Selain hari Kemerdekaan Indonesia, bulan Agustus juga merupakan bulannya ASEAN. Ya, tepat pada tanggal 8 Agustus, ASEAN memperingati hari jadinya yang ke-50. Golden anniversary.

Pada perayaan kali ini barangkali menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali kehadiran ASEAN sebagai organisasi regional. Banyak isu yang mendapat perhatian kalangan luas, baik pemerintah, akademisi hingga masyarakat.

ASEAN telah mengalami jalan panjang dan berliku. Pasang surut tantangan dan ujian sedikit banyak telah dijawab meskipun belum memuaskan. Sekarang apa? Ke mana ASEAN perlu mengarahkan kompas pelayarannya?

Lima dekade lalu, lima negara Asia Tenggara; Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand membuat janji setia tentang pendirian sebuah organisasi regional melalui Deklarasi Bangkok. Pada mulanya ASEAN dibentuk sebagai wadah untuk percepatan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pembangunan budaya di wilayah Asia Tenggara dengan semangat persamaan dan kesetaraan. Kini sepuluh negara telah bergabung dengan total populasi lebih dari 620 juta.

Hingga hari ini, tampaknya masih banyak masyarakat yang belum tahu tentang ASEAN. Hal ini dibuktikan dari data yang dihimpun oleh ASC UGM pada 2014, yang mana sebanyak 65% masyarakat Yogyakarta mengaku belum pernah mendengar kata “ASEAN”. Tentu mengherankan, jika kota seperti Jogja saja masih banyak yang belum mendengar ASEAN, bagaimana kabarnya dengan kota-kota kecil di pelosok Indonesia, Vietnam, Kamboja, dll, dst. Ini menyiratkan bahwa ASEAN sebagai institusi masih terkesan elitis, belum membumi. Selama ini ASEAN hanya dipahami sebagai medium diplomasi pejabat tinggi negara dalam mengaktualisasikan kebijakan luar negerinya. Maka akan sulit untuk menerapkan kebijakan yang people-oriented. Massa rakyat merasa tidak memiliki ASEAN, lha wong kenal saja tidak, bagaimana harus memiliki?

Maka dari itu, perlu ada rumusan identitas kolektif yang merangkul ASEAN. Asia Tenggara diberkahi dengan keberagaman budaya. Membangun identitas kolektif akan mengubah cara pandang kita terhadap ASEAN ke depan. Selama ini banyak orang yang tidak tahu apa kinerja ASEAN. Selama ini kita hanya mengenal ASEAN sepintas lalu tanpa memikirkan bagaimana peran ASEAN dalam lingkup komunitas lokal. Maka dari itu perlu ada rumusan kembali mengenai identitas kolektif ASEAN, bukan hanya di level negara tetapi di level lokal. Perlu ada ASEANisasi.

Selain tugas negara, saya pikir agen pembentukan identitas kolektif ini bisa disematkan kepada anak muda. Anak muda di ASEAN mayoritas sudah melek teknologi. Akses mereka terhadap internet merupakan yang terbesar di dunia. Maka ruang digital akan efektif dan efisien untuk berinteraksi sebagai warga ASEAN. Misalnya saja pemanfaatan media sosial (Facebook, Instagram, Twitter, dll), bukan hanya digunakan sebagai media mengujar kebencian atau masturbasi selera, tapi juga bisa menjadi media interaksi sosial yang konstruktif.

Bentuk komunikasi ini diharapkan menjadi semacam upaya baru untuk membangun sebuah solidaritas bersama seperti yang didengungkan dalam KTT Bali 1976; Mempromosikan sebagai satu komunitas Asia Tengara, yang mana hal itu ditandai dengan rasa memiliki, mengonsolidasikan kesatuan dalam keragaman, dan meningkatkan rasa pengertian di antara negara anggota tentang kebudayaan, sejarah, agama, dan peradaban.

Selain identitas ASEAN, perlu diperhatikan pula integrasi ekonomi, yang selama ini nampak menjadi main core ASEAN.

Saat ini, ASEAN merupakan kekuatan ekonomi terbesar keenam di dunia. Pada 2030 nanti, ASEAN diproyeksikan akan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat setelah Uni Eropa, AS, dan Cina, berdasarkan World Economic Forum. Pencapaian pertumbuhan ekonomi negara anggota seperti Indonesia, Vietnam, Malaysia, Thailand, Malaysia juga menunjukan catatan impresif dalam dekade terakhir. Sebagai negara dengan pendapatan menengah, tentu ini menggembirakan bagi ASEAN.

50% dari sekitar 620 jta penduduk ASEAN kini menikmati status sebagai kelas menengah ngehe dengan daya beli kuat. Pangsa pasar yang besar turut menyumbang angka-angka kemajuan ekonomi ASEAN saat ini. Sayangnya, ukuran tersebut bukan menjadi jaminan bagi kemajaun ekonomi yang bekelanjutan. Mengandalkan segi konsumsi, industri manufaktur, dan investasi tidak menjamin bagi ASEAN untuk keluar dari zona middle income trap.

