Itupun dasarnya bangettt. Maka  kesimpulan saya cuma satu: Bu Erlinda kurang piknik!

  1. Kemenristek M. Nasir: LGBT Dilarang Masuk Kampus!

“Pelarangan saya terhadap LGBT masuk kampus harus ditanggapi secara objektif!” begitu pernyataannya dalam akun Twitter nya pada Senin (25/1).

Namun belakangan ia meralat di Twitter,

“10. Larangan sy terhadap LGBT masuk kampus apabila mreka melakukan tindakan yg kurang rerpuji seperti bercinta atau pamer kemesraan dikampus”.

Pak, yang benar saja. LGBT mau bermesraan di ruang publik? Tidak bermesraan saja mereka sudah terancam FPI, apalagi kalau bermesraan?

Kicauan Pak Menteri ini dilatarbelakangi aktifitas kawan-kawan SGRC UI (Support Group and Resource Center on Sexuality Studies Universitas Indonesia) yang haus terhadap ilmu dan mengkaji gender dan seksualitas (Kak Ferena, my heart with you!). Maka saya berani katakan bahwa tuduhan yang mengatakan SGRC UI adalah klub orgy homo dan lesbi adalah fitnah yang ganjaran dosanya setara dengan membunuh 70 Nabi!

Apa salah jika SGRC UI menjadi tempat konseling alias curhat bagi mahasiswa LGBT yang tidak mendapat keberanian untuk coming out (melela) di keluarganya sendiri? Apa salah jika HIMAHI  Universitas Nasional menggelar seminar LGBT dalam perspektif globalisasi? Apa salah jika kawan-kawan UIN Syarif Hidayatullah menggelar screening film dokumenter tentang transgender untuk kemudian mereka lebih mengenal saudara kita, kelompok waria yang juga bagian dari bangsa Indonesia ini?

Kampus sebagai laboratorium mahasiswa adalah tempat bertanya, meneliti dan mencari jawaban yang dapat mencerahkan setiap insan. Jika di kampus pun mahasiswa dilarang untuk berpikir kritis terutama terhadap isu yang masih tergolong tabu bagi masyarakat Indonesia, apa gunanya kampus?

  1. Ryamizard Ryacudu: LGBT Lebih Berbahaya dari Nuklir!

Saya menaruh tokoh yang satu ini di bagian akhir, karena memang dia tidak mau ketinggalan dalam menanggapi LGBT dengan komentar yang bombastis.

LGBT bagian dari proxy war yang harus diwaspadai.” Lebih lanjut, “Kalau perang proxy, tahutahu musuh sudah menguasai bangsa ini. Kalau bom atom atau nuklir ditaruh di Jakarta, Jakarta hancur tapi Semarang tidak hancur. Tetapi, kalau perang modern, semua hancur. Itu bahaya.” Tandasnya pada Selasa (23/2).

Ya, gitu deh. Sisa-sisa rezim Orba yang gemar menguasai publik melalui penyebaran rasa takut. I mean, WOW! Karena walaupun Indonesia belum mumpuni untuk memiliki rudal nuklir, ternyata bangsa ini memiliki kaum LGBT yang tergolong makhluk berbahaya sejenis mutan yang bisa diberdayakan oleh negara untuk menyerang dan menguasai negara lain.

Saat semester enam, saya mengambil mata kuliah Strategi dan Keamanan dalam Politik Internasional kelas Pak Robi Nurhadi. Saya masih ingat betul bahwa dalam proxy war atau perang yang melibatkan pihak ketiga, keempat dan seterusnya sehingga tidak  terlalu kentara (contoh perang dingin Soviet–AS) biasanya dilakukan juga oleh non state actor yang didanai oleh pihak asing. Berapa, sih, kucuran dana asing ke LSM-LSM LGBT? Dari UNDP saja (saya pernah bekerja di UNDP jadi saya tidak asal omong seperti media-media syar’i)  yang tergolong wah, hanya berkisar tiga milyar (bukan ratusan milyar yaa, seperti disebut media-media syar’i) itupun untuk tiga tahun tok. Angka ini tentunya sangat kecil sekali dan minim, bahkan faktanya dana tersebut hanya cukup untuk memfasilitasi pelatihan keterampilan, peningkatan kapasitas dan kecakapan dalam berorganisasi.