Middle income trap ini turut menjadi akar bagi persoalan ekonomi yang dialami oleh ASEAN, contohnya Indonesia. Dikatakan bahwa ekonomi selalu tumbuh positif namun hal ini tidak dapat dirasakan oleh masyarakat. Bahwa pemerintah tidak bisa bersandar pada tingginya tingkat konsumsi dimasyarakat. Alih-alih pertumbahan, ini merupakan stagnansi di tengah kelesuan ekonomi dunia. Karena selama ini sistem ekonomi yang diterapkan hanya mengandalkan keunggulan komparatif rendah dan tenaga kerja kurang terampil.

Ketimpangan ekonomi juga terasa di antara negara-negara ASEAN. Di wilayah ini terdapat negara dengan pendapatan terbesar di dunia, yakni Singapura. Namun di sisi lain juga masih menyisakan negara dengan ekonomi relatif rendah seperti Kamboja dan Myanmar. Ketimpangan ini perlu segera diatasi oleh pengambil kebijakan ASEAN. Memang sudah ada skema ASEAN Economic Community (AEC), tapi saya rasa itu tidak cukup untuk menjawab tantangan dalam sektor ekonomi.

AEC mendapat antusiasme tinggi ketika diterapkan pada 2015, namun sayangnya hingga saat ini belum ada dampak yang cukup dirasakan oleh warga ASEAN. Karena tampaknya AEC tidak mampu menjawab middle income trap. Jika hal ini tidak segera dijawab, dikhawatirkan persoalan ini akan berlarut hingga ASEAN tidak mampu bersaing di skala skala global.

Untuk keluar dari zona ini perlu ada inovasi di bidang ekonomi. Jika sebelumnya ekonomi ASEAN hanya mengandalkan low cost comparative advantages, maka ASEAN perlu melangkah lebih maju dalam hal inovasi teknologi lanjutan. Pembangunan sumber daya manusia yang bermutu juga dapat menjadi modal penting bagi pertumbuhan ekonomi ke depan. Bayangkan saja, saat ini investasi Indonesia di bidang research and development hanya 0,1% dari GDP. Jika alokasi investasi ini bisa ditingkatkan, misalnya seperti Korea Selatan diangka 4,4%, mungkin Indonesia bisa bermimpi membangun perusahaan sekelas Samsung atau Hyundai.

Selanjutnya, selama ini pembahasan-pembahasan di ASEAN didominasi oleh integrasi ekonomi dan politik. Integrasi ekonomi dan politik menurut saya tidak cukup untk menjawab tantangan ASEAN dalam dinamika sosial ke depan. Arus globalisasi dan teknologi yang semakin deras, menuntut agar ASEAN bisa beradaptasi dengan kehidupan sosial masyarakatnya. Integrasi sosial menjadi penting untuk mempromosikan ASEAN ketingkat lokal. Hal ini sejalan dengan topik pertama yang saya katakan diatas.

ASEAN telah menandatangi ASEAN Community 2015, di mana salah satu tujuannya adalah people-oriented dan people-centered. Harus ada pergeseran kebijakan yang selama ini state-centric. Keterlibatan masyarakat – yang memuat komunitas dan individu – adalah sebuah keniscayaan di era digital seperti saat ini. Kita membayangkan bahwa kini batas-batas negara sudah begitu kabur, dan aktivitas-aktivitas manusianya sudah begitu kompleks dan saling terkait satu sama lain.

ASEAN tampaknya perlu mempertimbangkan konsep paradiplomacy, atau parallel diplomacy. Sebuah konsep diplomasi yang menggunakan subnegara sebagai agen diplomasi, misalnya kota, provinsi, atau daerah otonom. Penyebaran ini akan memberikan dampak yang cukup luas bagi mengeratkan hubungan antar negara. Dan juga, paradiplomacy dapat menguatkan kualitas demokrasi dan tidak terkesan elitis dengan mendekatkan pembuatan kebijakan kepada masyarakat.

ASEAN kini sudah 50 tahun, sebagai aktor internasional ia dalam masa keemasan dimana pengalaman dan kiprah selama ini menjadi bekal penting untuk berpikir untuk 50 tahun ke depan. ASEAN perlu constructive engagement dengan berupaya terus berdialog secara bertahap dan komprehensif. Pendekatan diplomasi nonkonfrontasi penting agar tetap menjaga ikatan kepercayaan dan solidaritas di antara negara-negara anggota yang selama ini tampak terbelah.

Selamat ulang tahun, ASEAN! ♦

About the author

Lulusan Hubungan Internasional. Pernah menjadi Abang Buku DKI Jakarta. Penikmat kopi, sastra, sepak bola, dan belakangan suka fotografi. "Verba volant scripta manent" - Caius Titus

Related Posts