Jika pun ada dana asing, itulah tabiat negeri ini. Apa-apa yang dari asing selalu diasosiasikan dengan Yahudi, Amerika, IMF, PBB, Zionis. Padahal negara kita juga menerima dana-dana segar dari teluk (baca: Arab Saudi dan sekitarnya). Pertanyaannya, ke mana larinya dana-dana tersebut? Ke ormas-ormas pendukung khilafah mungkin? Who knows, right? Yang seperti ini apa juga kalau bukan proxy war?

LGBT sebagai proxy war atau ada yang bilang juga perang asimetris, menurut saya tidak tepat. Selain kelompok LGBT di Indonesia ini sangat lemah dan rentan terhadap kekerasan yang diamini oleh negara, backingan LGBT di Indonesia tidak mengucurkan dana yang besar untuk kegiatan. Jadi pernyataan Bpk. Ryacudu mengenai LGBT sebagai upaya proxy war adalah salah besar dan tidak valid.

Pak menteri nggak usah menebar ketakutan dan prasangka ala Orde Baru ya, it’s so late centuries. Oh, dan satu lagi. Saya nggak akan ikut bela negara, karena konsep tersebut berwawasan sempit dan kaku dalam konteks gender.

Dari komentar-komentar dan pembahasan di atas, dapat kita lihat betapa masyarakat yang masih menabukan hal-hal yang sebenarnya penting seperti gender dan seksualitas, rawan mengalami pembodohan dan politisasi di kemudian hari. Memang, urusan selangkangan selalu menjadi komoditas paling ampuh untuk mengaburkan isu-isu penting (seperti pelemahan KPK, misalnya). Jadi saya tidak terlalu kaget ketika pemberitaan LGBT ini mencuat hingga satu bulan lebih, seakan-akan tidak ada hal lain yang lebih urgent untuk diurusi oleh bangsa ini.

Penerimaan dan penolakan adalah suatu keniscayaan yang akan selalu ada di manapun. Tidak apa-apa jika banyak yang menolak LGBT sebagai bagian dari bangsa Indonesia, walaupun alangkah baiknya jika kita semua saling merangkul dan membicarakan bagaimana caranya agar bangsa Indonesia dapat menjelajahi planet Mars.

Namun tentu para tokoh masyarakat yang mencibir LGBT harus mulai berterimakasih, karena komputer yang mereka gunakan untuk  bekerja mengabdi kepada negeri adalah hasil temuan seorang gay jenius, Alan Turing. Para pembesar negeri juga harus berterimakasih karena batik-batik cantik yang mereka gunakan untuk acara resmi banyak pula dirancang oleh para desainer kenamaan yang juga LGBT. Stop juga makan ayam di KFC, nongkrong dan WiFi-an gratis di McD, memakai produk olahraga dari Nike, foto-foto selfie kekinian ala instagram di Perancis dan kuliah di Australia atau negara-negara lain yang memanusiakan LGBT. Stop juga menonton klub-klub sepakbola kesayangan anda berlaga karena mereka sangat menghargai dan mendukung para supporternya yang LGBT, seperti Liverpool dan Arsenal contohnya.

Adalah mudah untuk membenci, tanpa harus berpikir secara kritis mengenai apa yang sesungguhnya mereka benci. Banyak di negeri ini orang berteriak-teriak mengenai ketuhanan, sila pertama Pancasila. Mungkin mereka lupa bahwa Tuhan tidak menciptakan sesuatu yang cacat, bahwa semua ciptaan Tuhan adalah paripurna. Mungkin mereka lupa bahwa sila pertama diikuti oleh sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, agar orang Indonesia tidak hanya pintar mengaji, melakukan sholat atau menenteng Rosario kemanapun, tetapi juga harus memanusiakan sesama manusia, tidak mengesampingkan hablumminannas. Mungkin mereka lupa, bahwa kebebasan berorganisasi, berekspresi dan menyerukan hak kelompok LGBT dilindungi oleh konstitusi pasal 28E. Yeay!

*Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Nasional. Meminati isu LGBT dan HAM. Gemar memasak, menyanyi dan mendiskusikan seksualitas. Ia dapat dijangkau di Twitter via @teukuramzyfzy atau instagram, @schmidtram.

About the author

Zine sosbudpol yang terbit sejak November 2015. Setahun kemudian merambah online. Bergerak bersama menarasikan zaman: narasi perubahan.